Mengenal Lebih Dekat Mr. Sartono


Faktatokoh.com-Melupakan sejarah merupakan hal yang tidak wajar dimiliki manusia. Karenasejarahlah yang  membuat kita tahu akan kejadian pada masa lampau. Sejarah yang memberikan manusia pelajaran, dari pengalaman yang senang, susah maupun yang lainnya. Kalau kita banyak membaca sejarah apapun, maka kita tidak akan pernah lupa. Dalam tulisan ini mengajak semua orang khususnya para agent of change, agent of control dan agent of analysis (Mahasiswa) untuk mengenal salah satu tokoh Pejuang Demokrasi dan Bapak Parlemen Indonesia. Bahkan beliau adalah sahabat dari sang proklamator kemerdekaan Ir. Soekarno dan M. Hatta, dia adalah MR. Sartono.

Perjuangan Tokoh Nasionalisme Untuk Indonesia

Ir. Soekarno yang akrab dipanggil Bung Karno Mengatakan, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak lupa akan sejarah”. Itulah kata-kata yang masyhur dari Bung Karno dan bisa menjadi inspirasi bagi kita semua. Maka sudah sangat jelas dari perkataan Bung Karno tersebut, kalau kita jangan sampai lupa terhadap sejarah. Karena sekarang ini kita hanya tinggal menikmati hasilnya dari sejarah. Salah satu hasilnya adalah kemerdekaan Indonesia yang sudah merdeka sekitar kurang lebih 72 tahun, kita harus mengapresiasi para pejuang dan pahlawan pada waktu itu.

Biografi Mr. Sartono

Mr. Raden Mas Sartono yang akbar dipanggil Mr. Sartono lahir di Wonogiri, 15 Agustus 1900 dan wafat tanggal 15 Oktober 1968. Sartono menikah dengan Zaenab dan dikarunia anak yang bernama R Ay Sri Mulyati dan Ir Moeso Soenhadji. Sartono merupakan Bapak Pejuang Demokrasi dan Parlemen Indonesia, beliau adalah tokoh nasional yang hampir terlupakan di Negara Indonesia ini. Sartono menjadi ketua pertama DewanPerwakilan Rakyat (DPR) di Negera ini. Sartono menjabat ketua DPR sejak adanya penyerahan kedaulatan pemerintah Belanda kepada Pemerintah RIS sampai dengan tahun 1960 saat DPR hasil pemilu tahun 1955 dibubarkan oleh Presiden Soekarno. Ia menolak diangkat sebagai anggota/Ketua DPR Gotong Royong (DPR- GR), dengan alasan, “Menjadi anggota DPR yang bukan pilihan rakyat merupakan hal yang bertentangan dengan hati nurani”.

Merintis kemerdekaan dan kehidupan demokrasi merupakan pengabdian yang dilakukan sepanjang hayatnya. Sartono mulai menyapa rakyatnya sejak berumur 16 tahun sewaktu menjadi anggota organisasi Trikoro Darmo, yang kelak diubah menjadi Jong Java. Sartono makin menunjukkan kematangan dalam berorganisasi setelah bergabung bersama Bung Hatta dan para pemuda lainnya dalam Perhimpunan Indonesia (PI) di Negara Belanda. Sekembalinya di Indonesia, Sartono dan Bung Karno mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI), berperan aktif dalam Sumpah Pemuda 1928, menjadi pembela Soekarno sewaktu diadili oleh Pengadilan Kolonial, dan membentuk Partindo sewaktu PNI bubar.

Hal Menarik Tentang Mr. Sartono

Pengalaman perjuangannya mengajarkan kepada Sartono bahwa inti dari kedaulatan rakyat adalah Demokrasi. Sartono belajar bagaimana cara berdemokrasi, hal tersebut dirintis sejak menjadi pengurus berbagai organisasi politik sampai mengetahui Majelis Rakyat Indonesia (MRI), suatu Parlemen Indonesia diakhir pemerintahan Hindia Belanda. Di zaman Jepang Sartono bersama Bung Karno dan Bung Hatta menjadi anggota Chuo Sangi In dan BPUPKI. Sartono tetap berjuang meletakkan dasar- dasar demokrasi dengan cara menjadi anggota Badan Pekerja Komite Nasional
Indonesia Pusat (BPKNIP), lembaga parlemen pertama Republik Indonesia.

Namun, nasib tidak membawa Sartono hanya berkutat dalam bidang Legislatif. Konstitusi mengharuskan Sartono bertindak sebagai Pejabat Presiden apabila Presiden berhalangan. Sartono merupakan orang pertama yang menduduki jabatan tertinggi di Republik ini karena hasil suatu pemilihan umum. Dua kali Sartono memegang jabatan tersebut, di masa-masa Presiden Soekarno berada diluar Negeri. Sartono dikenal sebagai orang yang berdiri ditengah kedua Proklamator Bung Karno dan Bung Hatta. Sartono berada disamping Soekarno dalam Mengejar cita-cita kemerdekaan, tetapi Sartono berpandangan yang sama dengan Hatta dalam hal demokrasi.

Inspirasi Mr. Sartono

Ada sesuatu yang tidak berubah yang dimiliki Sartono ialah hasrat untuk menjadi bangsa yang lebih baik dan beradab. Sartono telah meletakkan batu penjuru arah perkembangan demokrasi Indonesia. Sartono telah mencoba melakukan apa yang dirasa terbaik untuk bangsanya, sementara demokrasi di Indonesia masih terus berproses mencari bentuknya.

Pepatah mengatakan, “Hari ini adalah bekal menuju hari esok”.

Pengalaman hidup Sartono akan memberikan pelajaran yang berharga kepada Negara dan Bangsa. Selain hasrat untuk menjadikan bangsa yang lebih baik dan beradab, Sartono juga sebagai salah satu Ahli Hukum dan Pengacara (Advokat). Beliau pada waktu itu membantu Bung Karno pada saat Bung Karno diadili di Pengadilan Kolonial di Bandung. Dalam kata pembukaan pembelaannya ia mencoba menguraikan secara runtut asal mula terjadinya penangkapan para sahabatnya. Ia membuktikan bahwa sahabatnya (Ir. Soekarno) tiada lain hanyalah korban dari halusinasi para pejabat kolonial Belanda. (Daradjadi, 2014: 11)

Teladan Mr. Sartono

Sartono adalah orang yang sangat sederhana sekali, tidak pernah menampakkan kesombongannya ke publik pada saat itu. Selain sederhana kita bisa juga mengambil teladan dari kejujuran, intelektualitas, keberanian, dan kecintaannya pada Tanah Air. Kejujuran Sartono tidak dapat diragukan, dengan landasan martabat dan tanggung jawab politik yang melekat pada dirinya.

Menurut Sartono, korupsi sangat merendahkan harga diri seseorang, sehingga ia tidak pernah bicara soal ini dengan basa-basi, Rumah yang ia tempati tampak tertata rapi, tetapi tanpa perabot yang berkelebihan. Intelektualitasnya tidak perlu diragukan lagi, karena Sartono sudah berapa kali membentuk organisasi atau kelompok baik didalam Negeri maupun diluar Negeri seperti Perhimpunan Indonesia (PI) waktu di Belanda, Partai Nasional Indonesia (PNI) waktu di Indonesia. Keberaniaanya dalam melawan penjajah yang sangat luar biasa sekali dam kecintaannya terhadap Tanah Air seperti cinta kepada keluarga diri sendiri demi mempertahankan bangsa dan negara ini.

Penemuan Mr. Sartono

Sartono, salah seorang anggota Badan Penyelidik Usaha Kemerdekaan (Dokuritu Zyunbi Tyoosa Kai-BPUPK) Indonesia, kemudian meminta agar beberapa hal yang pokok sebaiknya dibicarakan dahulu di Rapat saat itu, tidak hanya terkait bentuk negara unitarisme, federalisme atau bondstaat, akan tetapi pokok-pokok lain Republik Indonesia. Sesudah hal-hal pokok itu disepakati, menurut Sartono, maka
Panitia Kecil dapat bekerja bersandar atas kesepakatan tersebut. Sartono juga berkegiatan pada Gerakan Koperasi Karet di Leuwilliang, Jawa Barat (1934-1940), sebuah gerakan yang berhasil mendirikan 18 Koperasi Karet dan 12 Pabrik Karet. Sewaktu Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia) berdiri  pada tahun 1937-1942, Sartono menjadi Ketua Muda Pengurus Besar. Pada tahun 1941, Mr. Sartono menjadi ketua pengurus harian Majelis Rakyat Indonesia.

Apabila sekarang ini ada beberapa Negara yang begitu untung,Lebih untung daripada yang lain, mengira dapat hidup sendiri, Ini keliru. Sekarang ini apabila satu bagian saja dari dunia ini Tenggelam karena sebab-sebab ekonomi atau karena lain hal, Maka negeri itu akan menjerat pula lain-lain negeri. Begitu pula,Apabila perang meletus, maka rakyat yang tidak menyukai akan terlibat pula didalamnya.”  (Risalah Notulen Sidang DPR 1951, Perpustakaan Nasional RI, Rapat Ke-95 tanggal 16-06- 1951.)

Demikianlah tadi tulisan tentang Mengenal Lebih Dekat Mr. Sartono, semoga dengan adanya tulisan ini dapat membangun semangat untuk Negeri.Mohon maaf . Adapun penilis artikel ini adalah Ahmad Zaini.Terima kasih.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mengenal Lebih Dekat Mr. Sartono"

Posting Komentar