Biografi Made Mangku Pastika (MP) dan Faktanya [LENGKAP]

FaktaTokoh.Com- Rangkaian tulisan ini memberikan penjelasan secara detail mengenai biografi salah satu tokoh Idola di Indonesia. Beliau adalah Made Mangku Pastika atau yang seringkali dikenal dengan MP. Oleh karena itulah secara lengkap beginilah biografi dan fakta yang ada di dalam kehidupan Made Mangku Pastika (MP).

Biografi Made Mangku Pastika (MP)


Made Mangku Pastika (MP)dilahirkan pada tanggal 22 Juni 1951, hari Jum’at Umanis wuku Kelau, di bawah pengaruh bintang Cancer dan Betara Sedana. Dilahirkan oleh seorang Ibu bernamaNi Nyoman Kinten dan ayah yang bernama I Ketut Meneng, seorang guru Sekolah Rakyat di Desa Musi,
Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng.

Ibunya adalah ketua Pergerakan Wanita Buleleng Barat, sedangkan ayahnya adalah seorang pejuang yang memulai perjuangannya di Desa Sangket, Kecamatan Sukasada. Alm. Ketut Menengberasal dari Desa Petemon, Kecamatan Seririt, sedangkan Ni Nyoman Kintenberasal dari Desa Pengastulan, Kecamatan Seririt.

Keduanya bertemu di Sanggalangit karena merupakan rekan seperjuangan dalam menegakkan kemerdekaanRepublik Indonesia.MP adalah putra keduadari 6 (enam) bersaudara. Ia menikah pada tahun 1977 dengan Made Ayu Putri,putri dari Bapak Wayan Gempluk (alm), seorang perwira Polri yang berasal dariDesa Bedulu, Gianyar. 

Mereka bertemu di Jakarta dan dikaruniai 3 (tiga) oranganak, yang semuanya tinggal di Bali.Pada tahun 1963 (pascameletusnya Gunung Agung), keluarga I Ketut Meneng, termasuk MP pindah keBengkulu, bertransmigrasi bersama-sama korban bencana Gunung Agung.

Ketut Meneng sebagai guru SR secara sukarela ingin mengabdikan dirinya mendidik anak-anak transmigran, dan rela meninggalkan kehidupan yang cukup nyaman di Bali sebagai seorang guru (pada saat itu Ketut Meneng memang sudah menjadi  seorang Wakil Pemilik Sekolah Dasar di Seririt).

Perpindahan keluargaini ke Sumatera telah mengubah arah hidup merekan selanjutnya. Seluruh anggota keluarga telah ditempa dengan keras dalam penderitaan dan persaingan di rantau orang. Setapak demi setapak maju dari titik minus menuju kehidupan sebagaimanusia yang bermanfaat dan bermartabat.

Pernah Menjadi Pembantu Rumah Tangga

MP sendiri pernah menjadi pembantu rumah tangga pada keluarga Tionghoa di Bengkulu selama 3tahun. Pengalaman menjadi pembantu rumah tangga bagi seorang anak yang berumur12 tahun, jauh dari kedua orang tua di daerah yang sangat asing dengan budayayang sangat berbeda, telah membentuk karakter MMP yang meyakini kerja keras dandisiplin untuk mencapai sukses, namun terkadang emosional dan sentimentil.

Menjadi AKABRI Polisi

Setelah menamat kanpendidikan di SMA Taruna Palembang, MP mencoba melamar menjadi Taruna AKABRI Kepolisian mengikuti jejak langkah teman-teman sekolahnya, meskipun cita-citaawal menjadi guru seperti ayahnya.

Mendengar bahwa pendidikan di AKABRI adalah gratis dan bahkan bakal mendapat uang saku, MP sebagai seorang remaja yang hidupnya sangat prihatin dan sederhana sertaterbatas kemampuan ekonominya, berpikir pragmatis: yang penting dapat bersekolah secara gratis. Setelah melalui berbagai tes, ujian dan seleksi yang sangat ketat, akhirnya MP diterima sebagai Calon Taruna AKABRI Polisi dan selanjutnya menjalani pendidikan selama 4 (empat) tahun di Magelang dan Sukabumi.

MMP menamatkan AKABRI Polisi pada tahun1974 dan melanjutkan latihan Brimob/Pelopor di Kelapa Dua,Bogor sampaipertengahan tahun 1975. Penugasan pertamasebagai Perwira Polisi adalah sebagai Komandan Peleton 1 KompiI, Batalyon B, Brimob Polda Metro Jaya yang berkedudukan di
Kelapa Dua, Bogor.Beberapa bulan kemudian, yaitu pada tanggal 05 Desember 1975, MP beserta Batalyonnya bertugas ke Timor Portugis (pada waktu itu namanya belumTimor-Timur). MP bertugas di Timor Portugis sampai Juli 1976, sesaat sebelum berintegrasinya Timor Portugis dengan Republik Indonesia dan menjadi Propinsike-27 dengan nama Propinsi Timor- Timur.

MP tidak pernah menginjakkan kakinya lagi di Timor-Timur sampai tanggal 1 Juni1999, ketika kemudian MP kembali bertugas di sana sebagai Komandan KontingenLorosae, BKO Polda Timor-Timur, sekaligus sebagai Chief Liaison Officer antara Polri denganUNAMET. MMP berada diTimor-Timur sampai tanggal 30 Oktober 1999 yaitu ketika Kontingen Rl terakhirmeninggalkan Tim-Tim karena pada saat itu diserahkan ke PBB.

Pada hari itu juga Sang Merah Putih diturunkan dari Markas Komando Pasukan ABRI terakhir dalamsuatu upacara yang sangat mengharukan. MMP sendiri meneteskan air mata sedih dan marah, menyaksikan terlepasnya bagian wilayah Rl yang telahmenyatu dengan Ibu Pertiwi dalam suka maupun duka selama 23 tahun.

Sebuah pelajaran yang sangat berharga harus dipetik dari peristiwa ini oleh bangsaIndonesia dan para pemimpinnya. MMP sendiri merasa mendapat pengalaman yangsangat berharga, baik dalam kapasitas pribadi maupun sebagai anggotaPolri/ABRI.

Sekembalinya dari Tim-Port,MP kembali bertugas di Kesatuan Brimob di Jakarta. Pada tanggal 23 Februari1977, MP menikah dengan Ni Made Ayu Putri, adik dari Brigjen Pol. Made Suardana(rekan satu angkatan MP di AKABRI Pol dan ipar dari Brigjen Pol. Wayan Medhanadari Desa Kedis Kec. Busungbiu, Buleleng).

Pada Oktober 1977, MPmendapat tugas baru sebagai Ajudan Menteri Pertahanan & Keamanan/ PanglimaABRI, Jenderal TNI Maraden Panggabean, selama 4 (empat) tahun termasuk ketikabeliau pada tahun 1978 menjadi Menko Polkam Rl.

Sebagai seorang Perwira mudaABRI MP belajar banyak hal dari penugasanini, mulai dari hal-hal yang menyangkut persoalan Militer dan Polri, sampai kepersoalan-persoalan politik nasional dan global, mulai dari persoalan-persoalantaktis sampai persoalan-persoalan strategis, termasuk hubungan antar bangsa danpolitik luar negeri.

Moral dan etikapergaulan di tengah-tengah keluarga yang bersifat etnis primordial, sampai kepada tata-cara pergaulan diplomatis bertaraf internasional dengan tetap berpegang teguh pada jati diri bangsa yang bermartabat, tanpa harus minder ataurendah diri.Penugasan ini berakhirketika MP harus melanjutkan pendidikan ke PTIK untuk dapat meniti karir selanjutnyapada Polri.

MP menyelesaikan pendidikan di PTIK pada tahun 1984 dengan predikatlulusan terbaik dan selanjutnya bertugas di Polda Metro Jaya sebagai Kepala Sub. Dinas Pencurian Berat, Direktorat Reserse.

Tugas pokoknya adalah menangani kasus-kasus pencurian, perampokan, dan kejahatan keras lainnya.Satuannya terkenal dengan nama TEKAB (Tim Khusus Anti Bandit) yang bertugas siang malam di seantero Jakarta dan sekitarnya, melumpuhkan kelompok-kelompokpenjahat kelas berat yang sering mengacau Jakarta Raya.

Penugasan berikutnya adalah sebagai Kepala Unit Harta Benda Ditserse PMJ dan selanjutnya KapolsekTambora Jakarta Barat sampai akhir 1987, dan pindah ke Ditserse Mabes Polrisebagai Kepala Satuan Penyidik Vice Control.

Pada 1988, MP ditugaskan untuk mengambil bagian pada misi Pemeliharaan Perdamaian PBB di Namibia, Afrika Barat Daya, sebagai anggota Kontingen Garuda IX selama 9 (sembilan) bulan. MMP bertugas di Distrik Windhoek (Ibukota Namibia) sebagai Commander untuk wilayah Katutura dan Komasdal.

Wilayah ini adalah wilayah yang senantiasa bergolak, karenamerupakan basis kekuatan pro-lndependen dan kediaman para pemimpin kulit hitam,termasuk calon Presiden Namibia, Sam Nujoma.

Penugasan di Namibia ini kembalimemberikan pengalaman yang sangat berharga bagi MP karena mendapat kesempatan untuk bergaul dan memimpin para polisi dariberbagai bangsa dan negara, dengan berbagai karakter, kebiasaan, dan tingkatprofesionalisme yang sangat bervariasi.

Sekembalinya dari Namibia, MP mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ABRI lanjutandi SESKOAD (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat) di Bandung, pada 1990-1991selama 11 bulan.

Kembali MP mendapat pengetahuan dan pengalaman yang unik,karena sebagai Perwira Polri seharusnya melanjutkan pendidikan SESPIMPOL, bukandi SESKOAD.MMP segera mengambilmanfaat dari kekhususan ini, dengan memahami ilmunya tentara danmenggalang persahabatan dengan para Perwira Siswa TNI-AD.

Selesai pendidikan diSESKOAD, MP bertugas di Ujung Pandang (sekarang Makassar) sebagai KepalaBagian Reserse Ekonomi, Polda Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara kurang lebih 8 (delapan) bulan. Selanjutnya, pada akhir 1992 MP kembali bertugas diMabes Polri sebagai Kepala Satuan Penyidik Perbankan.

Pada tahun itu pula MP mendapat kesempatan untuk melaksanakan pelatihan di Cranfield, Inggris tentang CounterDisaster, yang kemudian ternyata sangat berguna dalam me-”manage” berbagai krisis atau “disaster” pada penugasan selanjutnya.

Pada pertengahan 1993 MP kembali mendapat kesempatan belajar ke luar negeri yaitu ke Australia diAFP College, Canberra dengan pokok bahasan Management of SeriousCrime, bersama-sama dengan para Perwira Senior AFP(Australian Federal Police), antara lain Mick Keelty yang sekarang menjabat sebagai Commisioner AFP.

Hubungan baik dengan para Perwira AFP ini, ditambah dengan ilmupenyidikan kasus-kasus besar dan serius yang dipelajari di AFP Management College telah memberikan kontribusi yang signifikan dalam pengungkapan danpenyidikan kasus Bom Bali dan kasus-kasus terorisme yang lain.Jabatan selanjutnya adalah Kapolres Jakarta Barat (1994-1995), Wakil Asisten Perencanaan & Anggaran Kapolda Metro Jaya(1996) yang diteruskan dengan menjalani pendidikan di SESKO ABRI (1996-1997).

Pada akhir pendidikan ini kembali MMP mendapat penghargaan terbaikdi bidang penulisan TASKAP, bersama dengan Mayjen Supiadin (Mantan PangdamIX/Udayana) sebagai lulusan terbaik di bidang Militer.

Tugas MMP berikutnya adalah Kepala Departemen Kerjasama Internasional di NCB/lnterpol (1997) danDirektur Reserse Ekonomi, Korserse Polri (1997-1999). Penugasan ini diselingidengan tugas BKO Polda Tim-Tim (Juni 1999-Oktober 1999).

Jabatan berikutnya adalah Direktur Reserse Pidana Tertentu dengan pangkat Brigadir Jenderal Polisidan dilanjutkan sebagai Sekretaris NCB/lnterpol.Penugasan MMP berikutnya yang cukup berkesan adalah sebagai Kapolda Nusa Tenggara Timur pasca kerusuhan di Atambua.


Problema para pengungsiTim-Tim yang memuncak dengan adanya Resolusi Dewan Keamanan PBB tentangKeamanan di NTT. Kapolri menugaskan MMP untuk dapat menyelesaikan semua persoalan keamanan (termasuk penyidikan kasus Atambua yang menewaskan 3 tiga) petugas UNHCR,

Pelucutan senjata para Milisi eks Tim-tim, dan perusakan gedung DPRDNTT) dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, karena Indonesia mendapat tekananinternasional terutama dengan keluarnya resolusi DK-PBB.

Syukur kepada Tuhan YME, dengan kerja keras dan dukungan segenap aparat Pemerintah baik sipil maupun militer dan partisipasi masyarakat serta kinerja yang profesional, sungguh-sungguh, sabar dan ikhlas, semua tugas berat tersebut terselesaikan dengan baik.

DK PBB merasa puas dan resolusi pundi cabut. Situasi keamanan berangsur-angsur pulih kembali dan kehidupan masyarakat kembali normal.Setelah bertugas kurang lebih 4 (empat) bulan sebagai Kapolda NTT,kembali terjadi masalah keamanan di Irian Jaya (sekarang Papua).

Seluruh Muspida Propinsi (kecuali Gubernur Jaap Salosa) tewas dalam suatu kecelakaanpesawat terbang, termasuk Pangdam dan Kapolda Irja (alm. Irjen Pol. FX.Sumardi) Sementara itu terjadi penyanderaan terhadap karyawan PT Korindo (ada beberapa orang Korea) oleh kelompok OPM di bawah Pimpinan Willem Onde diwilayah Merauke, Irian Jaya.Kapolri kembali menugaskan MP menuju Irja untuk menjabat sebagai Kapolda Irja dengan tugas pertama membebaskan para sandera, bekerjasama dengan Pangdam Trikora Mayjen Mahidin Simbolon (pernah menjabat sebagai Kasdam IX/Udayana,teman seangkatan MP di AKABRI dan SESKOAD).

Dalam waktu singkat para sandera dapat dibebaskan dalam keadaan selama.Wilayah Irja/Papua yang
merupakan daerah konflik dan isu separatisme memerlukan gaya kepemimpinan kepolisian yang khas, terlebih-lebihketika Ketua PresidiumDewan PapuaTheys Eluway tewas terbunuh pada 10 November 2001.

Persoalan lain adalah gejolak sosial dan politik sebagai aksesdemokratisasi dalam era reformasi, seperti isu nama Papua dan bendera Bintang Kejora, isu pelanggaran HAM, dan perusakan lingkungan hidup, penentangan atasisu Otsus Papua, sampai kepada peristiwa penyerangan terhadap PT Freeport yangmengakibatkan tewasnya 2 (dua) warga Amerika dan 1 (satu) WNI. Saat menyidikkasus terakhir inilah, terjadi peristiwa besar Bom Bali (12 Oktober 2002).

Tanggal 12 Oktober 2002 adalah momen yang telah mengubah awal hidup seorang MP. Peristiwa tersebut telah. membuatnya shock/sedih, kecewa, marah dan akhirnya sadar, bahwa Bali telah berubah. Daerah yang tadinya terkenal aman, tentram, damai, dan bersahabat telah berubahmenjadi daerah yang membuat takut dan khawatir untuk mengunjunginya.

Saat itu MP sedang berada di Timika, Papua dalam rangka memimpinpenyidikan kasus Freeport yang baru setengahnya selesai. MP menduga bahwa akan tetap ditugaskan di Papua dan tidak pernah menduga akan terlibat dalam pengungkapan dan penyidikan kasus Bom Bali.

Tetapi ternyata pertimbangan Kapolri (Jenderal Pol. Drs. Dai Bachtiar) berbeda, MP ditugaskan untuk segera berangkat ke Bali, memimpin penyidikan kasus besar danmenarik perhatian dunia tersebut.

MP tiba di Bali pada tanggal 17 Oktober 2002 malam dan langsung ke ”TKP” di jalan Legian Kuta Bali. Beliau menerima briefingdari Kapolda Bali, Brigjen. Drs. Budi Setiawan, dan para perwira lain yangtelah memulai penyelidikan dan penyidikan sejak tanggal 12 Oktober 2002 dengan meletakkan dasar tindakan Kepolisian yang cermat dan profesional.

Selanjutnya sesuai dengan penugasan yang diberikan dan diarahkanoleh Kapolri, MP bersama tim yang dibentuknya (terdiri dari anggota Polri dariseluruh Indonesia yang berjumlah kurang lebih 500 orang dan 200 polisi/ahlidari mancanegara seperti: Australia, Amerika Serikat, Perancis, Jerman, Jepang, Selandia Baru) melaksanakan penyelidikan dan penyidikan secara profesionalsesuai dengan
kaidah-kaidah Scientific Crime Investigation yang transparan dan akuntabel, sesuai dengan aturan hukum dan menjunjung tinggi HAM.Sebagai seorang putra Bali yang beragama Hindu, MP senantiasa berusaha sekuat tenaga bertindak berdasarkan dharma dan kesucian, kesungguhan,kesabaran, dan keikhlasan, seraya memohon Pakeling dan Waranugraha Sang HyangWidhi, Hyang yang Maha Tunggal dan Maha Kuasa.

Oleh karena itu pula, di tengah-tengah kesibukan dalam memimpinpenyidikan secara sekala (fisik, material, ilmiah, profesional) MMP jugamelakukan kegiatan-kegiatan dalam konteks niskala (spiritual) dengankepercayaan penuh bahwa Tuhan akan selalu memenangkan kebenaran atas kebathilan/kejahatan.

Tuhan pasti akan memberikan jalan untuk mengungkap suatu kejahatan yang telah merenggut nyawa lebih dari 200 orang yang tidak berdosa dan kesengsaraan bagiribuan orang, baik langsung maupun tidak langsung.

Hal ini dibuktikan ketika pada hari Sabtu tanggal 2 November 2002di saat MP melakukan persembahyangan di Pura Besukihan dalam rangka memulai renovasi pura Besukihan (pura yang didirikan oleh Rsi Markandea dengan memendampanca datu untuk menyelamatkan Pulau Bali), tim penyidik menemukan nomor KIR dari mobill 300 yang diledakkan oleh para teroris. Berbekal nomor KIR inilah,tim penyidik akhirya menangkap Amrozi sebagai pemilik ketujuh dari mobil tersebut. 

Selanjutnya tim penyidik secara berturut-turut dapat menangkap parapelaku lainnya seperti ImamSamudera als. Abdul Aziz Muchlas als. AM Gufron, Ali Imron dan seterusnya.Pengungkapan kasus

Bom Bali dalam waktu singkat telah mengejutkandunia yang tadinya pesimis dan menganggap enteng petugas-petugas Indonesia. Pada saat yang sama paradigma bangsa Indonesia tentang terorisme juga menjadiberubah total, baik dari segi ideologi, hukum, politik maupun keamanan.Dunia internasional menyorot dengan tajam proses penyidikan BomBali ini melalui pemberitaan berbagai media internasional dan kehadiranperwakilan pemerintahnya di Bali. “Sebagai institusi, masih banyakyang harusdiperbaiki pihak kepolisian RI. Tetapi Pastika adalah polisi profesional yangpunya keinginan untuk melakukan tugasnya.”- Ralph L.Boyce -Duta Besar AS untuk Indonesia.

MP melayani setiap pertanyaan mereka dengan sabar ditengah-tengah kesibukan memimpin penyidikan,yang kemudian ternyata dinilaimerupakan proses pengungkapan kasus yang sangat sukses, transparan, akuntabel,dan profesional.

Atas penilaian itulah, majalah berita internasional TIME menyatakan MP sebagai salah satu Men of The Year 2002, Asia Newsmaker and Asia HeroAgainst Terrorism. Tidak ketinggalan majalah Business Week juga menobatkan MP sebagai salah satu dari 25 Asia Star 2003, sebagai salah seorang yang berperan dalam perubahan kebijakan publik.“The war on terror desperately needed anAsian hero.Now it has found one.”-TIME Magazine-.

Bagaimanapun juga, MP merasakan bahwa semua keberhasilan ituadalah hasil kerja keras seluruh anggota tim yang didukung sepenuhnya olehmasyarakat Bali pada khususnya,serta restu dan kehendak Hyang Widhi, Tuhan YME.

Setelah menyelesaikan penyidikan Bom Bali, MPmendapat tugas baru sebagai Wakil Kepala Bareskrim Polri sampai April 2003,untuk selanjutnya ditugaskan kembali menjadi Kapolda Bali. Ada sementara orangyang mengatakan bahwa MP di-side line, karena terlalu populer yang mungkin merupakan ancaman bagi pihak-pihak tertentu.

Namun, MP sendiri menganggap bahwa tugas tersebut adalah anugerah dan berkah dari Hyang Widhi.Sebagai putra Bali, MP telah lama sekali ingin bertugas di Bali, mengabdi kepada tanah leluhur dan tanah kelahiran yang sangat dicintai dan dibanggakan,namun telah ditinggalkan merantau selama berpuluh tahun. Terlebih-lebih setelah menyaksikan Bali dalam keadaan terpuruk, menangis dan menderita akibat seranganpara teroris.

Disamping itu, MP juga telah menyaksikan kondisi Bali yangternyata telah tampak berubah dari kesan dan ingatannya tentang Bali di masalalu, ketika meninggalkan Bali pada tahun 60-an.Bali yang dijuluki Pulau Dewata bahkan juga the lastparadise dengan slogan-slogan seperti jangan mati dulu sebelum melihat Bali dan lain-lainnya,pada pandangan MP telah mulai berubah.

Itulah sebabnya penugasan kembali ke Bali sebagai Kapolda Bali merupakan berkah dananugerah, dengan tekad untuk mengabdikan diri sepenuh hati memberikandharma-bakti sebagai seorang putera kepada Ibunda tercinta.

Berbekal semangat Ngayahdan tekad pengabdian terbaik bagi Bali, MP dengan penuh kepercayaandiri memulai tugasnya dengan membenahi organisasi dan manajemen Polda Bali.Selanjutnya, aspek operasional dengan meng-optimalkan dan mensinergikan seluruh sumber daya kepolisian dan potensi masyarakat yang ada di Bali, dalam suatu sistem perpolisian masyarakat dikenal dengan istilah Community Policing.

Beberapa upaya kreatif yang sempat dilaksanakan selamapengabdiannya adalah adanya Polisi Pariwisata Khusus Pantai, Police Advisorsdi Polda, Standar Keamanan dan Keselamatan Hotel, Honorary Police atauPolisi Kehormatan dan Bali Security Council atau Badan KoordinasiKeamanan Bali. Disampingitu, MP juga turut mendorong terbentuknya Majelis Utama Desa Pakraman sertaaktif
membina Forum Komunikasi Kerukunan Umat Beragama dan Paguyuban Etnis Nusantara. 

Disamping berbagai kesibukan tersebut, MMP adalah juga KetuaYayasan GWK (Garuda Wisnu Kencana), Ketua Yayasan Widya Shanti Dharma (yang mengelola Visada Ashram di Bedugul) dan
KetuaYayasan Widya Kerthi yang menyelenggarakan UNHI di Denpasar Selama menjadi Kapolda Bali, MP telah menjalin hubunganyang sangat baik dengan para tokoh agama (Sulinggih dan Pemangku), dengan kalangan pers (MP pernah mendapat Penghargaan Tokoh Pers Ktut Nadha),dan kalangan kampus (dianugerahi UNUD Award) serta para tokoh seni dan budaya,seperti Suteja Neka, Nyoman Rudana, Agung Rai ARMA, Maestro Nyoman Gunarsa,Maestro Made Wianta dan Maestro Nyoman Nuarta.MP mendapat kepercayaan dari negara untuk melanjutkan pengabdianpada BNN (Badan NarkotikaNasional) sebagai Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar).

Bagi MP, penugasan ini adalah tugas yang luar biasa, karenapersoalan narkoba yang sangat serius dan mengancam kelangsungan generasi bangsa Indonesia. Mendampingi Kepala BNN Jenderal Pol (Purn) Sutanto, MP disamping manata kelembagaan BNN, yang salah satunya membentuk BNP di tingkat Provinsi dan BNK di tingkat kabupaten/kota se Indonesia, serta mengintensifkanprogram-program pemberantasan narkoba.

Tugas sebagai Kalakhar BNN, dijabatnyasampai Agustus 2008. Sejauh-jauh burung bangau terbang, akhirnyakembali juga ke kandang. Ungkapan itu tepat ditujukan pada kiprah ngayah MP.Melihat ironi yang ada di Bali, bahwa di Pulau Surga, Pulau Dewata, dan berbagaisebutan indah untuk Bali, MP melihat masih sangat banyak masyarakat miskin.Menurut penilaiannya, semestinya Bali bebas kemiskinan. Kondisi ini membuatnya terhenyuh sekaligus terpanggil kembali untuk mengabdikan konsep pemikirannyadalam membangun daerah kelahirannya ini.Dengan data penduduk miskin di daerah Bali sebanyak 6,17% padatahun 2008, MP merumuskan visi Bali Mandara (Bali yang maju aman, damai, dan sejahtera).

Menjadi Gubernur Bali

Sebagai landasan menjalankan program pembangunan daerah, yang membuatnya terpilih sebagai Gubernur Bali, dicalonkan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Dukungan dan kepercayaan yang diberikan masyarakat Bali pada Pemilukada tahun 2008, mengantarkan MP sebagai Gubernur Bali, didampingi oleh Drs. A.A.Puspayoga sebagai Wakil Gubernur Bali.

Tugas sebagai Gubernur ini, menjadikan MP untuk ketiga kalinya ngayahpada posisi strategis bagi masyarakat Bali, setelah sebelumnya menjadiKetua Tim Investigasi Bom Bali dan Kapolda Bali.Sejakdilantik pada tanggal 28 Agustus 2008, MP menggulirkan berbagai programterobosan sebagai prioritas dalam pembangunan daerah. MP ingin meningkatkanderajat kesehatan masyarakat Bali melalui program Jaminan Kesehatan Bali Mandara(JKBM).

Program Sistem Manajemen Pertanian Terintegrasi (Simantri)diarahkan untuk pelestarian pertanian Bali dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani. Program Bedah Rumah diarahkan untuk memberikan kehidupanyang layak bagi masyarakat yang tidak mempunyai rumah layak huni. Program BaliClean and Green bertujuan untuk menciptakan alam dan lingkungan Bali yangbersih, nyaman dan lestari.

Dalam mendukung keberadaan Bali sebagai daerah pariwisata internasional, MP merealisasikan program sistem keamanan berstandar internasional, yang terintegrasi dengan program pengamanan yang diterapkan oleh Kepolisian Daerah Bali.

Program ini juga sejalan dengan komitmen MP untuk mensukseskanpenyelenggaraan event-event internasional yang diselenggarakan di Bali. Sementara dalam memberdayakan masyarakat desa, MP menggagas program Gerakan Pembangunan Desa Terpadu (Gerbangsadu)

Mandara dengan menyasardesa-desa yang memiliki penduduk miskin di atas 35%. Demikian pulaprogram-program lain yang diarahkan pada pelestarian kebudayaan daerah,termasuk lembaga-lembaga tradisional yang ada, sangat banyak dikembangkan.

MP memiliki banyak obsesi demi kemajuan masyarakat Bali. Dalammembangun pertanian, MP berobsesi membangun seribu unit Simantri. Apabila satu unit beranggotakan seratus orang,maka paling tidak seratus ribu petani di Bali akan meningkat kesejahteraannya,dan pasti memberi imbas positif kelompok masyarakat lainnya.

Dalam pembangunankesehatan, MP berobsesi menghilangkan beban biaya pengobatan bagi masyarakat Bali, khususnya keluarga miskin. Apabila mereka memiliki tabungan, maka tidakakan menjadi cadangan untuk biaya berobat, tetapi biaya persiapan memajukankualitas hidup anak-anaknya kelak.

Dan secara lebih luas, dalam membangun daerah Bali, MPberobsesi akan terhapusnya masyarakat miskin di Pulau Dewata. Secara realistis,kemiskinan memang harus ada, tetapi di Pulau Sorga mestinya tidak lebih darisatu persen. Semua obsesi tersebut memacunya untuk ngayah lebih fokus dan bersungguh-sungguh.Selalu muncul pro dan kontra dalam memulai pelaksanaan setiap program ini, tetapi dengan komitmen, konsistensi, dan optimisme, semua programtersebut dapat dijalankan. Program-program Bali Mandara ini mendapatkan apresiasi dari banyak pihak.

MP berharap berbagai penghargaan atas keberhasilanpembangunan daerah Bali yang diberikan oleh Pemerintah Pusat, semakin memacumasyarakat Bali untuk melanjutkan pembangunan memajukan daerahnya.

Satu langkah penting yang dijalankan MP dalam membanguntransparansi dan penegakan hukum di daerah Bali adalah melaksanakan gugatanhukum kepada Bali Post atas pemberitaan yang mencemarkan nama baik MP,khususnya atas pemberitaan tanggal 19 September 2011.

Langkah ini adalah akumulasi kekecewaan MP terhadap media ini, yang senantiasa tidakobyektif, tidak proporsional, bahkan menghasut masyarakat Bali. MP bermaksud memberikan pembelajaran kepada Perwira Polisi adalah sebagai media khususnya, dan masyarakat Bali umumnya, bahwa kemerdekaanpers harus dihormati oleh semua pihak, terutama oleh pers sendiri.Pengadilan Negeri Denpasar memutuskan perkara ini pada tanggal 17 Juli 2012,menyatakan Bali Post bersalah.

Terobosan yang tidak kalah cerdasnya adalahdalam menumbuhkan prinsip demokratisasi dan partisipasi dalam pengelolaan pemerintahan dan  pembangunan, MP menggelar simakrama (openhouse) dengan seluruh komponen masyarakat. Simakrama terbatas,diselenggarakan dengan kelompok masyarakat tertentu atau pemangku kepentinganterkait.

Sementara simakrama terbuka diselenggarakan setiap bulan, yaituhari Sabtu pada minggu terakhir, dengan masyarakat di seluruh Bali, bertempat di kabupaten/kota se-Bali. Banyak kemajuan pembangunan yang ditimbulkan daripenyelenggaraan simakrama ini.

Semua aspirasi masyarakat disampaikan langsung kepada MP selaku Gubernur, serta saat itu pula ada keputusan tindaklanjut terhadap permasalahan yang disampaikan, yang di sisi lain, mungkin tidakpernah dilaporkan Kepala SKPD atau pejabat terkait, tetapi masyarakat dengan keluguannya melaporkan segala hal yang dapat menghambat kemajuan pembangunan.

Evaluasi terbuka yang sangat efektif bagi seluruh penyelenggara pemerintahan dariProvinsi sampai ke tingkat desa/kelurahan, karena pertanyaan atau aspirasitidak dibatasi. Bawah Tanah (UnderPass) di kawasan Patung Dewa Ruci, yang keduanya ada di wilayah Bali selatan.

Sebagai sosok bersahaja yang lahir dari keluarga sederhana, MP mengintegrasikan pribadinya dengan kegiatan kemasyarakatan yang dijalankansebagai gubernur. Kegiatan kunjungan ke masyarakat yang tersebar di seluruh Bali dilaksanakan setiap hari libur, tidak teragenda secara formal.

MMP tidakmemiliki hari libur dalam bertugas, tidak ada istirahat karena kesungguhannya membangun Bali. MMP sangat berempati terhadap kehidupan masyarakat miskin danterbelakang. Oleh karena itu, program- programnya diarahkan demi peningkatankualitas kehidupan masyarakat, terutama pada bidang kemiskinan, kesehatan,pendidikan, dan pertanian.

Terkait dengan kondisi kemasyarakatan dan kehidupan sosialmasyarakat Bali, MP merasa sangat prihatin. Arus globalisasi turut menyebabkan degradasi moral masyarakat Bali, dimana sering terjadi konflik antar kelompok masyarakat, yang sebagian disebabkan oleh masalah yang sepele.

MP mengajak seluruh masyarakat Bali untuk mulat sarira, filosofi hidup menyamaberaya jangan hanya menjadi slogan, tetapi harus diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat Bali yang sudah sangat heterogen.

MP konsisten memberikan dorongan berkembangnya heterogenitasmasyarakat Bali, mengingat hal ini adalah salah satu keunikan Bali, sekaligus mengukuhkan Bali sebagai Pulau Perdamaian dan Pulau Toleransi.

Di samping melalui berbagaikebijakan yang berpihak, MP juga senantiasa menyempatkan diri berpartisipasidan hadir dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh seluruh komunitasmasyarakat, baik yang diselenggarakan oleh berbagai ikatan pasemetonan masyarakatBali, maupun oleh berbagai ikatan kekerabatan komunitas luar Bali yang ada di Bali, serta yang diselenggarakan oleh seluruh lembaga keagamaan.

Dan beliau merupakan perintis dari berdirinya sekolah gratis di Bali yang terdapat di Kabupaten Buleleng yaitu SMA dan SMK Negeri Bali Mandara yang merupakan sekolah gratis yang memberikan layanan khusus untuk siswa dari keluarga kurang mampu atau miskin yang ada di seluruh pelosok provinsi Bali yang bersistem asrama jadi dari sanalah bapak Made Mangku Pastika bisa menekan angka kemiskinan di Bali.

Walaupun sekolah orang miskin tetapi prestasinya sangat membanggakan pemerintah provinsi Bali karena sumber dana sekolah merupakan berasal dari Pem.Prov dan bapak Made Mangku Pastika sebagai perintis berdirinya SMA dan SMK Negeri Bali Mandara dengan pretasinya adalah ada 2 orang siswa SMA Bali Mandara yang mendapatkan mendali emas dalam Ajang Lomba Penelitian Tingkat Internasional di Amerika dan masih banyak lagi prestasi kedua sekolah tersebut yang membanggakan ,dari SMK Bali Mandara.

Pada tahun lalu pemilihan Paskibra ada salah satu siswanya lolos Paskibraka Nasional ,dan kedua sekolah ini sangat membanggakan karena selain prestasinya karakter siswa di bentuk dengan mengamalkan nilai-nilai pendidikan bangsa sehingga bisa membentuk karakter siswa-siswi sebagai calon pemimpin masa depan kenapa demikian karena 2 sekolah ini memiliki visi yang hampir sama yaitu menciptakan pemimpin masa depan.

Baca Juga;
  1. I Gusti Ketut Pudja, Tokoh Multikultural dan Penentu NKRI dari Bali Utara
  2. Tokoh Inspiratif di Indonesia dan Dunia [Nama/Biografi]
  3. Tokoh Terbaik di Dunia [Nama & Biografi]

Demikianlah rangkaian tulisan dan perjalanan dari Made Mangku Pastika dari biografi, kisah, dan sejumlah fakta-fakta menariknya. Semoga tulisan ini bisa memberikan wawasan dan pengetahuan, adapun penulis dalam artikel ialah Ni Made Dwi Purnama Dewi dengan judul Fakta Tentang Bapak Revolusi Bali. Trimakasih, 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Biografi Made Mangku Pastika (MP) dan Faktanya [LENGKAP]"

Posting Komentar