5+ Hal Yang Bisa di Contoh Oleh Generasi Milenial Dari Sosok Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara Sebagai Bapak Pendidikan Indonesia

Faktatokoh.com-Ki Hajar Dewantara yang memiliki nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, telahditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden pertama Republik Indonesia, I.R Soekarno. Dan sampai sekarang, tanggal kelahiran beliau (2 Mei 1889) kerap kita peringati sebagai hari pendidikan Nasional, untuk menghormati perjuangannya dalam bidang pendidikan. Sosok ini juga terkenal dengan ketiga ajarannya, diantaranya adalah :

   "Ing ngarso sung tulodo – Di depan memberikan teladan"
   "Ing madyo mangun karso – Di tengah menciptakan ide"
   "Tut wuri handayani – Di belakang memberikan dorongan atau semangat".

Semboyan tersebut tidak hanya menjadi acuan para guru atau pengajar (khususnya di Indonesia) dalam menjalankan proses pendidikan, tetapi juga bisa diterapkan oleh para pelajar. Selain semboyan dari Ki Hajar Dewantara yang sangat menginspirasi, ada beberapa hal yang bisa kita teladani dari sosok bapak pendidikan Nasional ini. Diantaranya,

Ulet dan pantang menyerah

Ki Hajar Dewantara pernah menjadi seorang wartawan di beberapa perusahaan suratkabar, dan ia adalah seorang wartawan yang ulet. Beliau juga merupakan seorang penulis yang handal, karena tulisannya dinilai sangat komunikatif, tajam dan bersifat patriotik sehingga dapat membangkitkan semangat antikolonial bagi para pembacanya. Pada tanggal 25 Desember 1912, bersama Douwes Dekker (Dr. Danudirdja Setyabudhi) dan juga dr. Cipto Mangoenkoesoemo, Ki Hajar Dewantara membangun sebuah partai politik yang memiliki tujuan mencapai Indonesia yang merdeka. Nama partai tersebut adalah Indsche Partij. Tapi, partai tersebut di tentang, ketika mereka berusaha untuk
memperoleh status badan hukum. Partai tersebut dianggap dapat membangkitkan rasa nasionalisme rakyat dan menentang pemerintah Belanda.

Namun, Ki Hajar Dewantara  tidak menyerah. Ia membentuk sebuah Komite Bumipoetra pada bulan November 1913, dengan tujuan untuk mengkritik pemerintah Belanda. Sampai akhirnya, salah satu
karyanya yang berjudul “Seandainya aku seorang Belanda” membuat Ki Hajar Dewantara mendapat hukuman pengasingan. Tapi dari masa penghukuman itulah, Ki Hajar Dewantara mendapatkan pelajaran baru, yang tidak ia dapatkan di Indonesia. Tetap berpikir positif dalam keadaan sulit sekalipun.

Ketika karya tulisnya yang berjudul “Seandainya aku seorang Belanda” menyulut kemarahan pemerintah Kolonial Belanda,

Para pendiri komite Bumi Putra ini pun diasingkan ke Bangka. Namun, dalam masa pengasingan tersebut, Ki Hajar Dewantara tetap aktif dalam kegiatan organisasi pelajar dan mahasiswa Indonesia.
Bersentuhan dengan budaya Barat pada masa pengasingan tersebut, tak membuat Ki Hajar Dewantara melupakan Negerinya sendiri. Beliau mengambil hal-hal positif dari Bangsa lain, untuk memperkaya kebudayaan Negeri. Ki Hajar Dewantara pun mempelajari ilmu pendidikan disana sampai akhirnya, Beliau mendapatkan ijazah pendidikan bergengsi Europeesche Akta, untuk mewujudkan cita-citanya memajukan pendidikan di Indonesia.

Gemar membaca

Ki Hajar Dewantara adalah salah satu tokoh nasional yang terkenal dengan kegemarannya dalam membaca. Dengan membaca, seseorang tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, memperbanyak kosakata, memperbaiki memori otak dan meningkatkan kemampuan berpikir analitis, tetapi juga dapat mengurangi stress seseorang, stimulasi mental, dan juga dapat memberikan ketenangan. Jadi, kegemaran membaca seorang Ki Hajar Dewantara itulah yang membuat pemikiran beliau semakin maju kedepan.

Rendah hati

Seperti yang kita ketahui, nama asli dari Ki Hajar Dewantara adalah Raden Mas Soewardi. Namanya menunjukkan bahwa Beliau adalah seorang bangsawan, dan memang, Ki Hajar Dewantara besar di lingkungan keraton Yogyakarta. Alasan Beliau mengganti namanya di usia 40 tahun adalah, karena Ki Hajar Dewantara ingin menjadi lebih dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya.

Mencintai Negara.

Rasa cintanya pada Negara, membuat rasa kepedulian tumbuh dalam diri Ki Hajar Dewantara. Hal itu terbukti dari perjuangannya yang tidak terhenti, ketika pemerintah Belanda menolak partai Indische Partij (partai yang bertujuan untuk mencapai Indonesia merdeka) untuk mendapatkan status badan hukum.  Beliau kembali ke Indonesia setelah berakhirnya masa penghukuman dan mendirikan Taman Siswa. Taman Siswa didirikan karena adanya ketidakpuasan terhadap system Pendidikan yang ada di masa itu. Waktu itu, Pemerintah Belanda hanya memberikan kesempatan kepada anak bangsawan, konglomerat dan kalangan raja saja untuk bersekolah. Tetapi, berdirinya Taman Siswa memberikan harapan yang baru untuk rakyat kelas menengah dan kebawah. Karena disinilah, mereka dapat mengikuti kegiatan belajar Taman Siswa yang berfokus untuk mengajarkan rasa kebangsaan dan rasa cinta tanah air.

Sosok Teladan Dari Ki Hajar Dewantara

Sekolah ini dianggap menjadi ancaman, karena dianggap menanamkan benih-benih perlawanan terhadap Pemerintah Belanda. Sampai akhirnya, di buatlah sebuah peraturan mengenai Ordonansi Sekolah Liar tahun 1932. Namun, tuntutan Ki Hajar Dewantara berhasil membuat peraturan itu dicabut. Itulah 5 hal yang bisa kita teladani dari sosok Ki Hajar Dewantara. Sebagai generasi penerus Bangsa, sudah seharusnya sikap-sikap tersebut tertanam dalam diri kita, agar kita dapat mewujudkan cita-cita Indonesia merdeka.

Demikianlah tulisan tentang 5+ Hal Yang Bisa di Contoh Oleh Generasi Milenial Dari Sosok Ki Hajar Dewantara, senoga denagan adanya tulisan ini dapat menjadi inspirasi dan teladan bagi segenap pembaca. Adapun penulis artikel ini adalah Clarissa Elizabeth. Terima kasih.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "5+ Hal Yang Bisa di Contoh Oleh Generasi Milenial Dari Sosok Ki Hajar Dewantara"

Posting Komentar