Sultan Hamengku Buwono XI dan 7 Fakta Yang Harus Kamu Baca!

FaktaTokoh.Com- Setiap bangsa memerlukan peristiwa bersejarah untuk dikenang guna membangun kepercayaan diri dan mengukuhkan jati diri bangsa. Bung Karno berpesan “belajarlah dari sejarah”. Bangsa yang lupa sejarahnya adalah bangsa yang hilang, dan rakyat tanpa masa lalu adalah rakyat yang tiada memiliki semangat kejuangan.

Jika tidak belajar dari sejarah maka kita akan mengulangi kesalahan masa lalu dan harus memulainya dari awal.  Hal itu cukup mendefinisikan akan pentingnya sejarah bagi majunya peradaban dan sekaligus memberikan pengetahuan moral.

Bangsa Indonesia dengan segala sejarahnya memunculkan anak bangsa dengan sikap dan kepiawaian yang patut kita teladani. Salah satu keteladanan yang perlu kita ingat ialah perjuangan para pendiri bangsa untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Karena para pendahulu sudah banyak yang tidak bersama kita, maka hal yang bisa dilakukan ialah menggali sejarah mereka dengan menapaki jejak-jejak dan kontribusi mereka dalam kemerdekaan Indonesia.

Hamengku Buwono XI


Salah satu tokoh pembawa pengaruh besar bagi kesejarahan Indonesia adalah Sultan Hamengku Buwono IX dimana secara biografinya beliau adalah Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta mulai tahun 1945.Dalam bidang pemerintahan pusat, Sultan Hamengku Buwono IX pernah menjabat sebagai menteri perekonomian, wakil presiden, menteri pertahanan, ketua Badan Pemeriksa Keuangan, ketua olimpiade, bapak pandu Indonesia, ahli budaya, danpolitikus

Pada masa sebelum kemerdekaan, Sultan Hamengku Buwono IX adalah seorang Raja Negara Yogyakarta. Beliau lahir pada bulan April tahun 1912 dari rahim R.A. Kustilah atau Kanjeng Raden Ayu Adipati Anom, seorang putri Pangeran Mangkubumi yang merupakan garwa padmi Sultan Hamengku  Buwono VIII.  Nama kecilnya adalah Gusti Raden Mas Dorojatun. 

Banyak orang mempertanyakan   mulai dari seberapa besar peran Sri Sultan Hamengku Buwono IX dalam kemerdekaan NKRI (Negara Republik Indonesia), apa yang akan terjadi dengan Indonesia bila tidak ada Sultan, apa saja pemikiran Beliau dan pertanyaan-pertanyaan lain.

Dalam beberapa buku dan sumber jarang sekali menceritakan mengenai cerita hidup Sultan Hamengku Buwono IX. Demikian dengan buku dipasaranpun juga tidak ada yang mengedarkan autobiografi  Beliau.

Ketiadaan tokoh sejarah yang dapat menyorotinya secara menyeluruh membuat fakta-fakta mengenai Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjadi kabur padahal Beliau adalah sosok ikon yang perlu untuk disoroti dengan segala pemikiran dan jejak-jejaknya. Jarang dituliskannya tokoh Sultan dalam ke buku dikarekan minimya sumber mengenai Beliau. 

Sultan Hamengku Buwono IX adalah sosok yang pendiam sehingga kisah hidup Beliau tidak mudah untuk diceritakan. Keterangan-keteranganmengenai Beliaupun susah untuk diungkap. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengetahui keteladanan Sultan ialah melihatkembali tentang apa yang Beliau kerjakan atas cerita-cerita sahabatnya yang tertulis bercecer di beberapa sumber.

Fakta-Fakta Sultan Hamengku Buwono XI


Fakta-fakta Sri Sultan Hamengku Buwono IX saat ini masih menjadi misteri bagi beberapa orang. Oleh karena itu artikel ini akan membawa pembaca agar mengetahui fakta tersebut. Berikut merupakan penjelasannya.

Nasionalis

Sultan Hamengku Buwono IX notabenya adalah seorang Raja Yogyakarta pada era sebelum kemerdekaan. Pengangkatannya sebagai seorang raja diresmikan oleh Belanda pada tanggal 18 Maret 1940. 

Cerita hidupnya yang erat dengan orang-orang kolonial tak urung membuat dirinya berjiwa keindonesiaan dan kejawaan. Hal tersebut terbukti ketika pasca Indonesia merdeka Sultan mengucapkan selamat atas kemerdekaan RI (Republik Indonesia) lewat pesawat telepon kepada Presiden Ir, Soekarno.

Pada tanggal 5 bulan Septembertahun 1945 secara langsung Sri Sultan menyatakan diri bahwa daerah kekuasaannya (Daerah Istimewa Yogyakarta sekarang) memasukan diri sebagai bagian Republik Indonesia yang memiliki sistem pemerintahan otonom atau keistimewaan.

Negara Yogyakarta yang mempunyai sistem pemerintahan sendiri tetap bersih keras menjadi bagian NKRI walaupun secara konstitusi Indonesia merupakan negara yang baru saja merdeka dan masih dalam situasi genting, padahal disisi lain Belanda menawarinya untuk menjadi raja Jawa apabila Sultan berpihak kepadanya, akan yang tetapi Beliau menolak keras terhadap hal itu dan memilih untuk tetap berpihak pada NKRI.

Hal kedua yang menunjukan sifat nasionalis Sultan ialah kemauan Beliau untuk menyumbangkan harta Kraton sebesar 6 juta Gulden untuk membiayai perang Indonesia dengan Belanda. Tidak hanya itu, saat terjadi huru-hara di Jakarta pada bulan Desember yang dilakukan oleh tentara NICA dimana pada pertistiwa tersebut mengakibatkan 80.000 orang tewas dan merusakkan bangunan-bangunan terutama gedung pemerintahan.

Melihat keadaan tersebut Sri Sultan menyatakan agar Ibukota Indonesia sementara dipindahkan ke Yogyakarta. Kepindahan Ibukota ke Yogyakarta membuat Sultan untuk menyiapkan segala peralatan dan kebutuhan pemerintah Indonesia.

Sifat nasionalis Sultan Hamengku Buwono IX juga ditunjukan lewat pidatonya sebagai berikut : “Walaupun saya telah mengenyam pendidikan Barat yang sebenarnya, tetapi pertama-tama, saya adalah dan tetap orang jawa. Sepanjang tidak menghambat kemajuan, adat akan menduduki tempat utama dalam Kraton  yang mewarisi tradisi tersebut”. Hal ini mendidentifikasikan bahwa Beliau tidak tercabut jati dirinya sekalipun sudah perbenddikan barat dari usia lima tahun.  Sungguh suatu keteladanan.

Seorang Agamis dan Budayawan

Sebagai seorang raja jawa yang bergelar Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun  Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Ingalaga Ngabdurakhman Sayidin Panatagama Kalifatullah Ingkan Jumeneng Kaping Sanga. Mempunyai arti bahwa selain sebagai Sultan, Beliau juga merupakan pemimpin agama.

Agama yang dipimpinnya ialah agama yang didalamnya mengandung tradisi jawa tau juga disebut pemeluk agama Islam dan Kejawen. Semasa hidup, Beliau memancarkan karisma spiritual karena kebiasaan beliau yang rendah hati, hidup lurus, dan ikhlas dalam memimpin.  Melakukan berbagai hal dengan amalan Panca Laku: rendah hati, lurus, tulus, hatinya tidak terikat pada dunia, mengerjakan amanah karena Tuhan.

Dalam upacara-upacara keagamaan dalam Kraton, Sutanlah yang memimpin upacara tersebut. Melekatnya tradisi menyatu dalam keagaan Islam yang dianutnya. Hal ini yang Sultan menjalani sikap-sikap yang menjadi syarat menjadi kesatria jawa pada masa Islam yaitu;
  1. Senang menuntut ilmu
  2. Dapat membaca Alquran
  3. Dapat membaca dan menulis
  4. Menaati aturan
  5. Mempunyai ketangkasan menaiki kendaraan
  6. Pandai menari
  7. Pandai memainkan gendhing jawa
  8. Paham tembang gedhe dan pahan jawa kuna
  9. Menguasai ilmu dan siasat perang
  10. Tanggap perubahan zaman, tau sopan santun.

Ahli Diplomatik

Sultan Hamengku Buwono adalah sosok raja cerdas. Pemikiran yang iadapatkan tak lain dari keluarganya dan dari pendidikan tinggi di Negeri Belanda. Sebagai mahasiswa Leiden yang mengharuskan untuk dapat berbahasa Belanda, Jerman, Ingris, Perancis, dan Latin.

Sultan menitik beratkan untuk belajar mengenai indologi , hanya saja Beliau tidak menyelesaikan kuliah dikarenakan di Benua Eropa sedang terjadi Perang Dunia Kedua yang mengakibatkan situasi di negara-negara Eropa genting dan kacau, padahal skripsi sudah siap untuk diujikan.

Peristiwa kritis di Benua Eropa mengharuskan Sultan untuk pulang. Sesampainya di Indonesia, Sultan kemudian dijemput ayahnya dan diberikanlah keris Kyayi Jaka Piturun yang merupakan simbolis sebagai putra mahkota.

Beberapa hari kemudian Hamengku Buwono VIII wafat dan singasana kosong. Tak lama itu kemudian terpilihlah Raden Mas Dorojatun untuk menjadi raja Yogyakarta yang kemudian disebut sebagai Sultan Hameku Buwoo IX. 

Kepiawaian diplomatik Beliau membuat Belanda dan Jepang takhluk dan sungkan. Hal itu terbukti dengan catatan sejarah yang mengatakan pada suatu ketika Sultan Hamengku Buwono IX berunding dengan perwakilan Belanda yang keduanya itu sedang membahasa mengenai jabatan dan tugas Patih dalam Kraton. Perundingan ini baru selesai setelah berlangsung tiga bulan.

Contoh kepiawaian diplomatik Sultan yang kedua yaitu pada masa Jepang. Pada pendudukan Jepang, hampir seluruh wilayah Indonesia terjadi kerja Romusha tapi lain halnya di Yogyakarta. Pada masa itu Yogyakarta malah mendapat dana untuk membuat saluran air sebagai sarana irigasi perairan sawah di perkotaan. Pembangunan Selokan Mataram itu menyebabkan rakyat Yogyakarta masa itu diperbantukan untuk diwilayahnya sendiri dan tidak dibuang untuk menjadi romusha di luar Yogyakarta. 

Contoh ketiga mengenai kelihaian diplomatik Sultan ialah keberhasilan Beliau dalam berdiplomasi dengan dua negara penjajah yaitu Belanda dan Jepang. Diplomasi ini dilakukan dalam rangka menjalin hubungan baiksekaligus pencarian dana untuk mengatasi krisis yang berada di Indonesia pada tahun 1960-an Di tambah bantuan Amerika, ke empat negara ini membentuk organisasi dengan nama Inter-Govermental Groub on Indonesia  dalam rangka penggalangan dana karena tidak ada pemasukan sedikitpun untuk kas negara Indonesia.

Selain itu Sultan juga mengupayakan agar pemerintah Indonesia bekerjasama dengan pengusaha asing yang tau integritas Sultan hingga akhirnya terbangunlah program PELITA (Pembangunan Lima Tahun) sejak tahun 1968. 

Sosok Misterius dan Pendiam

Kasultanan Yogyakarta adalah kesultanan pertama yang bergabung dengan republik Indonesia. Hal itu berarti bahwa seorang raja mau mendukung terbentuknya pemerintahan Indonesia. Padahal tanpa masuknya yogya menjadi wilayah NKRI negara Yogyakarta akan tetap ada, karena Yogyakarta adalah bagian dari voorstenlanden.

Sampai sekarang belum adanya jawaban yang jelas alasan utama mengapa Sultan Hamengku Buwono pada waktu itu menyatakan diri sebagai bagian dari NKRI dan tunduk akan konstusinya. Padahal perlu diketahui bahwa Indonesia memiliki warisan utang Belanda kepada luar negeri sejak tahun 1896.

Kemisteriusan Sultan Hamengku Buwono selanjutnya yaitu jiwa dan kepribadian beliau tetap Jawa meskipun berpendidikan barat dan tinggal bersama orang Belanda sedari umur 5 tahun. Kejawaan Beliaupun tidak luntur sedikitpun walau telah lama tinggal di Belanda. Hal ini membuat para sejarawan bertanya-tanya mengenai cara mendidik Sultan hamengku Buwono VIII kepada Putra Mahkota tersebut.

Kemisteriusan Sultan Hamengku Buwono IX juga hadir dalam versi mistis. Tersirat kabar bahwa ketika masa perundingan yang alot bersama Belanda yang tidak kunjung selesai Sultan Hamengku Buwono IX kemudian menandatangai perjanjian itu atas perintah hal gaib. Dan yang terakhir yang penulis ketahui dari misteri Sultan Hamengku Buwono IX yaitu seolah-olah mengetahui hari kematiannya. Seingga penobatan Putra Mahkota dilakukan secepat mungkin.

Bagi masyarakat umum seperti apakah sosok dan bagaimanakah pemikiran Sultan Hamengku Buwono IX juga belum diketahui. Dalam beberapa sumber yang beredar di masyarakat umum beliau lebih sering hanya terdiam ketika diwawancarai.

Dalam kehidupan biasa Sultan hamengku Buwono merupakan pribadi yang pendiam bukan hanya bagi masyarakat umum, melainkan juga masyarakat Keraton. Bahkan saat meresmikan jembatan antara Tempel, Yogyakarta dan Salam, Jawa Tengah Sultan hanya memberi kata sambutan yang sangat singkat dan tak banyak bicara sesudahnya.

Sikap diam Beliau juga dilakukan tatkala menjabat sebagai Wakil Presiden era Soeharto tahun periode 1973 sampai Tahun 1978. Dalam melaksanakan jabatan tersebut mengaku terjadi persilangan pendapat dengan Presiden Soeharto, akan tetapi Beliau memilih diam dan menyembunyikan hal-hal yang terjadi. Selengkapnya, baca; 11+ Fakta Soeharto Yang Wajib Anda Ketahui!

Sampai sekarang rahasia konflik itu belum juga terbongkar. Pernah suatu ketika Sultan Hamengku Buwono X sewaktu masih menjadi putra mahkota diberi pertanyaan oleh Sultan Hamengku Buwono IX untuk memiliki mulya atau mukti.

Sultan Hamengku Buwono X memilih mukti karena berpendapat bahwa seseorang yang mukti akan lebih berguna bagi masyarakat banyak. Kemudian Sultan Hamengku IX meminta kepada Putra Mahkota untik berjanji, salah satunya ialah bahwa sang putra harus lebih bisa mengatakan yang benar itu benar dan yang salah adalah salah karena Sultan Hamengku Buwono IX mengaku bahwa perbuatan diamnya ini ternyata salah dan malah mengakibatkan yang tidak baik bagi masyarakat.

Sederhana 

Menurut kesaksian nyata narasumber dalam buku “Hamengku Buwono IX: Inspiring Prophetic Leader” dikisahkan bahwa dalam penampulan dan seharian Belaiu adala sosok sederhana. Contohnya ketika bergaul dengan teman-temannya Beliau tanpa rasa sungkan makan es puter sambil berdiri. Padahal waktu itu ia adalah seorang raja. 

Cerita yang kedua yaitu pernah suatu ketika, saat Sri Sultan melakukan perjalanan dari Kaliurang, Sleman menuju Kraton dengan mengendarai mobilnya sendiri, Beliau di berhentikan ditengah jalan oleh seorang wanita yang membawa barang dagangan.

Wanita itu minta diantar ke Pasar Kranggan. Setibanya di pasar wanita itu memberikan beberapa uang sebagai upah. Wanita itu tidak tau kalau orang yang tumpangi itu adalah Sultan sehingga ia marah-marah dengan sopir itu karena telah menolak pemberian uangnya. Wanita itu kemudian disadarkan oleh orang-orang pasar bahwa yang ia marahi itu adalah Sultan dan seketika itu pula pedagang wanita itu pinsang. Hal itu cukup membuktikan akan kesederhanaan Beliau.

Berwibawa 

Pemeritahan yang dijalankan Hamengku Buwono IX memiliki kewibawaan tersendiri. Kewibawaan tersebut berkat keteladanan Beliau dalam mempelajari dan mengamalkan sikap pemimpin yang Hasta Brata (delapan sikap luhur), dimana berupaya menjadi matahari yang selalu menyinari sekaligus menjadi sumber hidup, bulan yang menyinari tanpa menyilaukan, bintang yang memberi petunjuk arah, langit yang menaungi semuanya, bumi yang memberi kehidupan, laut yang menampung semuanya, angin yang selalu hadir dimana saja yang kasatmata tapi merata, api menghukum bagi yang salah.

Contoh kewibawaan Sultan ialah ketika Yogyakarta telah diduduki Belanda. Jenderal van Langen yang masa menjadi pimpinan tinggi pasukan Belanda  hendak masuk di Kraton ditolak mentah-mentah oleh Sultan.

Ketegasan Beliau dalam berbicara membuat Jenderal van Langen yang datang dengan congkak kemudian meninggalkan Kraton dengan rasa malu. Kata perintah “Anda hanya boleh masuk apabila melangkahi mayat saya terlebih dahulu” membuat van Langen bergetar tak berdaya di depan gerbang Kraton. 

Kewibawaan selanjutnya ialah ketika Beliau memimpin NKRI sementara ketika Bung Karno di tangkap Belanda pada Agresi Militer II tahun 1948. Kepemimpinan Sultan pula yang mengobarkan Semangat Untuk melakukan perlawanan Serangan Umum 1 Maret sehingga keadaan Ibukota Yogyakarta dapat diambil alih kembali oleh TNI (Tentara Nasional Indonesia).

Pantang Ingkar Janji

Sultan Hamengku Buwono IX masih memegah teguh tradisi jawa untuk memerintah daerahnya. Salah satu prinsip yang Beliau pegang ialah “sabda pandita rat tan kena wola wali”yang ada pada serat Wita Radya. Itu berarti seorang pemimpin harus dipegang omongannya, jangan banyak berjanji yang selalu diingkari. Beliau adalah sosok yang diam dan berkata sesudah berfikir.

Contohnya ialah saat beliau mengatakan bahwa tidak mau dicalonkan diri sebagai wakil presiden. Ada seorang politikus yang bersih keras untuk menjadikan beliau wakil presiden tetapi beliau sudah mengatakan hal tersebut dan pantang untuk  Pendirian. Sungguh sabda pandhita ratuI, apa yang dilakukan Beliau adalah apa yang telah dikatakannya.

Demikianlah artikel penulis buat. Penulisan ini diharapkan dapat sedikit mengupas fakta-fakta mengenai misteri Sultan Hamengku Buwono IX. Artikel ini dapat juga diartikan sebagai napak tilas pemikiran yang Beliau sumbangsihkan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Alasan lain mengapai penulis menuliskan sosok Sultan Hamengku Buwono IX karena tidak lama lagi Negara Indonesia akan menyongsong pesta demokrasi nasional yaitu pada tahun 2019. Tepat pada tahun tersebut adalah tahun pemilihan Presiden dan Wakil Presiden atau disebut juga sebagai tahun tahun politik.

Untuk itu diharap dapat memberi gambaran akan sosok politikus yang begitu menarik perhatian sebagian besar agarpara politikus dapat merefleksi tokoh tersebut. Selain itu semoga tulisan ini membuat masyarakat terutama pemuda dapat meningkatkan semangat perjuangan dan keIndonesiaan yang pada masa kini memang perlu untuk direvitalisasi. Penulis artikel Pina Dhea Tafana.

Daftar Pustaka

Hadi, Parni dan Nasyith Majidi. (2013). Hamengku Buwono IX: Inspiring Prophetic Leader. Jakarta : IRSI (Ikatan Relawan Sosial Indonesia).

S. Maimoen, Kustiniyati Mochtar, Mochtar Lubis, Mohamad Roem. (2011). Tahta untuk Rakyat: Celah-celah Kehidupan Sultan Hamengku Buwono IX. Jakarta: Gramedia.

Abdul Madjid, Muhammad Zainuddin. 2017. Gempur Markas Tentara NICA. Republika.co.id.
Suwarno. 1994. Hamengku Buwono IX dan Sistem Birokrasi Pemerintahan Yogyakarta. Yogyakarta: Kanisius.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sultan Hamengku Buwono XI dan 7 Fakta Yang Harus Kamu Baca!"

Posting Komentar