Tan Malaka, Sang Pejuang Bawah Tanah


Faktatokoh.com -Tulisan ini adalah critical review dari buku “ Kisah Tan Malaka Dari Balik Penjara dan Pengasingan“ karya Badruddin. Buku ini mengisahkan bagaimana proses perjalanan kehidupan seorang pejuang revolusioner yang malang-melintang dari tanah airnya ke pengasingan. Buku ini juga menggambarkan pemikiran Tan Malaka menghadapi fenomena sosial yang dijalani dalam hidupnya. Tan Malaka selama ini dikenal sebagai sosok misterius, karena kisahnya cenderung “disembunyikan“, Selama puluhan tahun oleh rezim Orde Baru. Namun semenjak era reformasi, mulai banyak kajian mengenai kisah hidup Tan Malaka yang dipublikasikan.  Banyak yang belum tau tentang sejarah seorang Tan Malaka yang merupakan salah satu pendiri negara Indonesia. berikut ini akan di paparkan tentang Tan Malaka, Sang Pejuang Bawah Tanah;

Tan Malaka Adalah Perintis Negara Indonesia

Tan Malaka adalah seorang pejuang dan perintis berdirinya negara Indonesia terbukti pada tahun 1925, ia telah menerbitkan buku berjudul Naar de Republiek Indonesia (Badruddin, 2014). Tan Malaka sejak muda memang memiliki pemikiran dan analisis yang matang ditambah dengan pembelajaran terhadap jiwa revolusioner membuat dia menjadi pribadi yang tegar. Sepanjang hidupnya ia dedikasikan untuk memperjuangkan nasib rakyat kecil yang tertindas oleh tindakan bangsa Kolonial. Tan Malaka tidak mempermasalahkan meskipun dia harus keluar masuk penjara dan beberapa kali diusir dari tanah airnya sendiri. Tan Malaka tidak ingin membuat kompromi dalam memperjuangkan hak-hak rakyat kecil yang tertindas, baginya harus terwujud kemerdekaan 100 % ( Malaka, 2012 ). 

Tan Malaka Memiliki Konsep Komunis yang Berbeda

Konsepsi Tan Malaka terhadap pemaknaan bagaimana komunisme dijalankan juga sedikit berbeda dengan pemikiran Karl Marx. Tan Malaka mengkontekstualisasikan pemikiran sosialis dengan penyesuaian-penyesuaian yang terjadi di Indonesia waktu itu. Bagi Tan Malaka, sosialisme Indonesia dapat dijalankan dengan cara-cara revolusioner dengan membantu dan mengangkat derajat para petani kecil dan kuli. Tan Malaka juga menekankan pentingnya pkendidikan bagi anak-anak kuli melalui sekolah rakyat ( Badruddin, 2014 ) . Dan hal tersebut pernah dilakukannya dengan membuka sekolah rakyat yang terafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia di Semarang dan Bandung pada era tahun 1921-1922. Namun sayang baru saja program sekolah rakyat tersebut berjalan, Tan Malaka harus “ diusir “ ke luar negeri karena tindakannya yang diduga ikut menyulut pemogokan buruh pegadaian.

Tan Malaka Mengkritisi Konsep Komunis

Tan Malaka juga mengkritisi premis yang ditawarkan Marx tentang inti dari perjuangan proletariat adalah perlawanan buruh industri terhadap kapitalisme. Tan Malaka merevisi pernyataan tersebut dengan menjelaskan bahwa proletar dalam konteks Indonesia bukanlah buruh industri, akan tetapi seluruh rakyat Indonesia yang terjerat oleh kungkungan imperialisme ( Malaka, 1987 ) . Tan Malaka bahkan menolak bahwa Negara Soviet telah mewujudkan komunisme, baginya komunisme hanya terwujud jika kaum borjuis dibasmi atau ikut menjadi pekerja ( Malaka, 1987 ) . Pemikiran Tan Malaka mengenai komunisme yang agak berbeda dengan para perintis konsep komunisme tersebut sangat dipengaruhi oleh pengalaman hidup, latar belakang keluarga, latar belakang pendidikan, serta hal-hal yang dipelajari dalam hidupnya.

Tan Malaka Kukuh Mempertahankan Komunisme

Badruddin dalam bukunya “ Kisah Tan Malaka Dari Balik Penjara dan Pengasingan “ menjelaskan perjalanan kehidupan Tan Malaka yang sangat mempengaruhi perkembangan pola pikir dan tindakan yang diambilnya dalam menghadapi masalah. Dimulai dari perjalanan masa kecilnya di Minangkabau sampai perjuangan di akhir hayatnya yang masih menjadi misteri. Tan Malaka sepanjang hidupnya kukuh mempertahankan pendiriannya terhadap komunisme, meskipun ia juga mempelajari kapitalisme dan demokrasi melalui surat kabar milik temannya Van Der Mij ( Poeze, 2000 ) . 

Pemikiran Tan Malaka yang Menarik Tentang Pembentukan Bangsa

Pemikiran Tan Malaka mengenai pembentukan dan perjuangan bangsa Indonesia terbilang cukup menarik. Tan Malaka sebenarnya ingin menyandingkan ajaran Pan-Islamisme dan komunisme secara berdampingan. Hal ini juga cukup beralasan mengingat latar belakang keluarga Tan Malaka yang berasal dari Minangkabau. Tanah Minangkabau memang terkenal dengan sifat religiusitas penduduknya yang tinggi, sehingga pandangan religius juga masih melekat dalam diri Tan Malaka. Tan Malaka sendiri sewaktu muda adalah seorang penghafal Al-Qur’an, dan dia pernah berkata,” Di depan Tuhan saya seorang muslim “ (Tempo, 2015).

Usaha untuk menyatukan semangat Pan-Islamisme dan Komunisme ini terbukti saat Tan Malaka dihadapkan pada perpecahan antara Sarekat Islam Merah (Komunisme) dan Sarekat Islam Putih (Islamisme). Tan Malaka berusaha memperjuangkan agar SI Merah dan SI Putih tetap bersatu, akan tetapi karena tanggapan yang kurang mengenakan dari pihak SI Putih upaya tersebut gagal. Tan Malaka pada akhirnya tetap berpihak kepada SI Merah.

Namun perjuangannya untuk mendampingkan Pan-Islamisme dan Komunisme tidak berhenti. Pada Kongres Internationile ke-4 di Moscow pada 5 November - 5 Desember 1922, Tan Malaka yang sedang berada di pengasingan mendapatkan kesempatan untuk berbicara di forum. Tan Malaka menegaskan pentingnya perjuangan berdampingan antara Pan-islamisme dan komunisme. Tan Malaka beralasan karena baik Pan-islamisme maupun komunisme sama-sama lahir dari adanya penindasan. Akan tetapi pernyataan tersebut tidak disetujui Komintern, karena tidak disukai ketua delegasi Komintern cabang Asia.

Pemikiran Tan Malaka Tentang Pendidikan

Pemikiran Tan Malaka lain yang menarik adalah berkaitan dengan pentingnya pendidikan rakyat bagi kaum rakyat kecil. Hal ini merupakan berdasar pengalamannya sebagai guru sekolah anak-anak kuli di Deli pada tahun 1919- 1921. Tan Malaka tercengang dengan keadaan wilayah Deli yang sebenarnya adalah daerah kaya karena memiliki banyak pertambangan dan tanah subur, akan tetapi rakyatnya justru menderita ditindas kaum kolonial. Tan Malaka mulai tergerak hatinya untuk memperjuangkan pendidikan para anak kuli tersebut, bahkan ia juga terlibat pertengkaran kala diundang dengan para “ Tuan Besar “. Tan Malaka juga mengkritik tindakan konglomerat Belanda, De Graff, karena bersenang-senang di atas penderitaan. Akibat tindakannya tersebut, Tan Malaka terusir dari Deli.


Sikap Tan Malaka yang menentang keras penindasan dan menginginkan perubahan secara revolusioner juga tak terlepas dari penderitaan yang pernah dialaminya. Sebagaimana ia pernah jatuh sakit menderita pleuritis setelah baru saja tiba di Harleem, Belanda. Tan Malaka tidak mendapatkan perawatan yang baik, ia hanya diperiksa oleh dokter murahan. Tan Malaka tidak memiliki uang untuk membayar biaya dokter yang layak, karena untuk sekolah di Belanda pun ia harus mendapatkan bantuan uang dari gurunya, G.H. Horensma. Di Belanda waktu itu masih menyediakan dokter murahan bagi kaum miskin. Tan Malaka heran dengan keadaan di negeri Belanda kala itu, di mana negeri yang sudah maju akan tetapi memberikan perilaku “ diskriminatif “ terhadap rakyat miskin. Pemikirannya semakin terbentuk setelah Tan Malaka dipindahkan ke kota Bulseem, di sana sangat kontras dengan keadaan Harleem yang banyak orang miskin dan telantar. Di Bulseem yang notabenenya kota bangsawan, Tan Malaka hidup lebih baik sehingga segera pulih dari penyakitnya. Dari pengalamannya tersebut Tan Malaka menjadi belajar bahwa meskipun di negara kapitalis, akan tetapi masih terdapat penindasan. Sehingga dalam diri Tan Malaka mulai terbentuk bahwa untuk menghilangkan penindasan, haruslah dilakukan “ perubahan “.

Pemikiran Tan Malaka yang revolusioneris tersebut mempengaruhi konsepsi Tan Malaka dalam menghasilkan pandangan kemerdekaan 100 %. Tan Malaka kurang bersepakat dengan kawan-kawan seperjuangannya yang kala itu bekerja sama dengan Jepang untuk demi mencapai Indonesia Merdeka. Orang-orang seperti Soekarno, Hatta, Syahrir berpandangan penting untuk mengambil sikap diplomatis terhadap Jepang ( Ricklefs, 2011 ).

Mereka percaya bahwa akan datang orang-orang kate yang akan menguasai Indonesia selama seumur jagung, dimana setelah itu akan mendapatkan kemerdekaan sebagaimana penggambaran Ramalan Jayabaya. Namun Tan Malaka tidak sependapat dengan pandangan kawan-kawannya tersebut. Saat itu Tan Malaka sedang menyamar sebagai Ilyas Husain dan menjadi wakil pemuda dari Banten untuk menghadiri pertemuan para pemuda yang dimotori Sukarni.

Menjelang kemerdekaan Tan Malaka berusaha terus menjalin kontak dengan Sukarni dan B.M. Diah, namun keduanya ternyata sulit ditemui karena sudah dibawah incaran Jepang. Satu hari menjelang kemerdekaan Tan Malaka datang lagi untuk mencari Sukarni, akan tetapi tidak bertemu karena saat itu Sukarni ikut serta membawa Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Akibat kesimpangsiuran tersebut Tan Malaka menjadi tertinggal berita kekalahan Jepang bahkan karena hal tersebut ia menjadi tidak terlibat dalam Proklamasi Kemerdekaan.

Tan Malaka dikenal sebagai sosok yang misterius, bahkan telah dianggap tiada oleh kawan-kawannya. Ia baru membuka penyamarannya pada 22 Agustus 1945 saat berkunjung ke rumah Ahmad Subarjo, lantas semenjak itu Tan Malaka mulai menjalin kontak dengan kawan-kawan lamanya. Tan Malaka sempat ditawari jabatan, namun ia menolak. Bahkan ia berkata kepada Soekarno-Hatta, “ Silahkan anda berdua berjuang di depan, saya bantu dari belakang.” Meskipun tidak terlibat dalam pemerintahan Tan Malaka tetap membantu pembangunan Indonesia dan kukuh dengan konsepsi merdeka 100 %.

Hal tersebut Tan Malaka wujudkan kala tentara Sekutu ingin merebut Indonesia. Tan Malaka menginginkan agar rakyat dan bangsa berjuang sampai penindasan hilang dari Indonesia. Tan Malaka menolak sikap diplomatis yang diambil pemerintah. Tan Malaka menganggap diplomasi sebagai kerugian (Malaka, 2012) . Tan Malaka memperlihatkan kerugian akibat sikap diplomasi tersebut apalagi semenjak Perjanjian Linggarjati.

Dorongan Tan Malaka untuk menolak diplomasi semakin menguat pasca Perjanjian Renville yang dianggap merugikan. Tan Malaka bersama gerakan Persatuan Perjuangan menolak isi Perjanjian Renville, akibat hal itu Kabinet Amir Syarifuddin mendapat mosi tidak percaya. Namun sikap Persatuan Perjuangan yang keras dan menginginkan perlawanan bersenjata terhadap Sekutu, justru dianggap memperkeruh situasi. Para tokoh Persatuan Perjuangan termasuk Tan Malaka, akhirnya ditangkap.

Selepas dari tahanan tahun Mei 1948 Tan Malaka dan Sukarni mendirikan Partai Murba. Tan Malaka beralasan PKI yang ada saat itu sudah tidak relevan dengan perjuangan rakyat tertindas. Apalagi mengingat saat itu PKI dipimpin Muso, sejak kegagalan pemberontakan tahun 1926 memang terjadi perbedaan pendapat antara Tan Malaka dan Muso. Tan Malaka menganggap PKI-nya Muso hanyalah alat politik ( Badruddin, 2014 ) . Apalagi mengingat PKI-nya Muso saat itu bekerja sama dengan Mantan Perdana Menteri Amir Syarifuddin melawan pemerintah.

Ketika meletus peristiwa Madiun pada 18 September 1948, Tan Malaka sempat dianggap terlibat. Namun karena melihat hubungan yang tidak harmonis antara Tan Malaka dan Muso dapat dipastikan Tan Malaka tidak terlibat ( Pooze, 2000 ) . Selepas dari Partai Murba Tan Malaka terus terlibat secara langsung dalam pertempuran melawan NICA dan sekutu, hal ini semakin menguatkan bahwa ia benar-benar menjunjung tinggi Kemerdekaan 100 %.

Namun pemikiran terbesar Tan Malaka dapat dilihat dari tulisannya MADILOG (Materialisme, Dialektika, Logika). Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa Tan Malaka tidak hanya mengikuti konsepsi komunisme yang dirumuskan Marx. Tan Malaka juga mengambil banyak konsepsi filsafat dari Friedrich Nietzsche.

Hal ini karena saat bersekolah di Belanda Tan Malaka sangat gemar membaca buku Filsuf Jerman tersebut. Kegemarannya tersebut juga didorong oleh kekagumannya terhadap Jerman saat Perang Dunia ke-1. Bahkan Tan Malaka sempat mendaftarkan diri sebagai anggota Angkatan Darat Jerman, namun ditolak karena Jerman tidak menerima anggota militer asing. Pemikirannya dalam MADILOG tersebut merubah konsepsi Materialisme Historis Karl Marx menjadi Materialisme Dialektis. Hal ini karena Tan Malaka ingin menerapkan konsepsi komunisme dalam konteks Indonesia saat itu.

Daftar Pustaka

Arif, Masykur. 2013. Tan Malaka ( Pahlawan Besar yang Dilupakan ). Jakarta : Palapa, 2013.
Badruddin. 2014. Kisah Tan Malaka Dari Balik Penjara dan Pengasingan. Yogyakarta : Araska Publisher, 2014.
Malaka, Tan. 2000. Dari Penjara ke Penjara Jilid 1. Jakarta : Teplok Press, 2000.
—. 2012. Gerilya Politik Ekonomi. Yogyakarta : Diandra Pustaka Indonesia, 2012.
—. 1987. Naar de 'Republiek Indonesia'. Jakarta : Yayasan Massa, 1987.
Pooze, Harry A. 2000. Tan Malaka : Pergulatan Menuju Republik 1897-1925. Jakarta : Pustaka Utama Grafiti, 2000.
Ricklefs, M.C. 2011. Sejarah Indonesia Modern. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 2011.
Tempo. 2015. Tan Malaka ( Bapak Republik yang Dilupakan ). Jakarta : KPG ( Kepustakaan Populer Gramedia ), 2015.

Demikian tulisan mengenai Tan Malaka, Sang Pejuang Bawah Tanah yang dapat kita jadikan inspirasi bagi segenap pembaca. Semoga bermanfaat. Penulis artikel ini adalah Anggalih Bayu Muh Kamim.

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Tan Malaka, Sang Pejuang Bawah Tanah"

  1. Menarik. Terutama dalambagian dimana Tan malaka mempunyai keinginan untuk menyelaraskan pan islamisme dan komunisme. Mungkin akan lebih lengkap lagi kalau diberikan sedikit informasi tentang bagaiman titik temu antara pan islamisme dan komunisme sehingga informasi tadi bisa lebih lengkap.

    BalasHapus