Bunga Bangsa : Bayangan Pemikul Tandu Sang Jenderal


Pahlawan Nasional

Faktatokoh.com-Kemerdekaan Indonesia merupakan cita-cita seluruh rakyat Indonesia. Kemerdekaan ini tidak lepas dari peran pahlawan-pahlawan yang telah berjuang sekuat tenaga mewujudkan cita-cita tersebut. Sebutan pahlawan nasional tentunya sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Gelar pahlawan nasional adalah gelar penghargaan tingkat tertinggi di Indonesia. Orang yang mendapat gelar pahlawan nasional merupakan orang yang perjuangan hidupnya dijadikan motivasi dan
panutan. Kisahnya akan selalu dikenang oleh bangsa dan negara.

Sejak di bangku sekolah dasar kita sudah dikenalkan dengan beberapa deret nama pahlawan nasional lengkap dengan kisah perjuangannya masing-masing.


Pahlawan nasional yang begitu besar namanya sampai saat ini, yaitu Bung Tomo, Ahmad Yani, Mohammad Hatta, Ir. Soekarno, sampai Jenderal Soedirman yang berperan sebagai pemimpin Perang Gerilya.  Perang Gerilya berasal dari bahasa Spanyol, yaitu guerilla yang secara harifah berarti perang kecil. Perang Gerilya merupakan strategi perang yang begitu dikenal pada tahun 1950-an. Perang ini mengandalkan strategi berpinda- pindah tempat dan mengepung secara tidak terduga dengan menempuh medan yang begitu berat. Pempimpin Perang Gerilya pada Agresi Militer II adalah Jenderal Soedirman.


Pendamping Setia Jenderal

Kita semua tahu bahwa Jenderal Soedirman memiliki kegigihan yang luar biasa dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Dalam keadaan yang lemah karena penyakit tuberkulosis (tuberculosis) yang dideritanya dan harus ditandu, tidak membuat Jenderal Soedirman putus semangat dalam menempuh jarak 1000 km. Kita mungkin mengenal nama Tjokropranolo atau yang lebih dikenal dengan nama Nolly. Beliau merupakan pengawal pribadi Jenderal Soedirman, bahkan Tjokropranolo juga ikut dalam kampanye Perang Gerilya. Namun, pernahkah kita berpikir siapa sosok yang selalu setia menopang pembawa benih perjuangan kemerdekaan di pundaknya? Mereka adalah pemikul tandu Jenderal Soedirman yang sosoknya tidak dipedulikan, bahkan ketika tandunya pun tersimpan rapi di museum. Salah satu dari pemikul tandu tersebut adalah Djuwari.

Sosok Djuwari Sebagai Pendamping Saat Jenderal Sakit

Djuwari merupakan kakek berusia kurang lebih 82 tahun yang tinggal di Dusun Goliman, Desa Parang, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri. 61 tahun yang lalu, Djuwari bersama empat orang lainnya dari Dusun Goliman ikut dalam menemani Jenderal Sodirman dalam Perang Gerilya. Mereka bertugas memikul tandu Jenderal Soedirman dari Dusun Goliman sampai ke Nganjuk. Djuwari yang saat itu berusia 21 tahun begitu bangga dalam perannya memikul tandu jenderal Perang Gerilya itu. Dengan semangat yang terlihat masih membara, Djuwari meceritakan bagaimana dia dengan tujuh orang lainnya bergantian dalam memikul tandu Jenderal Soedirman.

Tokoh - Tokoh Pemikul Tandu Jenderal

Kini dari empat orang pemikul tandu Jenderal Soedirmanun itu begitu tulus membantu sang jenderal dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Meskipun dia hanyalah seorang pemikul tandu, Djuwari begitu bangga akan keikutsertaannya dalam Perang Gerilya tersebut. Tidak pernah sekalipun Djuwari mengeluh akan lelahnya memikul tandu. Medan yang begitu berat, seperti naik-turun gunung, memasuki hutan yang gelap, dan menyeberangi sungai bukan perkara yang menyulitkan bagi Djuwari. Api yang berkobar sudah terlanjur membakar semangat muda Djuwari saat itu. Kecintaannya terhadap Indonesia membuat Djuwari melakukan pekerjaan mulia, tetapi sayangnya selalu dilupakan oleh negara dan bangsa ini.

Mengenal Sosok Djuwari Sebagai Pemikul Setia Tandu Sang Jenderal

Keadaan ekonomi Djuwari begitu jauh dari kata layak. Rumahnya hanyalah dari papan dan anyaman bambu, jikalau ada yang dari semen pastilah belum tertata dengan rapi. Lantai rumahnya pun hanya tanah yang lembab. Djuwari hanya memakai pakaian lusuh yang tidak terkancing, mungkin kancing- kancing baju itu telah lepas dimakan usia. Tulang dan ototnya sudah tidak sekuat dulu lagi. Kalau dulu Djuwari sanggup memikul tandu Jenderal Soedirman, sekarang untuk berjalan Djuwari harus dibantu dengan tongkat. Rambutnya sudah memutih, lipatan-lipatan senja terlihat di wajahnya. Mata Djuwari terlihat sayu karena usianya yang sudah tidak muda lagi. Meskipun begitu, terlihat sorot matanya yang begitu menghargai arti kehidupan, kebanggan terlihat jelas dalam guratan senyum di wajah kakek berusia 82 tahun itu. Pikirannya tidak pernah tumpul untuk mengingat kejadian 61 tahun yang lalu.

Pahlawan Tetapi Bukan Pahlawan Di Mata Kita

Djuwari selalu bisa menceritakan pengalaman dirinya dahulu bersama pasukan Perang Gerilya, seolah tidak ada satu kata pun yang terlewat dari mulutnya. Pahlawan, tetapi bukan pahlawan di mata kita. Sebutan itulah yang mungkin pantas diberikan untuk Djuwari. Memang, Djuwari tidak butuh pujian ataupun harta yang berlimpah, tetapi yang diinginkan dari semua pahlwan adalah jasa-jasa perjuangannya selalu diingat oleh anak dan cucunya, termasuk kita masyarakat Indonesia. Kita selalu mengenal pahlawan-pahlawan nasional yang sejak dulu telah mempunyai nama besar. Namun, sayangnya di luar sana banyak pahlawan- pahlawan yang bersembunyi dalam bayangan. Nama mereka seakan hilang seiring berlalunya perjuangan yang telah dilakukan. Jangankan mengetahui kisah perjuangannya, nama pun juga belum tentu tahu. Salah satunya adalah Djuwari dan teman-teman yang membantunya dalam memikul tandu Jenderal Soedirman. 

Kisah Sang Pemikul Tandu,Djuwari.

Kisah strategi Perang Gerilya dan kegigihan Jenderal Soedirman, bahkan tandunya pun banyak dibicarakan. Dalam foto hitam-putih Jenderal Soedirman yang ditandu selalu muncul dalam buku-buku maupun internet, tetapi tidak pernah sekalipun terlintas siapa orang yang menandu sang jenderal. Bukan masalah memikul tandu atau tidak, yang terpenting adalah ketulusan dan filosofi dalam perjuangan itu. Sekecil apapun perjuangan itu, tetap saja besar pengaruhnya untuk kemerdekaan Indonesia. Seandainya saja Djuwari dan teman-temannya tidak memikul tandu Jenderal Sodirman, lalu bagaimanakah Jenderal Soedirman dapat memimpin Perang Gerilya yang telah berhasil mengepung tentara Belanda dalam keadaan yang lemah dan sakit?

Hidup dalam bayangan, jangankan tersentuh tangan pemerintah, perhatian dari masyarakat pun tidak ada. Entah dimana lagi arti keharuman bunga bangsa bagi Djuwari. Belum tentu dia dianggap bunga bangsa, bagaimana keharuman itu dapat tercium?

Gelar Untuk Djuwari Sebagai Pahlawan Nasional yang Belum Sempat Tersematkan

Selama ini kita terlalu larut dalam kisah-kisah perjuangan yang begitu luar biasa dari pahlawan-pahlawan nasional, sampai kita lupa ada orang yang ikut berjasa dalam perjuangan itu. Tentu saja ada banyak Djuwari lain di luar sana. Mereka terlupakan oleh kesenangan dan kebahagiaan yang dirasa setelah perjuangan itu berakhir. Hidup dalam keterlupaan, tanpa penghargaan dari orang- orang yang telah menikmati hasil perjuangannya. Seakan-akan kemiskinan memanglah hal yang wajar diterima oleh para pahlawan yang terlupakan. Mereka hidup susah ketika terjajah, tetapi hidup mereka lebih susah ketika kemerdekaan telah singgah. Djuwari mungkin tidak membutuhkan gelar tertinggi di Indonesia, yang dia inginkan adalah jasanya selalu diingat dan kisah perjuangannya diukir di hati negeri pertiwi ini. Memang benar, negeri ini sarat akan sejarah, terlebih perjuangannya yang tak perlu diragukan lagi. Puluhan, atau bahkan mungkin ratusan pahlawan terlahir di negeri ini. Mereka diberi gelar penghormatan tertinggi, yaitu sebagai pahlawan nasional.

Namun, tidak sedikit pula yang terlupakan. Mereka bagai bunga-bunga yang layu, mungkin sampai akhir hayatnya tidak akan pernah merasakan siraman  penghargaan dari jasa yang dilakukan. Mereka ada, tetapi kehadirannya tidak pernah dirasa. Iya, hanyalah bayangan. Bayangan yang hitam, tidak jelas karena tertutup oleh kemewahan kehidupan politik yang sepertinya telah membutakan mata kita. Mungkin kita terlalu sibuk memperhatikan satu bunga, sampai kita lupa akan bunga lainnya. Mungkin juga hidung kita terlalu sibuk untuk mencium harum satu bunga saja, sampai hidung kita tidak mampu merasakan keharuman lain yang ditawarkan.

Inspirasi Dari Sosok Pemikul Tenda. Djuwari

Saatnya sekarang kita melihat lebih luas, singkirkan semua penghalang yang menghalangi kita untuk melihat bunga itu. Jangan pernah jadikan bunga yang amat indah dan harum hanyalah menjadi sebuah bayangan karena keegoisan kita masing-masing. Djuwari, meskipun tubuh tegapnya telah termakan usia, tetapi tidak pernah hilang sorot matanya 61 tahun yang lalu. Jika seandainya negara ini kembali terjajah, bisa jadi Djuwari akan ikut berjuang, meskipun dia harus menjadi pemikul tandu. Jadi, jangan biarkan keharuman itu sirna seiring berakhirnya perjuangan mereka. Bukankah kita adalah bangsa yang selalu belajar dari sejarah? Jangan pernah jadikan keegoisan dan kesenangan membuat kita melihat pada satu mawar dan melupakan mawar-mawar yang lain. Jangan pernah hanya mengagumi dan melihat pada satu atau dua tokoh nasional, tetapi bukalah pandangan untuk melihat pahlawan-pahlawan yang terselip di antara kisah-kisah besar.

Demikianlah tadi tulisan tentangBunga Bangsa :  Bayangan Pemikul Tandu Sang Jenderal, Semoga dapat menginspirasi bagi segenap pembaca dan dapat bermanfaat. Mohon Maaf jika ada kesalahan. Penulis artikel ini adalah Tanaya Daninta. Terima kasih.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Bunga Bangsa : Bayangan Pemikul Tandu Sang Jenderal"

Posting Komentar