Biografi Umar bin Abdul Aziz [Awal-Akhir] Lengkap


Ketika mendengar atau menyebut nama salah satu tokoh Idola umat Islam ini tak mungkin kita mampu untuk menafikan bahwa Umar bin Abdul Aziz lah salah satu dari banyak khalifah Islam terbaik sepanjang masa. Oleh karena itulah pada artikel ini akan mengulas tentang biografi singkat Umar bin Abdul Aziz.

Umar bin Abdul Aziz


Umar bin Abdul Aziz lahir dari keluarga yang bermartabat dan terkenal sebagai keluarga yang taat serta shalih dan shalihah. Sejak kecilpun, beliau sudah dikenal sebagai pribadi yang mulai dan berilmu tinggi.

Bahkan dalam suatu kesempatan anaknya menyaksikan sendiri, bahwa Khalifah adalah seorang yang sangat sederhana sekali. Kisahnya adalah kisah yang patut untuk terus disimak oleh para generasi milenial, sebab darinya banyak suri tauladan yang mampu kita ambil hikmah besar darinya. Semoga para pembaca umumnya dan penulis khususnya, mampu mengambil secuil atau mau mengambil hikmah besar dari pemimpin Islam ini.

Siapakah Umar bin Abdul Aziz Sebenarnya?

Nama beliau adalah Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Al-Hakam bin Abil Ash bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushoi bin Kilab Al-Qurosyi Al-Madani. Ayahandanya adalah Abdul Aziz bin Marwan merupakan seorang yang pernah menjabat menjadi seorang pemimpin di wilayah kota Mesir. Ayah Umar yakni Abdul Aziz bin Marwan, Gubernur Mesir.

Dan merupakan adik dari Khalifah Abdul Malik. Nasab ayahnya adalah nasab yang mulia, para pemuka Islam semua. Sedangkan nasab dari ibundanya, darah Amirul Mukminin Umar bin Khattab mengalir di tubuh nya.

Peran besar dan kuat sudah dibentuk oleh Sang Amirul Mukminin, agar kelak lahir keturunan Shalih dan Shalihah dari keturunannya. Dan disanalah, Umar bin Abdul Aziz lahir. Beliau lahir dari rahim ibundanya, yakni Ummu Ashim binti Ashim bin Umar bin Khattab Ra. Lahir pada tahun 63 H/682 M di Halwan, perkampungan kecil di Mesir. Namun ada sebagian orang yang menyebut bahwa Umar bin Abdul Aziz lahir di Madinah.

Jadi secara nasab tersebut Khalifah Umar bin Abdul Aziz merupakan cicit dari Sayyidina Umar bin Khattab, sehingga beliau juga sering disebut sebagai Khalifah Umar II. Lalu seperti apakah kakek buyutnya tersebut? Khalifah Umar bin Khattab semasa kepemimpinannya beliau dikenal sebagai Khalifah yang menerapkan kegiatan beronda malam di sekitar daerah kekuasaan beliau.

Suatu ketika, saat malam hari, beliau mendengar ada diskusi kecil seorang anak perempuan dan ibunya, seorang penjual susu yang miskin.

Si ibu berkata kepada anak gadisnya agar segera menambahkan air dalam susunya. Agar terlihat banyak susunya. Sebelum matahari terbit. Kemudian lantas anaknya menjawab bahwa hal itu adalah hal yang tidak benar dan Amirul Mukminin murka terhdap hali itu.

Ibunya menimbali bahwa Amirul Mukminin saat ini tidaklah mengetahui perbuatan merekaa. Namun anak gadisnya tetap menolak, meskipun Amirul Mukminin saat ini tidak mengetahui numun Tuhan Amirul Mukminin mengetahui segala sesuatu. Khalifah Umar bin Khattab yang mendengar pembicaraan itu sontak menangis. Dan menganggap betapa mulianya hati gadis tersebut. 

Kemudian Umar bin Khattab pulang ke rumah dan menyuruh anak lelakinya yaitu bernama Ashim untuk segera menikahi gadis miskin tersebut. Dan kemudian Khalifah Umar bin Khattab berdoa semoga lahir dari keturunan gadis miskin ini seorang yang kelak mampu menjadi pemimpin Islam yang hebat, yang mampu memimpin orang-orang Arab dan Ajam (selain Arab).

Kemudian Ashim yang taat danpatuh terhadap ayahnya ini tidak banyak bertanya langsung melaksanakan titah ayahandanya tersebut. Dinikahilah gadis miskin penjual susu tersebut. Dari pernikahan Ashim dengan gadis tersebut lahir lah seorang anak perempuan bernama Laila, yang lebih dikenal dengan sebutan Ummu Ashim. Dan ketika dewasa, Ummu Ashim menikah dengann Khalifah Abdul Aziz bin Marwan yang kemudian melahirkan Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah seorang yang berkulit sawo matang, berparas lembut, berbadan kurus, berjenggot rapi, bermata cekung dan di wajahnya terdapat bekas luka bekas tertanduk kuda. Menurut cerita Hamzah bin Sa’id, luka tersebut didapat ketika Khalifah Umar sewaktu kecil dan ketika hendak menemui ayahandanya.

Saat itu Ayahandanya, Khalifah Abdul Aziz bin Marwan sedang menjabat menjadi seorang gubernur Mesir di era Khalifah Abdul Malik bin Marwan, kakaknya. Peristiwa tertanduk kuda itu terjadi ketika Umar bin Abdul Aziz kecil sedang belajar menunggang kuda. Namun naasnya, seekor kuda jantan menendang wajah umar.

Semua orang panik bukan kepalang dan menangis. Keculai ayah Umar, beliau tersentak dan kemudian tersenyum. Beliau berkata kepada Ummu Ashim, bahwa hendaknya ia berbahagia sebab kejadian ini sebenarnya sudah dimimpikan oleh Khalifah Umar bin Khattab. Umar kecil adalah keturunan Bani Umayyah yang kelak akan memimpin dan memperbaiki kebobrokan bangsa ini.

Mimpi Khalifah Umar bin Khattab

Pada suatu malam, Khalifah Umar bin Khattab bermimpi. Beliau melihat seorang pemuda dari keturunannya kelak akan memimpin Umat Islam. Pemuda tersebut bernama Umar dan dikeningnya terdapat cacat bekas luka.

Namun mimpi ini sangat dijaga sekali tidak sampai bocor sedikitpun kecuali hanya keluarga Khalifah yang mengetahuinya. Hingga baru ketika tragedi tersebut menimpa Umar bin Abdul Aziz, barulah Abdul Aziz teringat akan mimpi kakeknya tersebut dan bangga terhadap anaknya yakni Umar bahwa dari dialah kelak Islam akan mencapai kejayaan yang besar dan mulia.

Masa Muda Khalifah Umar bin Abdul Aziz

Karena Umar muda lahir di keluarga gubernur, maka tidak heran jika segala kebutuhannya sangat terpenuhi. Apapun yang dia butuhkan maka akan langsung disediakan oleh para abdinya. Namun dari sini tidak lantas membuat Khalifah Umar bermanja santai. Dari kecil beliau dikenal tetap sederhana dan tidak suka berfoya-foya apalagi terlalu berpakaian mewah.

Umar bin Abdul Aziz saat muda lebih mengutamakan ilmu daripada sibuk dengan urusan kekuasaan dan jabatan pemerintahan. Sehingga atas didikan ayahandanya itulah, beliau dlam usianya yang masih belia sudah mampu menghafal Al-Qur’an.

Kemudian Umar meminta ayahnya untuk mengizinkannya melakukan rihlah/perjalanan dalam rangka Thalabul Ilmi (menuntut ilmi). Maka berangkatlah ia menuju ke Madinah, kota yang dahulu ditinggali oleh Rasulullah SAW. Disanalah ia belajar ilmu agama, akhlak dan adan kepada para Alim Ulama dan Fuqoha Madinah.

Di Madinah ini, ia dikenal berilmu dan cerdas, sehingga memang benar jika kelak Allah menakdirkannya menjadi pemimpin yang adil, bijak, dan mahir dalam urusan agamanya.

Proses Kenaikan Tahta Menjadi Khalifah

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa kebanyakan penguasa sangatlah berambisi mengincar kursi kekuasaan. Namun hal ini tidak terjadi kepada Khalifah Umar. Khalifah Umar justru menangis dan ketakutan ketika beliau dianugerahi kekuasaan padanya.

Memang benar, beliau bukanlah yang terlalu digembor-gemborkan untuk menjadi khalifah dari kalangan Bani Umayyah selanjutnya. Keadilan dan sifat mulianya ketika menjabat sebagai gubernur, mampu membuat Khalifah Sulaiman berdecak kagum. Sebelum Khalifah Sulaiman meninggal, beliau membuat surat wasiat agar memilih Umar bin Abdul Aziz menjadi penggantinya kelak.

Setelah Khalifah Sulaiman tutup usia, Umar II dilantik sebagain Khalifah seluruh Umat Islam pada tahun 99 H/717 M. Saat itu seeluruh Umat Islam hadir di kota Damaskus dan berkumpul di masjid untuk menantikan proses pergantian khalifah.

Penasihat kerajaan saat itu, yakni Raja’ bin Haiwah segera berdiri untuk mengumumkan isi surat wasiat Khalifah Sulaiman. Kemudian meminta Umar bin Abdul Aziz untuk berdiri, sebab isi surat wasiat itu muncul namanya. Umar bin Abdul Aziz lah Khalifah selanjutnya.

Umar pun terkejut mendengar hal itu. Namun dengan rendah hati, beliau berdiri dan berucap bahwa pilihan ini sangat tidak pantas diterimanya. Sebab beliau merasa pilihan Khalifah Sulaiman adalah pilihan sepihak, tanpa musyawarah terlebih dahulu dengannya.

Kemudian Umar berseru bahwa ia mencabut ba’iat yang ada pada penasihat kerajaan dan memintanya untuk memilih orang lain yang lebih pantas dari dirinya. Namun seluruh Umat Islam yang hadir saat itu menolak permintaan Umar II tersebut.

Semua sepakat dan meminta beliau untuk menjadi Khalifah selanjutnya. Alhasil karena semua sudah sepakat maka ia menerima pemba’iatan tersebut dengan berat hati. Kemudian Umar menangis karena takut kepada Allah SWT atas ujian yang diterimanya ini. Hebatnya, beliau menolak semua fasilitas dan keistimewaan yang diterima sebagai khalifah. Dan lebih memilih untuktetap tinggal di kediamannya sendiri.

Meski diketahui beliau berat hati menerima jabatan khalifah, namun Umar tetap menunaikan kewajibannya dengan penuh tanggung jawab sebagai seorang khalifah. Keluarganya mendukung dan selalu mengingatkan beliau untuk selalu bekerja keras dan memakmurkan serta menyejahterakan rakyat.

Bahkan Sang anak Abdul Malik tanpa segan menegur dan mengingatkan ayahandanya agar terus bekerja keras memperhatikan kepentingan rakyat dan negara yang dipimpinnya. 

Umar pun bekerja keras siang dan malammembaktikan dirinya bagi rakyat dan umat. Pada era kepemimpinannya inilah, Dinasti Bani Umayyah meraih puncak kejayaan. Semua hak rakyat yang dahulunya terzalimi, mulai kembali merata dan nyata diperoleh oleh rakyat secara menyeluruh. 

Ciri Khas Kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz

Adil, jujur, bijaksana dan sederhana adalah ciri khas Kepemimpinannya. Maka tak heran dan tak salah bila sejarah Islam mencatat Umar bin Abdul Aziz sebagai Khalifah kelima yang bergelar sebagai Amirul Mukminin setelah Khulafa Ar-Rasyidin. Beliau juga disebut sebagai Khalifah Umar II karena kebijaksanaannya seperti Khalifah Umar bin Khattab Ra.

Dan memang darah dan cara kepemimpinannya tak jauh berbeda dengan Umar bin Khattab. Pada masa kepemimpinannya Dinaasti Bani Umayyah mencapai masa kejayaan dan mengharumkan nama islam. 

Khalifah Umar II ini begitu mencintai dan memperhatikan rakyatnya. Ia berserta keluarganya rela hidup sederhana dan menyerahkan harta kekayaannya kepada bait al-mal (Kas Negara), setelah ia diangkat menjadi khalifah.

Dengan kepemimpinan yang gagah berani dan tidak pandang bulu ini, beliau memberantas praktik korupsi yang sudah lazim dilakukan oleh pejabat Umayyah. Tanpa ragu beliau membersihkan harta kekayaan para pejabat yang terbukti korup dan kekayaan dari keluarga Umayyah yang diperoleh dengan cara tidak wajar.

Lalu beliau menyerhakan harta-harta itu kepada kas negara (Bait Al-Mal). Semua pejabat yang terbuktikorup itu dipecat. Langkah ini beliau tempuh guna mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya.

Menurutnya, jabatan bukanlah jalan untuk memperoleh kekayaan melainkan amanah dan beban yang harus ditunaikan secara benar dan kelak akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT.

Ciri khas kepemimpinan yang patut kita jadikan yaitu kesederhanaan beliau. Ketika Umar II terbaring sakit menjelang kematiannya, para menteri kerajaan sempat meminta isteri Amirul Mukminin untuk mengganti pakaian khalifah.

Kemudian isteri dan puteri Khalifah menjawab dengan rendah hati bahwa pakaian yang dimilikinya hanyalah itu saja. Sontak semua menteri terkejut sebab hal ini sangat kontras dengan keadaan rakyat yang kaya raya dan sejahtera. 

Dikisahkan juga bahwa Kahlifah Umarketika diminta untuk memberikan wasiat kepada keluarganya tersebut. Beliau menjawab biarlah anak-anak ku mengurus hidupnya sendiri sebab dirinya tidak memliki apapun untuk diwariskan.

Bahkan kekayaan Baitul Mal saat itu sangat banyak,padahal sudah dikurangi dengan memberikan zakat kepada para hamba sahaya, seorang yang berutang namun tidak boros dan hutang semua orang telah lunas, menikahkan pemuda yang hendak menikah namun tak memiliki biaya dan membayarkan mahar hingga tak tersisa lagi pemuda yang belum menikah, dan membayarkan hak dan gaji semua pegawai di berbagai daerah namun semua gaji dan hak sudah dibayarakan.

Begitu kayanya kekhalifahan Islam saat itu hingga berbagai elemen masyarakat memperoleh manfaat dan kesejahteraan dari pemerintahan Umar II yang anti korupsi dan bersih dari KKN yang sebelumnya menjangkiti keluarga Umayyah. 

Akhir Hayat Khalifah Umar II

Umar bin Abdul Aziz dengan kepemimpinan dan keberhasilannya dalam mengelola negara menjadikan makmur, sejahtera dan keadilan kembali ditegakkan. Namun masa jabatan beliau hanya berjalan selama 29 bulan. Dan beliau dengan masa jabatan yang terbilang sebentar tersebut mampu untuk menjadikan negara makmur, sejahtera dan adil.

Yang sangat berbeda jauh dengan sebelumnya, dimana para penguasa sering berpesta pora tanpa memperdulikan kemiskinan dan kezaliman yang dialami rakyat. Semua rakyat bahagia dan senang terhadap kepemimpinan beliau yang adil tersebut.

Namun ada rakyat yang tidak senang. Bahkan ada yang marah. Mereka adalah mantan pejabat sebelum Umar bin Abdul Aziz. Di tangan Umar,  mereka tidak bisa berkutik sama sekali. Dahulu mereka mampu menikmati kekayaan dengan mewah di atas penderitaan dan tangisan serta darah rakyat. Dan mereka harus mengembalikan semua harta, tanah dan kedzaliman yang pernah melakukan kepada rakyat. 

Penyebab kematian Khalifah Umar bin Abdul Aziz menurut As-Suyuthi dalam Tarikh Khulafa’ (1/215) dan Ali Ash-Shalabi dalam kitab berjudul Umar ibn Abdul Aziz (4/198) adalah diracun oleh para mantan pejabat Bani Umayyah melalui pembantunya.

Pembantunya ini diiming-imingi uang dan dibebaskan dari status budaknya. Umar sebetulnya mengetahui jika ia diracun oleh pembantunya, namun beliau tidak marah dan tidak menhukumnya. Kemudian menyuruhnya untuk melarikan diri dan bersembunyi di tempat yang tidak diketahui orang sedikitpun.

Sebelum pembantunya pergi Khalifah Umar meminta uang yang diberikan untuk pembebasannya, uang itu kemudian diserahkan pada Bait Al-Mal. Khalifah Umar tutup usia pada tahun 101 H/720 M.

Ketika mendengar kabar meninggalnya Khalifah Umar, Kaisar Romawi yang paling sengit memusuhi Islam pada waktu itu berkata bahwa ia tidak heran jika melihat rahib menjauhi dunia dan selalu ibadah, yang ia herankan adalah melihat Khalifah Umar yang seorang raja, memiliki kekayaan begitu banyak, namun malah membuangnya, sehingga ia hanya berjalan kaki dan lebih memilih hidup layak fakir miskin.

Baca Juga;

  1. Biografi Muhammad Al-Fatih (Penakluk Konstantinopel)
  2. Sejarah Nabi Muhammad SAW [Awal/Lahir, Wafat]
  3. Biografi Imam Malik bin Anas [Awal-Akhir]
Semoga dari biografi Umar bin Abdul Aziz dan cerita singkat ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan khalayak umum. Kehidupan dunia adalah alat untuk terus menghambakan diri kepada Allah SWT semata, bukan sebagai sarana untuk bersantai dan bermewah-mewahan dengan yang dimiliki di dunia fana ini. Semoga Istiqomah.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Biografi Umar bin Abdul Aziz [Awal-Akhir] Lengkap"

Posting Komentar