Keumalahayati [Laksamana Wanita Tangguh dari Tanah Rencong]

FaktaTokoh.Com- Mendengar kata pahlawan wanita mungkin yang terlintas dibenak kita adalah sosok R. A. Kartini yang telah memperjuangkan emansipasi bagi para kaum hawa. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap sosok Kartini, masih banyak pahlawan wanita lain dari berbagai pelosok negeri yang turut berjuang untuk menentang penjajahan dan penindasan. Bahkan, jauh sebelum Ibu Kartini berjuang ada sesosok wanita yang dengan gagah berani membela dan memimpin pasukan 2000 janda yang ditinggal mati syahid oleh suaminya dalam perang melawan penjajah. Dialah Keumalahayati atau yang lebih dikenal dengan Laksamana Hayati.

Keumalahayati


Keumalahayati adalah seorang wanita perkasa dari Kesultanan Aceh. Baru saja dianugerahi gelar pahlawan nasional berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 115/TK/Tahun 2017 tanggal 6 November 2017 oleh Presiden Joko Widodo, Laksamana Hayati memang memilki banyak sekali keistimewaan dan fakta menarik yang belum banyak diketahui orang.

Biografi Keumalahayati


Secara biografinya keumalahayati adalah seorang muslimah dari Kesultanan Aceh yang menjadi laksamana perempuan pertama di dunia. Ia merupakan putri dari Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya bernama Laksamana Muhammad Said Syah, putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah Kesultanan Aceh Darussalam sekitar tahun 1530 sampai dengan Tahun 1539 M.

Sultan Salahuddin Syah merupakan putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513-1530 M) yang merupakan pendiri Kesultanan Aceh Darussalam. Melihat silsilah keluarganya, Laksamana Hayati merupakan keturunan darah biru. Namun sayangnya tidak banyak sejarah lanjutan yang menceritakan kehidupannya secara khusus, sehingga saat ini belum diketahui secara pasti kisah hidup dari Keumalahayati.

Meskipun berasal dari keluarga bangsawan, Keumalahayati tak pernah segan untuk ikut berjuang melawan penjajah di Tanah Rencong. Sejak dahulu, Kerajaan Aceh Darussalam hakaketanya telah memiliki Akademi Militer yang bernama "Mahad Baitul Makdis". Akademi Militer ini sendiri terdiri dari jurusan Angkatan Darat & Laut dengan pelatih profesional, kembanyakan bersal dari Turki.

Sebagai anak dari seorang Panglima Angkatan Laut, Keumalahayati memperoleh kebebasan untuk memilih pendidikan yang diinginkan. Setelah menempuh pendidikan agama di Meunasah, RanAkang dan Dayah, Keumalahayati berniat untuk mengikuti jejak ayahnya sebagai Laksamana.

Akhirnya, ia mendaftarkan diri dalam penerimaan calon taruna di Akademi Militer Mahad Baitul Makdis. Dalam masa studinya, Keumalahayati menjadi taruna yang sangat cakap dan berprestasi sehingga ia telihat lebih menonjol dibanding kalangan taruna lainnya.

Pada saat ini pula ia bertemu dengan senior angkatan laut yang kelak akan menjadi suaminya. Perjuangan Laksamana Hayati dimulai saat terjadi perang di Selat Malaka antara Portugis dengan Kesultanan Aceh yang dipimpin oleh Sultan Alauddin Riayat Syah Al-Mukammil. Pada pertempuran ini, Armada Aceh harus kehilangan ribuan prajurit dan dua laksamana yang salah satunya adalah suami dari Keumalahayati yang merupakan Komandan Protokol Istana Darud-Dunia.

Perjuangan Keumalahayati

Setelah suaminya meninggal, Keumalahayati bertekad untuk meneruskan perjuangan hingga titik darah penghabisan. Perjuangan ia lanjutkan dengan membentuk armada yang terdiri dari janda-janda yang ditinggal suaminya gugur dalam medan perang.

Keumalahayati kemudian diangkat menjadi pemimpin dan dikenal dengan nama Laksamana Hayati. Armada ini diberi nama Inong Bale yang berarti Armada Wanita Janda. Laksamana Hayati bersama dengan armadanya kemudian mendirikan benteng Inong Balee di sekitar Teluk Krueng Raya. 

Benteng ini memiliki tinggi sekitar 100 meter diatas permukaan air laut dengan lubang meriam yang moncongya menghadap ke laut lepas. Pada tahun 1599, kapal dagang Belanda yang dipimpin oleh Cournelis de Houtman dan Frederick de Houtman datang untuk melakukan hubungan jual beli dengan Kesultanan Aceh.

Pada awalnya, kedatangan mereka disambut baik oleh rakyat Aceh dengan harapan dapat membangun kerjasama yang saling menguntungkan. Kenyataannya, hubungan perdagangan ini tidak berjalan mulus dan terjadi ketegangan diantara kedua belah pihak.

Laksamana Hayati memimpin armada Inong Balee untuk melawan pasukan Belanda tersebut. Hasilnya, Cournelis de Houtman tewas terbunuh di tangan Keumalahayati dengan rencongnya dalam pertarungan satu lawan satu di atas dek kapal sedangkan Frederick de Houtman tertangkap dan dijebloskan ke dalam penjara selama 2 tahun. Keberhasilan kepemimpinan Laksamana Hayati ini adalah prestasi yang sangat luar biasa.

Tidak hanya menjadi laksamana dan Panglima Armada Angkatan Laut Kerajaan Aceh, ia juga menjadi Komandan pasukan Wanita Pengawal Istana. Lebih dari itu, ia juga merupakan seorang diplomat dan juru runding yang handal.

Hal ini dibuktikan pada berbagai perundingan dengan Belanda maupun lnggris. Karakternya yang tegas dan disiplin mencerminkan pribadinya sebagai seorang militer. Tetapi dalam menghadapi perundingan, ia mampu bersikap luwes tanpa mengorbankan prinsip.

Laksamana Hayati juga mengambil peran dalam menyelesaikan intrik kesultanan. Peristiwa ini diawali dengan suksesi kepemimpinan di Kesultanan Aceh, Sultan al-Mukammil menobatkan anak lelaki tertuanya sebagai pendamping dirinya.

Namun sayangnya sang putra berkhianat kepada ayahnya dan mengangkat dirinya sendiri menjadi Sultan Aceh dengan gelar Sultan Ali Riayat Syah. Pada masa awal kepemimpinannya, Kesultanan Aceh ditimpa berbagai macam bencana mulai dari kekeringan hingga perang saudara.

Melihat kelakuan Sultan Ali Riayat Syah yang seakan enggan menyelesaikan masalah membuat rakyat dan pihak kesultanan kecewa. Salah satu tokoh yang sangat kecewa yaitu Darmawangsa Tun Pangkat, saudaranya sendiri. Karena dianggap sebagai pemberontak, Darmawangsa akhirnya ditangkap dan dipenjara.

Pada Juni 1606, Portugis menyerang Kesultanan Aceh. Saat itu, Darmawangsa masih ada di dalam penjara. Dengan dukungan dari Laksamana Hayati, akhirnya Darmawangsa dibebaskan dan diijinkan untuk ikut bertempur.

Pertempuran ini berhasil dimenangkan oleh Kesultanan Aceh. Dampak dari keberhasilan Darmawangsa dalam mengalahkan Portugis membuat rakyat menganggap Sultan Ali Riayat Syah sudah tidak cakap lagi dalam memimpin. Selengkapnya, baca; Fakta - Fakta Tokoh Pahlawan Nasional Wanita Dari Aceh

Akhirnya Sultan Ali Riayat Syah diturunkan dan digantikan oleh Darmawangsa. Peristiwa pergantian Sultan dan pengangkatan Darmawangsa sebagai Sultan Aceh juga tak lepas dari campur tangan Laksamana Hayati. Darmawangsa akhirnya memimpin Kesultanan Aceh dengan gelar Sultan Iskandar Muda pada periode 1607 – 1636 M. Pada masa kekuasaan ini, Kesultanan Aceh mencapai puncak kejayaan.

Akhir hayat dari Laksamana Hayati belum diketahui secara pasti. Diduga, ia terbunuh dalam perang melawan Portugis pada tahun 1608. Jasadnya kemudian dimakamkan di pedalaman desa nelayan. Kehebatannya sebagai seorang wanita yang berani berdiri melawan penjajahan patut diacungi jempol.

Sifatnya yang rendah hati namun tegas juga perlu dicontoh oleh generasi muda masa kini. Terimakasih Laksamana Hayati, engkau sudah rela mengorbankan nyawa bagi kemerdekaan bangsa dan negara. Terimakasih juga karena engkau telah memperjuangkan hak-hak kaum wanita yang tertindas.

Demikianlah penjelasan dan serngakaian tulisan mengenai Keumalahayati, seorang Laksamana Wanita Tangguh dari Tanah Rencong. Semoga dengan adanya tulisan ini bisa memberikan wawasan dan juga pengetahuan yang mendalam. Penulis dalam artikel ini adalah Frida Prasetyo Utami.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Keumalahayati [Laksamana Wanita Tangguh dari Tanah Rencong]"

Posting Komentar