Kisah Inspiratif WNA "Andre Graff" yang Menjadi Pahlawan di Tanah Sumba

FaktaTokoh.Com- Andre Graff adalah salah satu Warga Negara Asing (Bule) yang  yang melakukan usaha dalam mengatasi kekeringan yang terjadi di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, adapun salah satunya adalah dengan cara membuat atau menggali sumur. Cara tersebutlah yang dipilih oleh seorang bule asal Perancis bernama Andre Graff.

Kisah Hidup Andre Graff


Andre Graff yang dulu berprofesi sebagai pilot balon udara. Hingga suatu hari Andre terserang penyakit Lymd, penyakit mematikan yang hampir merenggut nyawanya. Tahun 2003 , Andre Graff memilih resign dari pekerjaannya karena sakit yang dideritanya.

Namun takdir berkata lain, Andre berhasil mengalahkan penyakitnya tersebut. Sejak saat itu Andre menginginkan hidupnya dapat berguna bagi banyak orang. Pada tahun 2004 Andre Graff melakukan kunjungan wisata ke Bali, kemudian dilanjutkan ke tanah Sumba.

Disanalah dia bertemu masyarakat Sumba, Andre Graff menjadikannya sebagai objek foto. Pria yang lahir pada 24 Juli 1957 ini, berjanji pada masyarakat di Sumba untuk memberikan hasil fotonya tersebut.

Namun saat Andre Graff kembali ke negara asalnya, dia bingung cara memberikan foto-foto tersebut ke masyarakat Sumba, apabila dikirim lewat pos maka foto-foto tersebut tidak akan sampai ke alamat tujuan, karena daerah tersebut merupakan daerah yang cukup terpencil.

Pada tahun 2005 Andre Graff memenuhi janjinya pada masyarakat Nusa Tenggara untuk memberikan foto foto yang telah dicetaknya. Selain itu, Andre Graff juga berencana berpetualang didaerah Nusa Tenggara.

Andre Graff kemudian bergabung dengan salah satu kampung adat yaitu Ledetadu, karena tertarik dengan budaya serta adat istiadat setempat. Andre Graff tersentuh saat melihat para wanita serta anak-anak didaerah setempat harus berjalan berkilo-kilometer hanya untuk mendapatkan air.

Andre Graff menyaksikan secara langsung akibat dari krisis air yang melanda daerah tersebut, anak-anak jarang mandi, masyarakat melakukan MCK sembarangan. Keadaan yang seperti itu lama kelamaan akan berdampak pada kesehatan masyarakat setempat, yang akan memicu munculnya berbagai macam penyakit seperti:gatal-gatal, TBC, dan lain-lain.

Namun ditengah kesulitan yang melanda, masyarakat setempat masih melontarkan senyuman untuk orang disekitarnya. Hal tersebutlah yang mendorong hati Andre Graff untuk turun tangan mengatasi permasalahan krisis air.

Lalu, Andre dan masyarakat setempat mulai membuat sumur, namun banyak sekali mengalami kegagalan karena Andre belum memiliki keahlian dalam mencari sumber air. Hingga pada suatu hari, Andre Graff bertemu dengan pastur Frans Lakner yang telah mengabdikan hidupnya selama 40 tahun tempat itu.

Dari pastur tersebutlah Andre Graff belajar cara mencari sumber air didaerah tersebut. Andre Graff kemudian mulai membuat sumur serta memasang gorong-gorong yang menggunakan bahan dari beton agar sumur yang digali tidak terkontaminasi lumpur ataupun yang lainnya.

Sejak tahun 2005 hingga 2007 terhitung ada 25 sumur yang menyebar di tiga desa yang telah dibuat oleh Andre Graff dengan bantuan masyarakat setempat. Selain itu, Andre Graff juga mengajarkan mencari air, menggali, dan membuat gorong-gorong yang berkualitas pada masyarakat setempat.

Pada tahun 2007 akhir Andre memutuskan untuk pindah ke Kampung Waru Wora, Desa Patijala Bawa, Lamboya, Sumba Barat.Andre tinggal ditempat Kepala Suku dan melanjutkan misinya membuat sumur untuk warga.

Andre membentuk kelompok GGWW, yaitu “Gorong-gorong Waru Wora” yang beranggotakan 9 pemuda dengan program kerja membuat gorong-gorong. Melihat kualitas dan fungsi gorong-gorong, warga kampung desa lain pun memesan gorong-gorong kepada GGWW dengan harga Rp 300.000 per potong (sekitar 1 m x 1 m).

Pada 2007-2011, sebanyak 35 sumur berhasil dikerjakan Andre bersama GGWW. Sumur yang sederhana memerlukan biaya sekitar Rp10 juta. Semua biaya berasal dari tabungan dan hasil persewaan rumah Andre di Prancis.

Namun lama- kelamaan, sumur harus semakin besar dan harus dipompa dengan mesin dan ditampung. Biayanya bisa mencapai ratusan juta. Sehingga Andre berinisiatif membuat sumur dengan pompa berkualitas yang digerakkan dengan tenaga matahari seperti buatan Jerman.

Energi matahari yang dimanfaatkan adalah untuk menaikkan air dari lembah menuju ke permukaan dan disebarkan ke area perkampungan. Andre lalu pergi ke Bali menjumpai seorang ahli tenaga matahari di Denpasar.

Kemudian, mereka bersama-sama melakukan evaluasi terhadap air sumur dan permukiman warga Sumba, hingga terbentuklah Pilot Project Waru Wora (PPWW) yang kali ini memiliki proyek berujud sinar sel.

Namun semua tak berjalan mulus, walau telah memperoleh bantuan Rp 330 juta dari Rotary Club Belanda, Andre Graff masih sangat kekurangan modal. Modal yang dibutuhkan masih kurang Rp 500 juta.

Andre lalu menyelenggarakan pameran foto di Jakarta dan Denpasar bertemakan orang- orang Sumba dan Sabu Raijua guna mendapatkan tambahan modal. Walau pameran fotonya gagal, Andre beruntung bertemu orang dari Shimizu yang bersedia membantu pompa, pipa, tangki air, dan bahan lain. Andre Graff juga mendapatkan tambahan dana dari temannya Rp 50 juta, dan Bupati Sumba Barat Rp 65 juta, dan Andre juga mendatangi para donator untuk mensukseskan rencananya tersebut. 

Komponen termahal proyek ini adalah solar sel berukuran 6 meter x 6 meter untuk menampung energi matahari guna menaikkan air dengan ketinggian 1.300 meter ke permukiman warga yang berjarak 110 meter.

Apabila proyek ini terwujud, 11 kampung di Desa Patijala Bawa atau sekitar 1.600 jiwa bisa menikmati air bersih. Jika proyek itu terwujud, Graff sudah punya program lain, yakni melakukan filtrasi (penjernihan) air, program pengadaan rumah mandi untuk kelompok masyarakat di setiap kampung, dan program pertanian pekarangan rumah atau lahan terbatas.

Seluruh pengorbanan di Tanah Sumba dilakukan Andre Graff dengan iklas tanpa mengejar keuntungan atapun hal lainnya. Justru dia harus merogoh kantongnya sendiri untuk biaya semua misinya agar tanah Sumba tak gersang. “Bagaimana satu keluarga bisa mengalami kemajuan apabila urusan air saja memakan semua energi dan waktu yang mereka miliki?”. Begitulah ucapnya.

Saya sekadar mengantarkan masyarakat menuju ke peradaban yang lebih baik. Tugas merekalah untuk terus menjaga kelangsungan sumur-sumur itu agar terus bisa memancarkan. Begitu pedulinya Andre Graff pada keadaan masyarakat Sumba. 

Andre Graff sama sekali tak memiliki darah Indonesia, namun jasanya untuk meningkatkan kesejahteraan negeri ini tak berhitung banyaknya. Ia rela meninggalkan kenikmatan tinggal di tanah kelahirannya dan memilih tinggal di tanah Sumba.

Makan dari hasil bumi setempat, rokok dari tembakau yang ditanam sendiri dan dilinting pakai kulit jagung kering. Mengalami sakit Malaria, demam berdarah, dsb berkali-kali. Begitu totalitasnya ia mengabdikan diri untuk masyarakat Sumba.

Andre tak pernah menyesali pilihan hidupnya. Jika kelak meninggal, Andre berkeinginan untuk dikuburkan di Sumba bersama masyarakat Sumba yang sangat dihormatinya. Bagi Andre, buat apa menjadi seseorang yang kaya raya tapi tidak pernah beramal.

Kekayaan bisa dicari, namun kesempatan untuk beramal dan mendapatkan kebahagiaan tak datang dua kali. Kebahagiaan bukan tentang seberapa banyak uang yang dimiliki seseorang, kebahagiaan adalah tentang seberapa besar peran dan pengorbanan kita pada masyarakat, di mana pun kita berada.  Seseorang dikatakan benar-benar hidup jika dia bermanfaat untuk orang-orang disekitarnya

Demikianlah serangkaian tulisan mengenai kisah-kisah inspirasi warga negara asing yang menjadi pahlawan tanah sumba. Salah satunya adalah Andre Graff. Semoga dengan adanya tulisan ini bisa memberikan wawasan bau segenap pembaca sekalian, penulis dalam artikel ini adalah Nur Ulfi Andika.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Inspiratif WNA "Andre Graff" yang Menjadi Pahlawan di Tanah Sumba"

Posting Komentar