Sejarah Penaklukan Konstantinopel oleh Muhammad Al-Fatih


Prosesi singkat tentang penaklukan Kota Konstantinopel dari awal hingga akhirnya secara gamblang telah dimulai pada sejarah Nabi Muhammad SAW. Hal ini mengindikasikan tentang peranan pentingnya kekuasaan daerah tersebut, yang pada saat ini dikenal sebagai nama Istambul, Turki.

Penaklukan Konstantinopel


Sejarah tentang penaklukan konstantinopel yang pada faktanya oleh Sultan Muhammad Al-Fatih ini begitu fenomenal bagi kalangan umat Islam dan sejarah peradaban dunia. Hal ini pada dasarnya sudahlah dimulai sejak terjadinya pujian Nabi Muhammad kepada sosok penahluknya. Baca Juga; 10 Fakta Muhammad Al-Fatih dan Teladan Yang Harus Kita Amalkan

Pujian Nabi Muhammad SAW Kepada Sang Penakluk Kota Konstantinopel

Memang benar dialah yang sangat ditunggu kehadiran dan sepak terjangnya. Iya, Sang Penakluk Konstantinopel. Dinanti-nanti kehadirannya dalam sejarah masa itu. Para sahabat Nabi pun berlomba-lomba ingin menjadi seorang yang telah dipuji-puji Nabi Muhammad SAW tersebut dalam sabda-Nya.

Mengapa demikian? Sebab bagaimana tidak ingin dipuji oleh seorang panutan. Yang memang pujian dari Nabi adalah sebuah kebanggan tersendiri dan pasti Nabi benar-benar tidak berbohong atau tidak mungkin sedikitpun bercerita mengenai sebuah kebohongan besar terkait hal ini.

Serta dapat dipastikan lagi orang tersebut adalah kebanggan Nabi dan tidak mungkin Nabi tidak mendoakannya sama sekali. Sebab ibarat kekasih hati, apabila ia telah sukses membuat kita bahagia maka kita akan memujinya kemudian mendoakan segala kebaikan dan kesuksesannya dunia dan akhirat.

Penjelasan mengenai hal ini sudah sangat jelas diungkapkan dalam biografi Nabi Muhammad SAW yang memang benar-benar memuji sosok tersebut. Dalam suatu ketika Beliau bersabda: “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkan kota tersebut adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah kuasanya adalah sebaik-baik pasukan”. (H.R. Ahmad bin Hanbal, Al-Musnad 4/335)

Yang senada dengan hadith sebelumnya adalah diriwayatkan dari Abu Qubail, ia berkata: “Ketika kita bersama Abdullah bin Amr bin Al-Ash, dia ditanya: “Kota manakah yang akan terlebih dahulu dibuka/ditaklukan Islam? Konstantinopel atau Rumiyah?”.

Abdullah meminta kotak dengan lingkaran-lingkaran miliknya. Kemudian beliau mengeluarkan sebuah kitab, Abdullah berkata: “Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah SAW, beliau ditanya oleh salah seorang sahabat: Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu: Konstantinopel atau Rumiyah/Roma?”. Nabi kemudian menjawab: Kota Heraklius dibuka lebih dahulu””. Yaitu kota Konstantinopel. (H.R. Ahmad, Ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah dan Al-Hakim).

Terkait hadith yang pertama, hadith yang senada dengan hadith tersebut adalah hadith riwayat Al-Hakim dalam kitab Mustadraknya no. 8300. Beliau menilai hadith ini shahih. Pendapat Al-Hakim diikuti pula oleh Adz-Dzahabi dalam Talkhis Al-Mustadraknya, kemudian Ath-Thabari dalam Al-Mu’jam Al-Kabirnya:1216, Imam Al-bukhari juga menyebut dalam kitab beliau yakni kitab At-Tarikh Al-Kabir, Al-haitsami juga menyebutkan bahwa para perowi hadithnya adalah orang-orang yang Tsiqoh (Benar-benar terpecaya) dalam kitabnya yakni: Majma’Az-Zawaidnya: 10384. Imam As-Suyuthi menyebut hadith tersebut sebagai hadith yang shahih dalam kitab Al-Jami’ Ash-Shagirnya: 7227. Kemudian Ibnu Abdil Barr dalam kitabnya Al-Isti’abnya menyebut hadith ini hadith hasan.

Mengenai hadith yang kedua, hadith tersebut dishahihkan oleh Al-Hakim, kemudian Adz-Dzahabi sepakat dengan pendapat Al-Hakim. Sementara Abdul Ghani Al-Maqdisi berkata bahwa hadith ini adalah hadith yang hasan sanadnya.

Al-Albani dan Adz-Dzahabi adalah yang sepakat dengan pendapat Al-Hakim bahwa hadith ini adalah hadith shahih. Sebetulnya ada banyak polemik yang menyebut hadith ini dhaif oleh sebagian ulama’. Sebab mendasarnya adalah terkait majhul atau tidak terkenalnya Abdullah bin Bisyr Al-Ghanawi. Namun keluar dari perbedaaan tersebut dari banyak pendapat ulama’muhaditsin menyebut hadith ini shahih, baik dari segi sanadnya maupun rowinya. Wallahu a’lam bis shawab.

Percobaan Penaklukan Kota Konstantinopel

Sejak Nabi Muhammad SAW bersabda terkait Sang Penakluk kota tersebut, yakni akan datang atau hadir sebaik-baik pemimpin umat islam dan sebaik-baik pasukan yang dipimpinnya, maka para sahabat berkekinginan dan berharap mampu menaklukkan Konstantinopel.

Betapa tidak, sebagaimana seperti ulasan kami sebelumnya bahwa Rasulullah SAW sangat memuji Sang Penakluk Konstantinopel tersebut. Hingga pada masa sahabat dan tabi’in berharap dapat mewujudkan cita-cita tersebut dan benar-benar menjadi sosok tersebut.

Kota Konstantinopel

Konstantinopel adalah kota yang hari kita kenal sebagai nama Istambul, Turki. Dulu kota ini dikenal sebagai kota yang berada dibawah kekuasaan Byzantium. Byzantium adalah penganut Kristen Ortodoks. Dan daerah kekuasaan Byzantium ini merupakan salah satu pecahan dari kekaisaran Romawi. Dan pecahan yang lain adalah Katholik Roma di Vatikan.

Perpecahan kekaisaran Romawi menjadi dua wilayah ini muncul akibat konflik gereja yang terjadi di sana. Meskipun terpecah menjadi dua wilayah yang berbeda, namun dunia pada saat itu masih mengakui kedua wilayah ini sebagai pusat peradaban dunia pada masanya.

Konstantinopel yang saat ini menjadi Istambul tersebut memilih kota di selat Bosphorus sebagai ibukota. Alasannya adalah kota tersebut sangat strategis, berada di batas Eropa dan Asia. Baik di darat sebagai salah satu Jalur Sutera maupun di laut yakni berada di antara Laut Tengah dengan Laut Hitam. Di dasari atas hal ini dianggaplah letak ibukota Konstantinopel sebagai titik terbaik pusat peradaban dunia saat itu. Setidaknya dalam masa geopolitik masa itu. 

Banyak sekali yang hendak mengincar kota Konstantinopel ini dikarenakan nilai strategis lokasi kota ini. Yang termasuk hendak menguasai atau mengincar kota ini adalah bangsa Ghotik, Avars, Persia, Bulgar, Khazar, Rusia, Arab Muslim dan Pasukan Salib.

Meskipun misi awal Pasukan Salib adalah menguasai Jerussalem. Sedangkan Arab Muslim terdorong untuk mengincar kota ini adalah selain letak strategisnya, namun juga atas kepercayaan kepada ramalan Rasulullah SAW sesuai riwayat hadith di atas.

Usaha Penahlukan Kota Konstantinopel

Dalam sejarahnya usaha untuk menaklukan kota yang menjadi kebanggaan bangsa Romawi, Konstantinopel, tidak pernah ada yang mampu menaklukkannya. Baik dari kalangan sahabat, tabi’in, maupun dari kalangan Khilafah Bani Umayah dan Bani Abbasiyah tidak mampu untuk menggapai cita-cita besar tersebut.

Di masa sahabat, memang pernah ada pasukan muslim yang sudah sangat dekat dengan kota tersebut, bahkan sesuai dengan fakta sejarah salah satu pasukannya dikuburkan di seberang pantai kota tersebut, yaitu Abu Ayyub Al-Anshari Ra.

Namun sangat disayangkan sekali kota tersebut belum pernah jatuh ke tangan umat Islam sama sekali sampai kurun waktu 800 tahun lamanya. Konstantinopel memang merupakan kota yang sangat kuat, dan Sang Penakluk kota ini pastilah merupakan sosok yang sangat kuat pula. 

Sepanjang sejarah kota tersebut menjadi kota pusat peradaban barat, dimana yang berkuasa atas kota tersebut yakni Kaisar Heraklius. Kaisar Heraklius adalah penguasa Romawi yang hidup di zaman Nabi Muhammad SAW, dan pernah menerima ajakan langsung dari Nabi Muhammad SAW untuk masuk islam.

Berdasar kenyataan sejarah, Kota Konstantinopel merupakan kota yang istimewa. Bagaimana tidak, kota ini adalah kota yang termasuk ke dalam salah satu bandar termasyhur dunia. Tercatat dalam tinta emas sejarah Islam, khususnya pada masa Bani Utsmaniyah, ketika melakukan perluasan wilayah sekaligus melakukan pelebaran pengaruh Islam di banyak negara melalui bandar ini.

Bandar ini didirikan sejak tahun 330 M oleh Maharaja Byzantium yaitu Constantine I. Letak bandar yang strategis inilah, menjadikannya memiliki tempat istimewa ketika umat Islam memulai pertumbuhan di masa kekaisaran Byzantium.

Bahkan Rasulullah SAW juga telah beberapa kali memberikan kabar gembira terkait penguasaan kota ini ke tangan umat Islam. Seperti kabar gembira yang disampaikan Rasulullah SAW pada perang Khandaq.

Banyak sekali para pemimpin Islam yang mencoba untuk menaklukkan kota ini. Usaha pertama dilancarkan tahun 44 H pada zaman Mu’awiyah bin Abi Sufyan Ra. Namun usaha tersebut gagal. Selanjutnya dilakukan pada masa Khilafah Umayyah, namun tetap tak menemui kesuksesan. Di masa Khilafah Abbasiyyah usaha terus gencar dilakukan, tetapi masih menemui kebuntuan. Termasuk di zaman Khaifah Harun Ar-Rasyid tahun 190 H.

Setelah kejatuhan Baghdad tahun 656 H, usaha menaklukkan Konstantinopel terus dilakukan oleh kerajaa-kerajaan kecil di Asia Timur, Anatolia, terutama Kerajaan Seljuk. Pemipinnya adalah Alp Arselan berhasil mengalahkan Kaisar Roma, Dimonos (Romanus IV/Armanus) tahun 463 H/1070 M. Atas keberhasilan ini, maka sebagian besar wilayah Kekaisaran Roma takluk di bawah pengaruh Islam Seljuk.

Pada masa pemerintahan Daulah Utsmaniyyah melakukan kesepakatan bersama Seljuk. Kerjasama ini memberikan nuansa baru bagi umat Islam untuk menguasai Konstantinopel. Diawali pada zaman Sultan Yildirim Bayazid pada tahun 796 H/1393 M.

Peluang ini tidak disia-siakan oleh Sultan Yildirim Bayazid untuk memaksa Kaisar Byzantium untuk menyerahkan kekuasaan secara aman ke tangan Islam. Namun naasnya, kegagalan menghampiri ketika datang bantuan dari Eropa dan Islam diserbu oleh bangsa Mongol di bawah pimpinan Timur, Lenk.

Selepas Daulah Utsmaniyah mencapai perkembangan lebih maju dan terarah, semangat jihad untuk menguasai Konstantinopel muncul kembali. Mendorong Sultan Murad II (824-863 H/1421-1451 M) untuk kembali berusaha menaklukkan Konstantinopel.

Beberapa usaha berhasil dilakukan untuk mengepung kota ini tetapi terdapat pengkhianatan di tubuh Islam sendiri. Kaisar Byzantium dengan lihai menabur benih fitnah di tubuh umat Islam dan membuyarkan barisan umat Islam.

Sultan Muhammad Al-Fatih Penahluk Konstantinopel

Usaha tersebut tidak berhasil hingga masa pemerintahan pindah ke tangan anaknya, yakni Sultan Mehmed II (Sultan Muhammad Al-Fatih) yakni Sultan ke-7 Daulah Utsmaniyah. Terhitung baru abad ke-8 tahun 857 H/1453 M, kota dengan benteng tak tertembus atau benteng legendaris akhirnya runtuh juga di masa Sultan ke-7 Daulah Utsmaniyyah atau Turki Utsmani.

Demikianlah uraian singkat mengenai sejarah penaklukan Konstantinopel yang dilakukan oleh salah satu tokoh Idola di Indonesia dan Dunia. Semoga uraian ini bisa memberikan wawasan dan pemahaman kepada segenap pembaca sekalian. Trimakasih, 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sejarah Penaklukan Konstantinopel oleh Muhammad Al-Fatih"

Posting Komentar