Biografi Imam Syafi’i Singkat/Lengkap


Imam Syafi’i, ketika kita mendengar namanya maka akan terbayang seorang yang sangat dikagumi, ditaati dan disayangi oleh umat Islam pada masanya. Hingga detik ini pun namanya selalu dikenang oleh umat Islam seluruh dunia, sebab beliau selalu berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam memutuskan suatu perkara berkepribadian baik. Atas dasar sinilah nama beliau termasuk salah satu dari Imam Madzhab yang Empat yang masih eksis dan termasuk Indonesia sebagai pengikut Madzhab beliau yaitu Syafi’iyyah.

Biografi Imam Syafi’i


Imam Syafi’i memiliki nama lengkap Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i Al-Muthallibi Al-Quraisyi. Dilahirkan di desa kecil Asqalan, yang ada di Gaza, Palestina pada tahun 150 H/767 M. Beliau lahir dari rahim seorang wanita yang memiliki nama Fatimah binti Utsman Al-Uzdiyah.

Ayahnya memiliki nama Idris bin Syafi’ bin Al-Muthallibi bin Abdu Manaf. Jadi jika dilihat dari nama lengkap, maka nama panggilan beliau yang masyhur dinisbatkan kepada kakeknya.

Ketika Imam Syafi’i dilahirkan ada dua kejadian yang diluar nalar dan mencengangkan dunia terjadi:

  • Semasa Imam Syafi’i masih berada dalam kandungan, pada suatu malam ibunya bermimpi bahwa ada bintang keluar dari perut ibunya, dan terus tinggi terbang ke langit, kemudian tercerai berai menerangi lingkungan-lingkungan sekitarnya. Dari kejadian ini maka ini merupakan mimpi yang baik, pertanda bahwa kelak Imam Syafi’i akan menjadi sosok bagai bintang (ilmunya) akan menerangi dunia bukan hanya di Arab.
  • Ketika Imam Syafi’i kecil lahir, ada dua orang ulama’ besar meninggal dunia yaitu Imam Abu Hanifah (Imam Madzhab Hanafiyyah) dan Imam Juraij Al-Makky (Seorang mufti di Hijaz saat itu). Sebagaimana santer berita beredar dan sesuai firasat banyak orang bahwa kelak anak yang lahir saat itu (Imam Syafi’i) akan mampu menggantikan beliau-beliau berdua baik dari segi keilmuan maupun kecerdesannya.

Imam Syafi’i lahir dalam keadaan yatim dan miskin saat itu. Beliau lahir di lingkungan penduduk Yaman yang menetap di Asqalan, Gaza. Ibundanya sendiri, Fatimah juga merupakan penduduk asal Yaman yakni tepatnya berasal dari daerah Azdiyah. Bahkan dikisahkan bahwa karena miskin, Imam Syafi’i tidak mampu membayar biaya pendidikan saat itu untuk guru-gurunya.

Menginjak usia dua tahun, ibunda Imam Syafi’i mengajaknya untuk pindah ke Hijaz. Kemudian keduanya menetap disana. Ketika menginjak usia sepuluh tahun, Syafi’i kecil diajak pindah lagi ke Makkah. Alasan pindah untuk kesekian kali ini, karena ibunya khawatir kelak Imam Syafi’i akan melupakan nasabnya dari ayahnya.

Nasab dan Keluarga Imam Syafi’i


Adapun nasab-nasab Imam Syafi’i baik dari jalur ayah maupun ibunya, kesemuanya memiliki nasab dari orang-orang mulia. Jika kita rinci nasab dari ayah dan ibunya: maka ayahnya bernama Muhammad bin Idris bin Al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin As-saib bin Ubaid bin Abdu Yazid bin Hasyim bin Muthallib bin Abdu Manaf bin Qusayyi bin Kilab bin Murrah. Nasab Imam Syafi’i ternyata bertemu dengan sejarah Nabi Muhammad SAW pada Abdu Manaf bin Qusayyi.

Sedangkan nasab dari ibunya secara rinci yaitu ibunya bernama Fatimah binti Abdullah bin Hasan bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Sebagaimana diketahui dalam sejarah orang-orang arab bahwa nasab Hasyimiah tidak melahirkan keturunan kecuali Khulafa’ Ar-Rasyidin Ali bin Abi Thalib Karrama Allahu Wajhahu dan Imam Syafi’i.

Dari nasab ayah dan ibunya ini dapat diketahui bersama bahwa Imam Syafi’i adalah orang yang mulia selain dari nasabnya secara keseluruhan dan mulia dari segi keilmuan dan kecerdasannya.

Kemudian beliau menikah dengan seorang gadis yang bernasab mulia juga, memiliki nama Hamidah binti Nafi’ bin Unaisah bin Amru bin Utsman bin Affan. Nasab isterinya juga bernasab sambung sampai kepada Khalifah Utsman bin Affan. Dari isterinya ini, Imam Syafi’i memiliki anak yang berjumlah tiga orang (satu laki-laki dan dua orang perempuan) yaitu terdiri dari Abu Usman Muhammad (laki-laki), Fatimah (perempuan) dan Zainab (perempuan). Anak laki-lakinya tersebut kelak menjadi seorang hakim di kota Halib, Syam (saat ini masuk negara Syiria).

Rekam Jejak Pendidikan Imam Syafi’i

Karena sejak lahir beliau tidak lahir dalam keadaan kaya raya (miskin), beliau cukup kesulitan dalam membayar biaya pendidikannya ketika ibunya menyerahkan Imam Syafi’i ke bangku pendidikan. Meskipun begitu, Imam Syafi’i kecil tidak patah semangat dan menyerah begitu saja.

Dari keadaannya yang terbatas itu malah menjadikannya sebagai sebuah lecutan untuk terus menuntut ilmu tanpa lelah. Para guru yang mengajarnya tak memperoleh upah sedikitpun dan hanya berfokus pada pengajaran.

Akan tetapi setiap kali seorang guru mengajarkan sesuatu kepada murid-muridnya, maka dengan ketajaman akal pikiran milik syafi’i kecil, ia mampu menangkap semua penjelasan dan perkataan gurunya. Setiap gurunya selesai mengajar dan hendak meninggalkan tempat, Syafi’i kecil mengajarkan kembali apa yang ia dengar dan fahami kepada anak-anak lain.

Sehingga dari apa yang dilakukannya itu ia mampu untuk mendapatkan upah untuk membiayai pendidikannya.

Selain itu karena lahir dari keterbatasan ekonomi saat di Makkah, beliau kesulitan sekali untuk membeli kertas, akan tetapi tak membuatnya menyerah dan pasrah. Imam syafi’i muda memutar otaknya dan mengambil  tulang belulang untuk dijadikan media belajar pengganti kertas. Sungguh keras dan sulit hidup Imam Syafi’i saaat itu.

Namun dari keterbatasannya itu tak membuatnya tidak bisa berprestasi. Di usia yang masih muda yakni 7 tahun beliau sudah mampu menghafal Al-Quran dengan baik. Dan hafal kitab Al-Muwatha’ karangan gurunya, Imam Malik pada usia 10 tahun.

Yang lebih mengagumkan lagi, di usia menginjak masa puber, 13 tahun, beliau sudah memperdengarkan bacaan Al-Quran kepada orang-orang di Masjidil Al-Haram. Beliau dikaruniai suara yang sangat merdu.

Hal ini sebagaimana hadith yang diceritakan dari Imam Hakim berasal dari riwayat Bahr bin Nashr, bahwa dia berkata: “Jika kami ingin menangis, kami mengatakan kepada sesama teman untuk “Pergilah kepada Syafi’i!”.

Jika kami telah dihadapannya, dia mulai membuka dan menbacakan ayat Al-Qur’an sehingga seluruh manusia yang ada di sekitarnya berjatuhan di hadapan Syafi’i lantaran menangis tersedu-sedu. Kami terkagum dengan keindahan dan kemerduan suaranya.

Sedemikian tinggi ia memahami Al-Qur’an sehingga sangat berkesan sekali di telinga para  manusia yang mendengarnya”. Dan yang sangat mengagumkan adalah saat Imam Syafi’i berusia 15 tahun oleh guru dan ulama’masa itu, ia sudah diperbolehkan untuk mengeluarkan fatwanya sendiri. Sungguh usia yang sangat barokah dan penuh dengan decak kagum yang dimiliki Imam Islam ini, Imam Syafi’i.

Kembali ke masa menuntut ilmu di Makkah, Imam Syafi’i mendengar kemasyhuran kitab Al-Muwaththa karya Imam Malik. Imam Syafi’i pun akhirnya memutuskan untuk bersungguh-sungguh untuk menghafalkan kitab tersebut dan berharap bisa bertemu dengan pengarangnya secara langsung. 

Singkat cerita, akhirnya Imam Syafi’i mampu untuk menemui Imam Malik secara langsung dan berguru langsung padanya. Ketika Imam Syafi’i diminta gurunya untuk membacakan hadith dari kitab Al-Muwaththa’, gurunya (Imam Malik) sangat terpesona dengan bacaan Imam Syafi’i yang sangat fashih.

Setelah Imam Malik meninggal dunia, Imam Syafi’i kemudian pergi ke Yaman. Tujuan awal beliau pergi ke Yaman adalah untuk berdagang. Namun disana masih sempat berguru pada Hisyam bin Yusuf. Semakin tinggi pohon maka semakin besar angin menerpanya. Selengkapnya, baca; Biografi Imam Malik bin Anas

Dari ungkapan ini memang benar nyata dirasakan oleh Imam Syafi’i. Ketika kemulian beliau semakin tinggi, para rekan kerjanya merasa telah disaingi dan kemudian memfitnah Imam Syafi’i sebagai seorang Alawiyyin yang akan memberontak kepada kekhalifahan saat itu, Khalifah Harun Ar-Rasyid.

Kemudian berita tersebut terdengar hingga ke telinga khalifah dan dipanggillah Imam Syafi’i untuk diadili di Baghdad. Namun karena tidak terbukti sama sekali tuduhan tersebut maka Imam Syafi’i selamat dari pengadilan.

Di baghdad, Imam Syafi’i menjadi tamu bagi Muhammad ibn Al-Hasan, murid dari Imam Abu Hanifah. Sungguh sangat beruntungnya beliau, gagal diadili namun menjadikannya memanfaatkan kesempatan untuk berguru secara langsung kepada murid Imam Abu Hanifah. Kelak dari gurunya tersebut, mulai terbentuklah cara berfikirnya. Pemikiran yang moderat antara logika, Al-Qur’an dan Hadith.
Cikal Bakal Muncul dan Berkembangnya Madzhab Syafi’iyyah

Setelah dirasa masa berguru kepada Muhammad ibn Al-Hasan usai, Imam Syafi’i kemudian kembali menuju Makkah. Disana beliau membuka sebuah Halaqah. Di Halaqah tersebut hadir pula Ahmad ibn Hanbal dan murid-murid beliau yang lain. Dari Halaqah tersebut kelak mejadi cikal bakal kelahiran Madzhab Syafi’iyyah.

Tak berhenti disitu, Imam Syafi’i meneruskan Rihlah/perjalanan keilmuannya. Dari Makkah beliau kembali lagi menuju Baghdad, namun tujuan berbeda yang beliau usung. Tidak seperti tujuan awalnya yaitu untuk berguru. Kali ini beliau kembali kesana bertujuan untuk menyebarkan madzhabnya.

Karena saat itu, Baghdad menjadi Ibukota dari Dinasti Abbasiyah. Disana Imam Syafi’i kembali membuat sebuah Halaqahnya di Masjid Abu Ja’far Al-Manshur. Di Baghdad ini pula, Imam Ahmad bin Hanbal kembali berguru pada beliau. Banyak diantara murid beliau disana yang kemudian memiliki peran besar dalam menyebarkan Madzhabnya, yakni Abu Tsaur, Abu Ali Al-Karabisi, dan Al-Hasan Al-Ja’farani.

Lagi-Lagi Imam Syafi’i melanjutkan safari keilmuannya. Tujuan beliau selanjutnya yaitu Mesir. Beliau datang ke Mesir pada tahun 199 H atau kisaran 814/815 M. Di masa awal pemerintahan Khalifah Al-Ma’mun. Di Mesir, beliau memberikan ilmunya pada murid-muridnya, diantaranya yaitu Al-Buwaithi, Al-Muzani, Ar-Rabi Al-Muradi.

Kemudian Imam Syafi’i kembali lagi ke Baghdad dan mukim disana selama satu bulan. Dan akhirnya memutuskan kembali ke Mesir. Tinggal di Mesir hingga akhir hayatnya. Beliau meninggal pada malam Jum’at bulan rajab tahun 204 H/820 M.

Keistimewaan dan Sifat Tauladan Imam Syafi’i

Disini akan kami paparkan beberapa poin penting jika ada kesamaan maka akan kami himpun dalam satu poin.
  • Memiliki pengetahuan yang luas dalam bidang sastra dan nasab. Yang sejajar dengan pendahulunya. Sebagaimana sesuai dengan hadith riwayat Ibnu Majah dalam Kitab wasiat bab “Qismah Al-Khumus; hadith no. 2329, bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Sesungguhnya keturunan Bani Hasyim dan Bani Muthallib itu hakikatnya satu”.
  • Sangat mengerti dan memahami Ilmu tentang Sunnah, beliau mampu membedakan antara hadith shahih dan dha’if, dan ilmu tentang ushul fiqh, mursal, maushul serta memahami sekali antara lafadz ‘Am dan Khas.
  • Kuat dalam hafalan Al-Qur’an dan pemahamannya terkait yang wajib, sunnah, serta cerdas semua bidang ilmu pengetahuan. Dan tidak semua mampu melakukannya.
  • Imam Ahmad bin Hanbal menyebut beliau sebagai salah satu orang yang teliti terhadap hadith Imam Abu Hanifah dan tidak pernah ada yang berani melakukannya sebelumnya. Imam Syafi’i menurutnya sangat memahami AL-Qur’an dan Sunnah serta teliti terhadap hadith Imam Abu Hanifah.
  • Beliau adalah orang yang rendah hati dalam berilmu, jika beliau merasa dirinya salah dan tidak mengetahui tentang suatu keilmuan maka ia akan segera mencari kebenaran daari orang lain dan tidak mudah menyalahkan orang lain yang masih belajar padanya.
  • Sabda Nabi SAW untuk kalangan Quraisy banyak yang menjadi kenyataan. Yaitu riwayat Abu Hurairah Ra., Rasulullah pernah bersabda bahwa Rasulullah memohon pada Allah agar memberikan petunjuk pada kaum Quraisy, karena memang Nabi mengetahui bahwa kelak orang alim Quraisyi ilmunya akan memenuhi dunia. Sebagaimana diketahui sebelumnya bahwa Imam Syafi’i adalah keturunan Quraisyi Bani Muthallibi. (khatib dalam Tarikh juz 2, hal. 61).

Kitab-kitab Karangan Imam Syafi’i

Selain aktif berdakwah dan mengajar Imam Syafi’i juga dikenal memiliki kegiatan menulis semasa hidupnya baik itu karangan sendiri atau merupakan hasil himpunan dari muri-muridnya, terdiri dari :
  • Ar-Risalah Al-Qadimah (Kitab AL-Hujjah)
  • Ar-Risalah Al Jadidah
  • Ikhtilaf Al-Hadith
  • Ibtihal AL-Istihsan
  • Ahkam Al-Qur’an
  • Bayadh Al-Fardh
  • Sifat AL-Amr wa Al-An-Nahyi
  • Ikhtilaf al-Malik wa Asy-Syafi’i
  • Ikhtilaf Al-Iraqiyyin
  • Ikhtilaf Muhammad bin Husain
  • Fadha’il Al-Quraisyi
  • Kitab AL-Umm
  • Kitab As-Sunan.

Wafatnya Imam Syafi’i

Beliau wafat pada malam Jum’at di bulan Rajab tahun 204 H/820 M. Beliau menderita ambeien pada akhir hayatnya, yang kemudian menyebabkan beliau wafat. Beliau wafat di Mesir. Dan kemudian di makamkan di Kairo, dekat Masjid Yazar, berada dalam lingkungan perumahan yang bernama Imam Syafi’i.

Demikian biografi singkat dan sepak terjang Imam Syafi’i yang dapat kami penakan. Mohon maaf jika ada kesalahan di sana-sini. Semoga Allah menempatkan Imam Syafi’i dalam surga-Nya, Firddaus dan dikumpulkan bersama orang-orang shalih terutaman Nabi Muhammad Saw. Amin.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Biografi Imam Syafi’i Singkat/Lengkap"

Posting Komentar