6 Perjalanan Karir Gus Dur [Awal-Akhir] Terbaik

FaktaTokoh.Com- K.H. Abdurrahman Wahid yang kemdian lebih dikenal dengan Gus Dur adalah sosok fenomenal bagi masyarakat Indonesia. Kefenomenal Gus Dur ini bisa disebabkan karena beliau selalu menawarkan ide-ide mengagetkan masyarakat sekaligus seringkali ada anggapan ‘kontroversial’ bagi nalar logika mainstream. Oleh karena itu sebagai pengenalan sosok ini, akan dituliskan serangkaian perjalanan karir Gus Dur.

Perjalanan Karir Gus Dur


Pada dasarnya, awal karir ketokohan Gus Dur dimulai sejak saat ia kembali dari belajar di luar negeri pada tahun 1971. Tidak lama setelah ia pulang dari luar negeri, Gus Dur sering bolak-balik Jombang-Jakarta. Ketika itu ia bekerja di kantor LP3ES (Lembaga Pengkajian Pengetahuan, Pendidikan, dan Ekonomi), di Jakarta.

Selama aktif di LP3ES, Gus Dur kerap memberikan pemahaman kepada lembaga ini tentang seputar dunia pesantren dan Islam tradisional. Peran lembaga ini pada saat itu sangat penting artinya bagi Gus Dur, karena di tempat inilah ia banyak belajar mengenai aspek-aspek praktis dan kritis dalam kajian pengembangan masyarakat.

Antara tahun 1970-an dan 1980-an awal, Gus Dur terlihat aktif sebagai penulis kolom dan jurnal di berbagai surat kabar dalam negeri. Di samping menulis, ia juga mengajar di beberapa pondok pesantren.

Gus Dur juga pernah menjadi dosen dan Dekan Fakultas Ushuludin pada Universitas Hasyim Asy’ari di Jombang tahun 1977. Selama menjadi dosen dan dekan di Universitas Hasyim Asy’ari, Gus Dur adalah seorang pembicara yang populer.

Gus Dur juga kerap tampil sebagai pemakalah di acara-acara seminar. Di samping itu, ia punya jadwal rutin untuk memberi ceramah keagamaan kepada kelompok-kelompok mahasiswa di Jombang.

Karir Gus Dur


Untuk mengetahui kiprah ketokohan dari seorang Gus Dur tersebut, di bawah ini akan dijelaskan beberapa di antaranya:

Ketua PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama)

Nahdlatul Ulama didirikan pada tahun 1926 oleh K.H. Hasyim Asy’ari, kakek Gus Dur dari pihak ayah. Organisasi ini berpusat di daerah Surabaya, Jawa Timur. NU adalah sebuah organisasi keagamaan dan sosial yang bercorak tradisional dan keberadaannya cukup berpengaruh di tengah kehidupan masyarakat Indonesia.

Gus Dur mulai menjabat sebagai ketua PBNU pada tahun 1984 menggantikan ketua umum sebelumnya, Idham Khalid. Saat Itu Gus Dur terpilih secara aklamasi dalam Muktamar NU yang ke-27 di Situbondo.

Gus Dur pada saat itu telah berhasil membawa citra baru pada tubuh NU. Sebelumnya NU merupakan organisasi Islam tradisional dan koservatif. Namun, menurut penilaian sebagian kalangan, pada masa itu Gus Dur mampu membawa angota-angota muda NU untuk cenderung berpikir liberal. 

Gus Dur dinilai terlalu berani dan terkadang juga suka ‘nyeleneh’ yang menurut orang-orang dapat memunculkan penilaian kurang baik dari masyarakat terhadap NU. Akibat karakter pemikirannya yang condong liberal tersebut, Gus Dur menjadi sosok tokoh yang kontroversial. Baca jugaBiografi K.H Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) dan Sisi Lainnya

Kiprah Gus Dur selama memimpin organisasi NU telah menjadikan figur ketokohannya semakin mencuat di pentas nasional. Pada saat itu hubungan antara NU dan pemerintah Orde Baru berjalan baik. Padahal sebelum masa kepemimpinan Gus Dur, hubungan antara NU dan pemerintah kurang harmonis.

Pada masa-masa selanjutnya, kiprah Gus Dur sebagai ketua PBNU, terutama dalam hal hubungannya dengan pemerintah tidak selalu terlihat akur. Kala itu tidak jarang Gus Dur mengkritik kebijakan penguasa Orde Baru. Bahkan, akibat krtitiknya tersebut pernah menimbulkan reaksi politik dari presiden Soeharto. Selengkapnya, baca; Fakta Soeharto Yang Wajib Anda Ketahui!

Hal itu terbukti saat Soeharto berupaya untuk menjegal Gus Dur supaya tidak terpilih kembali menjadi ketua PBNU pada tahun 1994. Namun, di lain kesempatan, Gus Dur tidak jarang pula mendukung kebijakan pemerintah. Sikap Gus Dur yang seperti itu membuat dirinya dinilai tidak konsisten dan terkesan “plin plan” oleh sebagian kalangan.

Selama kurun waktu 15 tahun menjabat ketua umum NU, Gus Dur semakin dikenal oleh masyarakat luas. Ketenaran Gus Dur ketika itu mungkin saja disebabkan oleh sikapnya yang sering menuai kontroversi di tengah umat Islam Indonesia.

Meskipun tampil sebagai tokoh yang penuh dengan sikap pro dan kontra, namun pengaruh ketokohan Gus Dur mampu menarik perhatian dari pihak penguasa. Hal itu dapat terlihat dari dinamika hubungan antara Gus Dur dan Soeharto.

Pada tahap ini, Gus Dur pernah dianggap sebagai ancaman bagi politik Orde Baru. Namun, pada suatu waktu Gus Dur juga dirangkul oleh Soeharto. Hal itu dapat dilihat ketika Soeharto menjadikannya sebagai indoktrinitator resmi Pancasila yang dikenal dengan nama Manggala Nasional. Saat itu Gus Dur dianggap sebagai tokoh yang tepat oleh pemerintah untuk memperkuat kedudukan ideologi Pancasila sebagai azas tunggal di hadapan komunitas Islam Indonesia.

Anggota MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) Utusan Golkar

Kiprah ketokohan Gus Dur juga dapat terlihat pada saat dirinya diangkat menjadi anggota MPR (Majelis Permusyawaratan Rakyat) utusan dari Golkar (Golongan Karya) pada tahun 1987. Terpilihnya Gus Dur mewakili partai Golkar di parlemen pada saat itu merupakan sebuah indikasi kedekatan hubungan ketokohannya dengan pemerintah.

Meskipun saat itu ia dipercaya oleh Soeharto sebagai wakil partai Golkar, tapi tidak jarang pula Gus Dur mengkritik kebijakan pemerintah. Namun, meskipun demikian, Gus Dur tetap berupaya menjaga
hubungan baik dengan rezim Orde Baru.

Selama menjadi anggota MPR, ketokohan Gus Dur sempat menimbulkan kontroversi, khususnya di tengah kalangan umat Islam yang memang ketika itu kurang simpati terhadap pemerintah. Gus Dur saat itu dinilai terlalu kritis terhadap PPP (Partai Pesatuan Pembangunan) yang notabennya adalah basis politik dari beberapa kelompok Islam.

Gus Dur dinilai terlalu dekat dengan Soeharto yang dinilai dapat merugikan kepentingan politik partai Islam. Bahkan, yang paling dikhawatirkan oleh tokoh-tokoh Islam ketika itu, Gus Dur akan semakin memperkuat posisi partai Golkar di masa mendatang. Sebab, pada saat itu rakyat Indonesia tengah bersiap-siap untuk menyelenggarakan Pemilu.

Pendiri PKB (Partai Kebangkitan Bangsa)

Pada tahun tanggal 23 Juli 1998, Gus Dur dan beberapa tokoh NU lainnya mendirikan PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) di Ciganjur, Jakarta Selatan. Pengaruh ketokohan Gus Dur dalam sejarah lahirnya partai ini cukup besar. Gus Dur, tidak hanya dikenal sebagai salah seorang tokoh pendiri PKB, namun hingga akhir hayatnya ia masih menjabat Ketua Umum Dewan Syuro atau Dewan Penasehat Partai.

Latar belakang lahirnya PKB disinyalir karena banyaknya aspirasi yang datang kalangan NU. Gus Dur dianggap orang yang tepat untuk mewakili aspirasi tersebut dengan membentuk sebuah partai politik. Keinginan tersebut juga didorong oleh adanya anggapan bahwa NU tidak boleh terus menerus dimarginalkan dalam panggung politik Indonesia.

Gus Dur merupakan salah satu tokoh kunci dalam mengantarkan partai ini untuk bersaing secara demokratis pada Pemilu 1999. Kehadiran Gus Dur dalam lingkaran besar PKB telah membuka jalan bagi kalangan santri pedesaan untuk turut serta berkecimpung dalam dunia politik. Karisma ketokohan Gus Dur ketika itu terbukti berhasil mengantarkan Partai ini menempati urutan ketiga pada hasil Pemilu 1999. Dengan demikian, PKB berhak mendapatkan 51 kursi di DPR.

Sedangkan dalam Pemilu tahun 2004, PKB sukses memperoleh 52 kursi di parlemen. Dari sini sangat terlihat jelas bahwa meskipun PKB tergolong partai yang baru berdiri, tetapi ia patut dipertimbangkan.

Terlepas dari konflik internal yang terjadi di tubuh PKB pada masa-masa selanjutnya, bahwa perkembangan partai ini dalam kancah perpolitikan Indonesia sangat banyak dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Gus Dur.

Hal itu bisa terlihat dari azas dan prinsip partai yang sangat bercirikan keterbukaan, humanisme, dan wawasan kebangsaan. Bila diperhatikan, bahwa Gus Dur merupakan tokoh yang dianggap paling dekat dengan ide-ide tersebut.

Presiden Republik Indonesia

Pada tahun 1999, Gus Dur terpilih secara demokratis sebagai Presiden Republik Indonesia ke empat menggantikan B.J. Habibie. Naiknya Gus Dur menjadi Presiden Indonesia pada saat itu di mana bangsa Indonesia tengah berada pada satu kondisi di mana berbagai krisis sedang melanda dengan hebatnya.

Sebagian besar masyarakat tampaknya memang banyak berharap kepada pemerintahan yang baru terbentuk ini. Gus Dur menjadi pusat harapan dari sebagian besar masyarakat Indonesia untuk perubahan kehidupan ke arah yang jauh lebih baik.

Periode Gus Dur menjadi Presiden Indonesia di satu sisi telah menunjukkan intelektual politiknya. Gus Dur tidak saja dianggap sebagai tokoh yang paham dalam urusan agama, tetapi ia juga dinilai memiliki kapasitas untuk mengurus persoalan politik bangsa.

Gus Dur merupakan Presiden Indonesia pertama yang memiliki latar belakang seorang kiai. Ada pula yang mengatakan, bahwa naiknya Gus Dur menjadi Presiden menandakan era baru dan kemenangan bagi politik kaum santri.

Tampilnya Gus Dur sebagai Presiden ketika itu di satu sisi telah meruntuhkan semua mitos dan fakta, bahwa santri selalu berada di pinggir kekuasaan. Anggapan itu bisa jadi muncul dari dalam diri sebagian warga NU karena selama ini mereka menilai pihak penguasa kurang memberi kesempatan bagi NU dalam kancah perpolitikan Indonesia. Apalagi sejak pemerintah berkuasa melakukan penyederhanaan terhadap beberapa partai Islam pada tahun 1973.

Gus Dur menjabat sebagai Presiden untuk periode 1999-2004 dengan menjadikan Megawati Soekarno Putri sebagai wakilnya. Kesuksesan Gus Dur menuju kursi Presiden tidak lepas dari dukungan beberapa partai yang bercorak Islam, salah satunya yaitu PAN (Partai Amanat Nasional). Saat itu, Amin Rais sebagai ketua umum PAN adalah orang yang paling mendukung pencalonan Gus
Dur untuk menjadi Presiden. Pada saat menjadi Presiden, Gus Dur membentuk “Kabinet Persatuan”, sebagai nama kabinet baru untuk menunjukkan perbedaan ciri-ciri dari kabinet-kabinet sebelumnya.

Ketika Gus Dur berada di puncak kekuasaan, bangsa Indonesia sedang dilanda krisis yang cukup hebat, terutama dalam bidang ekonomi. Itu juga disebut dengan masa transisi demokrasi, karena selama lebih kurang tiga puluh dua tahun Orde Baru berkuasa, telah terjadi berbagai penyimpangan terhadap makna demokrasi. Oleh sebab itu, era Gus Dur dapat disebut sebagai era pengharapan baru bagi rakyat Indonesia untuk menuju demokrasi sejati.

Pada saat Gus Dur menjadi Presiden, Aceh dan Papua sedang mengalami gejolak. Munculnya kelompok separatis yang hendak memisahkan diri dari kesatuan NKRI mendapat perhatian penting dari Presiden.

Upaya untuk mencari solusi dari konflik tersebut telah dilakukan semaksimal mungkin. Gus Dur terus melakukan negosiasi dengan pemimpin kelompok separatis. Namun, dalam upaya Gus Dur tersebut, khususnya dalam kasus Aceh belum memperoleh hasil yang memuaskan.

Untuk masalah Papua, Gus Dur dapat dikatakan cukup berhasil, sebab situasi di sana belum separah keadaan di Aceh. Hasil dari upaya Gus Dur dalam meredam gerakan saparatis di Papua ketika itu tampak dari dihentikannya tindakan kekerasan oleh kelompok separatis.

Selain persoalan politik, konflik agama, dan ditambah lagi kondisi ekonomi bangsa yang tidak stabil pada masa itu, akhirnya pada tanggal 23 Juli 2001 Gus Dur meletakkan jabatannya sebagai Presiden. Ini artinya, Gus Dur tidak menuntaskan masa kepemimpinannya hingga lima tahun. Memang harus diakui, bubarnya pemerintahan Gus Dur saat itu sebelumnya telah didahului oleh berbagai macam persoalan bangsa yang sangat bersifat kompleks.

Gus Dur memimpin Indonesia pada saat di mana negeri ini tengah berada dalam kondisi yang sangat tidak stabil. Meskipun masa pemerintahan Gus Dur hanya kurang lebih dua tahun, akan tetapi kiprah ketokohannya sedikit banyak telah memberikan sumbangan yang patut dihargai oleh segenap bangsa Indonesia.
Baca, juga; K.H. Abdurrahman Wahid dan 6 Karyanya Yang Harus Kamu Baca!

Demikianlah kiprah-kiprah ketokohan Gus Dur yang dapat terekam dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Sebagai seorang tokoh yang dihormati dan disegani oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, tentu masih terdapat kiprah-kiprah ketokohan Gus Dur lainnya yang tidak dapat penulis uraikan secara lebih rinci di dalam tulisan ini. Selain kiprah ketokohannya dalam pentas nasional, Gus Dur juga memiliki serangkaian karir dan menerima berbagai penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri. Semua itu merupakan bagian dari prestasi intelektualnya yang telah berhasil ia capai sepanjang riwayat hidupnya. Penulis dalam artikel ini adalah Lukluil Maknun.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "6 Perjalanan Karir Gus Dur [Awal-Akhir] Terbaik"

Posting Komentar