Biografi Muhammad Al-Fatih (Penakluk Konstantinopel)


Muhammad Al-Fatih menjadi salah satu tokoh idola di Indonesia dan dunia, atas kegigihan dan perjuangan menaklukan kota Konstatinopel seringkalai dihubungkan dengan spirit kebersatuan yang mempu mengalahkan segala bentuk ketidakadilan (kedzoliman). Oleh karena itulah pada tulisan ini akan mengulas tentang biografi Muhammad Al-Fatih sang penakluk kota Konstatinopel.

Biografi Sultan Muhammad Al-Fatih


Sultan Muhammad II. Atau bernama asli Sultan Mehmed II. Atau dikenal juga sebagai Sultan Muhammad Al-Fatih (Fatih Sultan Mehmet;bahasa turki). Beliau dilahirkan pada tanggal 29 Maret 1429 M di Adrianapolis (Perbatasan Turki-Bulgaria). Beliau bertahta di usia yang terbilang masih belia, yakni 19 tahun dan beliau memerintah dalam kurun waktu 30 tahun sejak tahun 1451-1482 M. Julukan Al-Fatih beliau terima sebab dari artinya adalah Sang Pembuka/Penakluk. Dan beliau juga menerima julukan Abu Al-Khairat atau Orang yang Suka Berbuat Kebaikan. Selengkapnya, baca; Fakta Muhammad Al-Fatih dan Teladan Yang Harus Kita Amalkan

Beliau menerima estafet kepemimpinan Daulah Utsmaniyah sepeninggal ayahandanya yakni Sultan  Murad II pada tanggal 16 Muharram tahun 855 H atau bertepatan pada tanggal 18 Februari tahun 1451 M. Atau pada usia Sultan Muhammad Al-Fatih yang ke-19 tahun.

Beliau dikenal sebagai Sultan yang kuat, adil, pemberani, tawadhu’ dan tekun beribadah kepada Allah Swt. Beliau juga dikenal sangat perhatian kepada rakyat dan bala tentaranya. Sejak menginjak masa puber, beliau berhasil mengungguli teman-teman sebayanya bahkan orang-orang dewasa dalam bidang keilmuan. 

Beliau sejak kecil melalui proses pendidikan secara intensif di bawah penanganan ulama’ termuka pada masa itu. Diantara guru beliau adalah Muhammad bin Ismail Al-Qourani Al-Kurdi. Dari bimbingan gurunya tersebut, Muhammad belajar dengan giat dan hafal Al-Qur’an di usia dini.

Dalam pengawasan ayahandanya, Sultan Murad II, mengantarkan para ulama’ terkemuka untuk mendidik Muhammad. Namun beliau, Muhammad menolaknya. Hingga akhirnya ayahandanya mengantarkan Asy-Syeikh Al-Kurani dan memberikan keleluasaan untuknya agar memukul Muhammad jika ia membantah gurunya.

Sultan Muhammad Al-Fatih dalam sejarah penaklukan Konstantinopel juga belajar berbagai macam displin keilmuan dari gurunya, Syekh Aaq Syamsuddin (Samsettin). Gurunya bernama asli Muhammad bin Hamzah Ad-Dimasyqi Ar-Rumi, nasab keilmuan gurunya sampai kepada Sayyidina Abu Bakar As-Shiddiq Ra. Gurunya mengajarkan Sultan Muhammad ilmu-ilmu agama seperti ilmu Qur’an, hadith, Fiqih, bahasa (Arab, Persia, dan Turki), matematika, falak, sejarah, ilmu peperangan dan sebagainya.

Dari gurunya inilah Sultan Muhammad mendapatkan keyakinan bahwa ia merupakan seorang Amir yang telah di prediksi oleh Rasulullah SAW. Yaitu Sang Penakluk Konstantinopel. Gurunya ini, Syeikh Aaq Syamsuddin bukan hanya pakar keilmuan agama saja namun beliau juga sebagai pakar bidang pengobatan. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Imam As-Syaukani.

Menurutnya, Syeikh Aaq Syamsuddin Adalah seorang pakar dokter bagi hati dan juga seorang dokter bagi tubuh, karena hal inilah Sang Syeikh tersebut tersohor dan mucullah keutamannya.

Sejak keci Sultan Muhammad Al-Fatih sangat mencermati usaha-usaha ayahandanya untuk menaklukkan Konstantinopel. Bahkan beliau juga mencermati usaha-usaha umat Islam masa dahulu. Sehingga muncullah keinginan kuat beliau untuk meneruskan cita-cita mulia umat Islam tersebut. Ketika beliau naik tahta pada tahun 855 H/1451 M, beliaupun mulai memikirkan cara ataupun startegi untuk meruntuhkan Kota Konstantinopel tersebut tadi.

Firasat Para Ulama’ Tentang Sultan Muhammad Al-Fatih

Dalam suatu kesempatan, Syeikh Bayram pernah berkata jika berkeinginan menawan Kota Konstantinopel, maka perlu untuk memastikan terlebih dahulu tentara dan rakyat. Ketika dua elemen ini baik dan pemimpinnya baik, maka barulah dapat dipastikan kita mampu merealisasikan hadith Rasulullah SAW. Baca, juga; Biografi Nabi Muhammad dan Islam

Seperti itu pernyataan Syeikh kepada Sultan Murad II. Sultan Murad II pun sedikit terkejut dan membenarkan hal tersebut. Syeikh Bayram pun mengatakan kepada Sultan bahwa menurut firasat yang beliau peroleh dari Allah SWT, bukanlah Sultan Murad yang mampu menawan Konstantinopel tetapi putera Sultan lah yang akan melakukannya.

Ketika itu Sultan Murad terkejut sebab beliau saat itu belum memiliki anak. Dan Syeikh Bayram meyakinkan kelak Sultan akan memperoleh seorang anak yang baik dan sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Rasulullah SAW.

Syeikh Aaq Syamsuddin mengatakan dalam khutbahnya di hadapan Sultan Muhammad Al-Fatih dan pasukannya bahwa Rasulullah pernah bersabda bahwa akan hadir dalam sejarah umat Islam seorang pemimpin yang terbaik dan pasukan yang berada dalam kamandonya pun adalah pasukan terbaik sepanjang sejarah Nabi Muhammad S.A.W dan Islam.

Dan beliau pun melanjutkan khutbah dengan berdoa agar Allah memberikan Taufiq dan ampunan dosa kita, serta menjadikan sebaik-baik pemimpin dan sebaik-baik pasukannya Sultan Muhammad adalah pasukan yang disabdakan oleh Nabi Muhammad.

Proses Penyerangan Ke Konstantinopel

Tepat pada hari Jum’at, 6 April 1453 M, Sultan Muhammad II bersama gurunya, yakni Syeikh Aaq Syamsuddin, berserta tangan kanan Sultan, yakni Halil Pasha dan Zaghanos Pasha melakukan perencanaan penyerangan ke Konstantinopel ke berbagai penjuru benteng kota tersebut.

Dengan dibekali 250 ribu pasukan dan meriam teknologi baru pada masa itu. Para pasukan diberikan latihan intensif dan selalu diingatkan akan pesan Rasulullah SAW terkait pentingnya penawanan Konstantinopel bagi kejayaan Islam.

Kemudian Sultan Muhammad II atau Muhammad Al-Fatih mengirim surat kepada Paleologus untuk masuk Islam atau menyerahkan kekuasaan kota secara damai dan membayar upeti atau pilihan terakhir adalah perang. Namun Penguasa saat itu yakni Constantine menjawab akan tetap mempertahankan kota dengan dibantu Kardinal Isidor, Pangeran Orkhan dan Giovani Giustiniani dari Genoa.

Dari penolakan tersebut, Sultan Muhammad Al-Fatih melakukan persiapan dengan teliti nan cermat. Akhirnya pasukan Sultan Muhammad Al-Fatih tiba di Konstantinopel pada hari Kamis, 26 Rabiul Awal 857 H atau 6 April 1453 M.

Di hadapan pasukannya tersebut, Sultan Muhammad berkhutbah mengingatkan tentang keutamaan jihad, memuliakan niat dan harapan kemenangan di hadapan Allah SWT. Beliau juga membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an terkait dan itu.

Tidak lupa beliau juga mejelaskan tentang hadith Rasulullah SAW tentang pembukaan kota Konstantinopel. Dari khutbahnya dan penjelasan beliau, mampu membangkitkan semangat yang tinggi para pasukan. Kemudian para pasukan menyambut khutbah beliau dengan dzikir, pujian dan kepada Allah SWT.

Kota Konstantinopel memiliki benteng 10 meter. Benteng tersebut jelaslah sulit untuk ditembus. Terlebih lagi sisi luar benteng dilindungi parit sedalam 7m. Dari arah barat pasukan harus secara langsung berhadapan dengan pasukan artileri dan harus membobol benteng dua lapis.

Dari arah timur armada laut pasukan Sultan Muhammad Al-Fatih harus masuk ke selat sempit, Golden Horn yang sudah dilindungi dengan rantai besar, sehingga kapal berukuran kecil ataupun besar sulit untuk melewatinya. Dari arah selatan Laut Marmara, pasukan laut Turki harus berhadapanlangsung dengan pasukan laut Genoa, pimpinan Giustiniani.

Trik atau Strategi Sultan Muhammad Al-Fatih

Sebetulnya trik yang Sultan Muhammad Al-Fatih gunakan adalah trik yang terkesan tidak masuk akal atau bahkan terdengar bodoh yang beliau laksanakan dalam waktu semalam. Ide beliau ini muncul ketika beliau meyadari bahwa terdapat salah satu pertahanan yang agak lemah, yakni selat kecil, Golden Horn yang sudah dilindungi rantai besar.

Ide tersebut akhirnya beliau lakukan yaitu dengan memindahkan kapal-kapal melalui darat untuk menghindari rantai penghalang. Dan ajaibnya, rencana ini dapat terlaksana dengan baik hanya dalam waktu semalam.

Kemudian kapal-kapal bisa memasuki wilayah daratan Teluk Golden Horn. (Ide ini adalah ide tergila yang diakui dunia. Ide tergila masa itu, namun taktik ini diakui sebagai satu diantara taktik peperangan (War Strategy) terbaik di dunia.

Dan yang mengakui hal tersebut sebagai taktik terbaik adalah para sejarawan Barat sendiri). Bahkan salah seorang sejarawan Barat menyebut taktik perang Sultan Muhammad ini sebagai taktik yang mengungguli taktik Al-Iskandar Al-Akbar.

Selanjutnya Sultan Muhammad membangun bentang kuat di sekitar pinggiran kota Konstantinopel sembari mempersiapkan startegi berikutnya. Setelah itu, beliau terus menggempur pertahanan dan lautan Konstatinopel siang dan malam tanpa henti. Sehingga lemahlah pertahanan musuh. Akhirnya pasukan Sultan Muhammad mampu mengepung kota tersebut dari berbagai sisi. 

Berhari-hari hingga berminggu-minggu benteng Byzantium tak mampu untuk diruntuhkan. Kalaupun ada celah maka pasukan musuh akan langsung mempertahankan dan menutupnya kembali. Berbagai usaha terus dicoba oleh Sultan Muhammad.

Dengan menggali terowongan di bawah benteng di berbagai tempat yang menembus dalam kota. Usaha ini menemui kesulitan sebab mudah bagi pihak musuh untuk mencium pergerakan ini. Ketika sebagian pasukan sudah mampu menembus terowongan dan masuk ke jalur kota, maka dengan segera pasukan musuh membom terowongan itu hingga sebagian pasukan Sultan tersebut terkubur di dalam terowongan.

Tidak sedikit pasukan yang meninggal di dalamnya. Namun diakui bahwa usaha tanpa henti ini mampu membuat pasukan musuh panik bukan main, sampai pihak musuh merasakan ketakutan dan mereka merasa sedang berkhayal bahwa mendengar langkah kaki pun seakan mendengar usaha pasukan Sultan menerobos benteng.

Dan pasukan musuh pun khawatir bahwa akan muncul secara tiba-tiba pasukan Sultan. Pasukan musuh merasa mereka sedang mabuk tapi sebenarnya tidak mabuk, karena ketakutan dan kekhawatiran dari teror yang terus dilancarkan Sultan Muhammad.

Kemudian Sultan Muhammad membuat strategi unik lagi untuk menyerang pasukan musuh yaitu dengan membuat benteng dari kayu, berbentuk tiga sudut putaran tinggi dan dapat bergerak. Bentengnya dilapisi baja yang basah agar terhindar dari panasnya api dari pelontar api musuh. Bagian atas benteng terdiri dari pemanah dan pasukan lain berada di tiap sudut benteng buatan tersebut.

Pertempuran pun terjadi tanpa dapat lagi dielakkan. Berhari-hari perang dahsyat terjadi. Sembari perang Sultan Muhammad terus memberikan semangat jihad kepada para komando perangnya. Bahwa ini adalah jalan yang akan membanggakan diri kita, menurut Sultan inilah salah satu rekomendasi sesuai mu’jizat Nabi Muhammad SAW. Beliau berpesan agar berita membanggakan ini disampaikan kepada sanak keluarga para prajurit nanti. Kemenangan Agung ini akan semakin menambah kemuliaan Islam di mata dunia kelak.

Akhirnya hasil dari perang ini pun mulai mucul, tepatnya pada hari selasa, tanggal 20 Jumadil Ula tahun 857 H atau bertepatan pada tanggal 29 Mei 1435 M, pukul 01 dinihari, Pasukan Sultan Muhammad terus mengepung dan melakukan penyerangan.

Kemudian Sultan menyerukan kepada para Mujahidin agar terus mengumandangkan dengan lantang takbir, kalimat tauhid sembari menyerang kota musuh. Alhasil usaha tentara Utsmaniyah menemui titik terang menembus kota Konstantinopel melalui pintu Edirne. Hasil nyata kesungguhan prajurit Daulah Utsmaniyah ini didapat dengan semangat pantang menyerah dan semangat juang yang tinggi.

Hingga akhirnya bendera Daulah Utsmaniyah atau bendera Islam mampu dikibarkan di puncak tertinggi kota. Cita-cita mereka semua termasuk Sultan pun dapat terwujud nyata sebagai bentuk nyata dari hadith Nabi Muhammad.

Beliau, Sultan Muhammad kemudian mengucapkan selamat kepada para tentaranya dan beliau menegaskan agar jangan sampai membunuh para tawanan. Beliau kemudian bersujud syukur kepada Allah SWT dan tanpa menyombongkan diri sedikitpun di hadapan-Nya.

Selanjutnya beliau langsung menuju ke gereja Aya Sofya/Hagia Sohia. Yang mana gereja itu merupakan tempat berlindung bagi sebagian besar penduduk kota. Ketakutan pun menghampiri para penduduk saat itu, ketika Sultan membuka pintu gereja.

Kemudian ada salah seorang penduduk yang diminta Sultan untuk menenangkan para penduduk lain. Dengan menjunjung rasa toleransi dan kasih sayang yang tinggi, alhasil banyak penduduk yang sedang bersembunyi kemudian keluar dari persembunyiannya. Banyak dari penduduk kota yang kemudian langsung menghadap Sultan untuk menyatakan keislaman mereka.

Selanjutnya, Sultan Muhammad Al-Fatih memberikan pengarahan agar gereja diubah menjadi masjid supaya Jum’at pertama nanti dapat dilaksanakan shalat di masjid tersebut. Para penduduk diminta menaanggalkan salib, patung-patung, dan gambar-gambar yang terdapat di gereja.

Pada hari Jum’at, Sultan Muhammad bersama kaum Muslimin kota tersebut mendirikan shalat Jum’at di Masjid Aya Sofya. Dan pada hari itu juga Sultan Muhammad Al-Fatih bersumpah bahwa barangsiapa yang berani merubah Masjid Aya Sofya mnjadi gereja lagi maka yang bersangkutan akan memperoleh laknat dan azab dari Tuhan Masjid tersebut, yakni Allah SWT.

Setelah itu, Sultan membebaskan Serbia tepat tahun 1460 M, Bosnia pada tahun 1462 M, Italia, Hungaria, dan Jerman. Di masa jayanya, Sultan Muhammad Al-Fatih memerintah 25 negeri. Kemudian Sultan berencana untuk melakukan pembebasan terhadap Rhodesia.

Namun sangat disayangkan sekali, rencana mulia beliau tersebut tidak terlaksana. Sebab, Sultan Muhammad meninggal dunia karena diracun oleh seorang yahudi bernama Maesto Jakopa. Beliau, Sultan Muhammad Al-Fatih meninggal pada 3 Mei 1481 M diusia 49 tahun.

Untuk mengenang jasa beliau, dibangunlah sebuah masjid dengan nama Masjid Al-Fatih di sebelah makam beliau. Sebelum beliau, Sultan Muhammad Al-fatih meninggal, beliau mampu menemukan makam salah seorang sahabat Nabi, yaitu Abu Ayyub Al-Anshari. Kemudian beliau memugar makam sahabat tersebut dan membangun sebuah kubah di atas makam Abu Ayyub serta dibangunlah masjid di sebelah makam Abu Ayyub.

Demikianlah rangkaian penjelasan tentang biografi Muhammad Al-Fatih sang penahluk Kota Konstantinopel. Semoga tulisan ini bisa memberikan wawasan dan juga menambah kecintaan pembaca pada tokoh-tokoh Islam di dunia. Trimakasih, 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Biografi Muhammad Al-Fatih (Penakluk Konstantinopel)"

Posting Komentar