Kartini: Spirit Genetik Pendidikan Perempuan Indonesia

FaktaTokoh.Com- Siapa yang tidak kenal dengan Sang Pahlawan Perempuan, Raden Ajeng Kartini? Pahlawan pendidikan perempuan yang setiap tahun kita rayakan kelahirannya? Ia adalah perempuan hebat yang memiliki peran penting dalam sejarah tumbuhnya bangsa melaluiberbagai sisinya. Pahlawan teladan  yang telah menyuntik  semangat perempuan dalam usaha mencapai cita, cerita dan cinta sejati untuk kemajuan  bangsa Indonesia.

RA Kartini Pahlawan Nasional Perempuan


Kartini adalah salah satu tokoh nasional dan tercatat sebagai penggerak emansipasi perempuan yang memiliki peran penting dalam kesejahteraan bangsa Indonesia dari dulu sampai sekarang. Perannya dalam mensejahterakan bangsa tidak saja berkutik terhadap permasalahan gender atau emansipasi perempuan, tetapi juga terhadap masalah kebangsaan yang pada zamannya sedang genting oleh penjajahan.

Sebagai perempuan yang dilahirkan dalam tradisi jawa yang kental kulturalnya, Kartini tampil melebihi perempuan-perempuan lain dalam zamannya. Gejolak jiwa dan hatinya dalam usaha membangkitkan semangat kebangsaan tak bisa membuatnya seperti “perempuan bermental baja”.

Dalam catatan sejarah Indonesia, Kartini hidup pada masa feodalisme, yaitu masa yang menerapkan sistem sosial atau politik yang memberikan kekuasaan besar terhadap golongan bangsawan. Masa feodalisme juga merupakan masa dimana kesempatan perempuan untuk berkembang menjadi orang besar sangatlah minim dan penuh rintangan.

Aturan yang diberlakukan hanya mementingkan mereka yang memiliki jabatan dan kedudukan tinggi dan hampir semuanya laki-laki.. Tetapi hal itu tidak menjadi penghalang bagi diri Kartini. Semangatnya terus dikobarkan demi masa depan bangsa yang sedang mengalami kemunduran akibat penjajahan saat itu.

Pribadinya sebagai perempuan tidak menyurutkannya untuk bergerak menyemai kemajuan bangsa Indonesia dengan merekonstruksi paham klasikal dan kultural Jawa saat itu akan didiskreditkannya perempuan melalui peran pendidikannya.

Perempuan yang lahir pada tanggal 21 April 1879 di Mayong, Jeparaini juga merupakan pembuka ruang pertama perjuangan melalui berbagai organisasi dan pergerakan. Sebut saja misalnya beberapa organisasi yang muncul pada tahun 1990-an, seperti Aisijiah, Boedi Rini, Boedi Wanito, Darmi Laksmi, Jong Java, Natdatoel Fataat, Wanita Kathoelik, Wanita Taman Siswa, Poetri Mahardhika, dan lain-lainnya.

Bisa dikatakan penggerak munculnya organisasi-organisasi perempuan tersebut adalah Ibu Kita Kartini. Kartinilah yang memantik perempuan Indonesia untuk tumbuh dalam kesetaraan dan kebebasan berfikir yang akhirnya diaktualisasikan akhirnyadiaktualisasikanmelaluipendidikan-pendidikan.

Dalam masanya, dimana pendidikan hanya bisa didapat bagi anak-anak dan pemuda (bukan pemudi) dari orang tua yang “berduit”, Kartini tidak diam diri dan menyerah serta lepas tangan. Ia banyak membaca buku-buku secara otodidak dari Belanda yang pada gilirannya menjadi pemikiran dan konsep pergerakan dirinya dalam usaha menyemai pendidikan yang bisa dinikmati seluruh anak-anak dan bangsa Indonesia tanpa melihat sisi kelamin dan ekonominya (Arbaningsih, 2005:3).

Bagi R.A Kartini belajar adalah hal wajib bagi siapa saja, dan tidak harus dalam instansi formal yang penuh aturan dan memang hanya bisa dinikmati oleh kalangan bangsawan dan penguasa saja.  Menyemai pendidikan bisa didapati dimana pun baik laki-laki atau perempuan.

Dengan menelaah dan mambaca bacaan dalam setiap buku yang ada – menurut Kartini –hal itu akan mencerahkan dan mencerdaskan pemikirannya, yang diharapkan bisa dipraktekan perempuan-perempuan lain agar bebas dari kungkungan peradaban yang inferior pada perempuan.

Cerita Inspiratif RA Kartini


Ada satu certia inspiratif dalam kehidupan RA Kartini. Menjelang pernikahannya, beliau mendapatkan beasiswa untuk belajar di Belanda sebesar F. 4.800 (4.800 Gulden), namun kemudian ia alihkan atas nama Agus Salim (Kowani, 1978:8) dengan alasan dirinya sudah ada hajat menikah. 

Cerita ini secara singkat memberi maksud bahwa betapa Kartini telah mengorbankan pengorbanan yang luar biasa. Pertama, ia menjunjukan bahwa prestasi tidak saja hanya didapat oleh laki-laki, tetapi perempuan juga mampu untuk mendapatkannya dan bukan hal mustahil dalam kondisi yang masih meng-inferior-kan perempuan saat itu.

Kedua, dengan mengganti atas nama Agus Salim sebagai orang Indonesia, ia ingin masyarakat pribumi terus meningkatkan pendidikan setinggi-tingginya untuk kemudian bisa terbebas dari ketertindasan.

Kartini ingin mendobrak pemikiran kultural yang hanya membuat bangsa Indonesia terkungkung dalam pendiskreditan perempuan. Kenyataan saat itu bahwa perempuan cukup mengurus sumur (mencuci) dapur (memasak) dan kasur (sebagai isteri biasa) membuat Kartini terus bergerak merubah dan mengkonstruksinya melalui bukti-bukti nyata bahwa sejatinya baiklaki-laki atau perempuan memiliki hak berpendidikan dan mengenyam belajar sampai benar-benar pintar dan benar. Hal itu terlihat ketika kemudian pada akhir abad 19 Kartini mendirikan sekolah gratis untuk perempuan di Jepara dan Jombang.

Sebagai perhatiannya dalam pendidikan, RA. Kartini pernah mengirim surat kepada sahabatnya di Belanda, Rossa Abendanon, berkaitan dengan masalah pendidikan. Begini sebagian isi surat tersebut:

Telah lama dan telah telah banyak saya memikirkan perkara pendidikan terutama akhir-akhir ini. Saya pandang pendidikan itu sebagai kewajiban yang demikian mulia dan suci, sehingga saya pandang satu kejahatan apabila tanpa kecakapan yang sempurna. Saya berani menyerahkan tenaga untuk perkara pendidikan. Sebelumnya harus saya buktikan, apakah saya mampu menjadi pendidik. Bagi saya pendidikan merupakan pembentukan budi dan jiwa. Aduh, sama sekali saya tidak berpuas menjadi guru, saya merasa tidak dapat menjalankan tugas yang saya wajibkan sendiri kepada pendidi yang baik, walaupun misalnya orang tidak merasa puas terhadap saya. Saya merasa dengan mengembangkan pemikiran saja, pendidikan belum selesai, belum selesai seseorang pendidik juga harus memeliharai bud pekerti, walaupun tidak ada hukum yang secara pasti mewajibkan hal ini. Secara moril harus dilakukan demikian. Dan saya bertanya kepada saya sendiri, dapatkah saya menjalankan tugas ini?” (Kartini, 2014: 120-121).
Gerak langkah Kartini melalui pemikiranya benar-benar telah mempengaruhi pola fikir bangsa Indonesia. Usaha merubah nasib bangsa melalui pendidikan secara signifikan membuat arah baru untuk kemajuan pendidikan bangsa di masa depan. Melalui pendidikan yang tak hentinya disemai, menjadikan pendiskreditan perempuan lambat laun mulai meluntur dan hilang. 

Meratanya perempuan sekarang bisa mengenyam pendidikan yang tinggi tidak lain berasas dari pemikiran Kartini. Bahkan, dewan perwakilan rakyat, pemimpin daerah, dan kedudukan tinggi lainnya telah banyak ditempati oleh para perempuan, semuanya itu tidak lain sebagai buah pemikiran Raden Ajeng Kartini dalam mengangkat perempuan, khususnya dalam hal pendidikan.

Kartini merupakan simbol dari perjuangan kaum perempuan untuk terbebas dari keterkungkungan, kebodohan dan sistem masyarakat yang kaku. Dengan cakrawala jiwanya, ia memiliki cita-cita besar yang telah diaktualisasikan dengan tujuan agar perempuan memiliki kesempatan seperti laki-laki, terlebih saat kesempatan itu ada di depan.

Pemikirannya membawa dampak kemajuan yang begitu pesat untuk bangsa ini. Betapa Kartini merevolusi masa kegelapan menjadi masa terang. Sehingga tepatlah adanya buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” sebagai bukti bahwa Kartini yakin akan perampuan yang mampu merubah bangsa untuk menjadi sejahtera.

Sudah semeskinya perjuangan dan pemikiran Kartini digalih dan diadopsi oleh perempuan-perempuan sekarang. Perjuangan tanpa lelahnya meski menjadi tonggak bagi wanita-wanita masa kini untuk terwujudnya pendidikan bangsa, khususnya perempuan, yang terus membaik untuk terciptanya bangsa yang tercerahkan. Sudah waktunya lahir Kartini-Kartini baru untuk Indonesia yang berperadaban  melalui peran pendidikan bagi perempuan, untuk Indonesia yang berkemajuan.

Baca Juga;
  1. RA Kartini Inspirasi untuk Banga Indonesia dan Dunia
  2. 6+Fakta Istimewa Kartini, Sang Pembawa Emansipasi
  3. 5+ Fakta bahwa Sri Mulyani Ternyata "Kembarannya" Kartini

Demikianlah tulisan mengenai artikel Kartini: Spirit Genetik Pendidikan Perempuan Indonesia. Semoga dengan adanya tulisan ini bisa memberikan wawasan dan juga pengetahuan yang mendalam bagi segenap pembaca sekalian. Adapun penulis artikel ini adalah Ai Ahmad Faisal. Trimakasih, 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kartini: Spirit Genetik Pendidikan Perempuan Indonesia"

Posting Komentar