Biografi K.H Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) dan Sisi Lainnya

FaktaTokoh.Com- K.H Ahmad Mustofa Bisri atau biasa dipanggil dengan Gus Mus merupakan salah seorang kyai yang berfikir moderat dan terbuka terhadap perubahan zaman. K.H Ahmad Mustofa Bisri merupakan pengasuh dari Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin, Rembang Jawa Tengah.

Biografi K.H Ahmad Mustofa Bisri


Gus Mus sebagai nama lain dari K.H Ahmad Mustofa Bisri pernah menjabat sebagai Rais PBNU yang secara biografinya lahir pada 10 Agustus 1944 di Rembang. Beliau menempuh pendidikan diberbagai pondok pesantren di Indonesianya diantaranya di Pondok Pesantren Liboyo, Kediri dibawah asuhan K.H Marzuqi dan K.H Mahrus Ali, Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta dibawah asuhan K.H Ali Ma’shum dan K.H Abdul Qodir dan menjadi alumnus serta penerima beasiswa dari Universitas Al Azhar Cairo Mesir.

Disamping itu, beliau juga belajar di pesantren milik ayahnya sendiri yakni K.H Bisri Mustofa, Raudlatuth Thalibin. Selain dikenal sebagai seorang kyai, Gus Mus juga merupakan seniman dan budayawan yang banyak menciptakan karya seni yang indah dan menyentuh hati banyak orang.

Gus Mus menikah dengan Siti Fatma dan dari pernikahannya itu Gus Mus dikaruniai 6 orang puteri yakni lenas Tsuroiya, Kautsar Uzmut, Rudloh Quds, Rabiatul Bisriyah, Nada dan Almas dan seorang anak laki-laki bernama Muhammad Bisri Mustofa.

Gus Mus Tokoh Teladan

K.H Ahmad Mustofa Bisri adalah salah satu tokoh yang patut untuk diteladani. Beliau berdakwahn menggunakan bahasa yang santun dan mudah dimengerti. Disamping itu beliau juga mampu menempatkan dirinya dalam setiap komunitas sosial manapun dengan menggunakan bahasa yang sederhana.

Hal inilah yang menyebabkan dakwah-dakwah beliau bisa diterima oleh banyak orang termasuk kaum awam sekalipun. Selain sebagai seorang kyai, beliau juga seorang budayawan yang aktif menulis kolom, esai, cerpen, dan puisi di berbagai media masa.

Karya dan Kiprah K.H Ahmad Mustofa Bisri

Salah satu karangan puisi beliau yang terkenal adalah “Tuhan, Islamkah Aku?”. Beliau mulai terjun dalam dunia politik pada awal 1970-an di PCNU Rembang, Wakil Katib Syuriah PWNU Jawa Tengah (1977), Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, hingga Rais Syuriyah PBNU (1994, 1999). Namun setelah tahun 2004 Gus Mus menolak untuk duduk dalam jajaran kepungurusan Struktural NU.

Sebagai seorang yang memiliki perhatian yang besar terhadap perjuangan dan tegaknya nilai-nilai hak asasi manusia, menjadikan Gus Mus sebagai ulama pertama yang menerima penghargaan “Yap Thiam Hien” di tahun 2017.

Meskipun Gus Mus tidak dikenal sebagai aktivis pejuang hak asasi manusia, namun Gus Mus banyak memberikan kontribusinya dalam merawat keberagaman di Indonesia di tengah menguatnya paham radikalisme dan sektarianisme meskipun cara yang beliau lakukan dengan tidak melakukan dsemostrasi dan aksi-aksi lainnya.

Gus Mus telah banyak memberikan contoh untuk saling toleran dan menghargai perbedaan, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Hal ini mengingat Indonesia merupakan bangsa yang multicultural.

Demikianlah artikel mengenai sisi lain K.H Ahmad Mustofa Bisri atau yang lebih akrab disapa dengan Gus Mus. Semoga dengan adanya artikel ini bisa memberikan wawasan dan pengatahuan bagi segenap pembaca sekalian, penulis dalam biografi ini adalah Yeni Purwanti.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Biografi K.H Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) dan Sisi Lainnya"

Posting Komentar