Biografi Tuan Manullang: Cerminan Melayani Setulus Hati

FaktaTokoh.Com- Dalam naskah ini saya Yedija Manullang sebagai penulis ingin menulis Biografi dari seorang pahlawan. Tidak banyak yang mengetahui tentang siapa sosok pahlawan yang satu ini yang dimana beliau adalah seorang jurnalis, cendikiawan, pendeta dan pejuang pers nasional, bahkan pahlawan perintis kemerdekaan, dan pelopor Semangat kemandirian gereja di tanah batak.

Namun Sosok pahlawan tidak banyak diketahui oleh banyak masyarakat Indonesia, bahkan nyaris tidak dikenali oleh generasi suku Batak yang dimana kemajuan suku Batak sendiri boleh dibilang pesat dan banyak orang-orang hebat lahir dari tanah Batak itu sendiri.

Hal tersebut yang melatar belakangi saya sebagai penulis tertarik dalam menulis biografi salah satu Pahlawan dari tanah Batak yang dimana tidak banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia terkhusus rakyat batak.

Hal ini dikarenakan kurang banyak sumber yang mengulas sosok beliau, pempublikasian akan biografi, dan semangat perjuanagan dari Beliau, sehingga membuat banyak orang apalagi generasi penerus enggan mencari dan ingin tahu akan sosok pahlawan yang satu ini. Beliau adalah Pdt. Mangihut Mangaradja Hezekiel Manullang.

Mangihut Mangaradja Hezekiel Manullang digelari Tuan Manullang oleh gubernur jenderal kolonial Belanda karena penampilannya yang menyerupai bangsawan Eropa dan bertutur dalam bahasa Inggris.

Biografi Tuan Manullang


Tuan Manullang lahir pada 20 desember 1987 di Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatera Utara dari ayah Singal Daniel Manullang yang pada waktu itu sebagai intilijen pasukan raja Sisingamangaraja XII melawan penjajah Belanda dan ibu Chaterine Aratua br. Sihite.

Pada masa pendidikannya, beliau termasuk orang yang semangat, tekun, tegas, dan mementikan pergaulannya juga sehingga membuat dia termasuk orang yang berpengaruh di dalam kelasnya. Terbukti beliau mampu menggerakkan teman-temannya untuk memprotes dalam bentuk ‘demo’ hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kekristenan yang sudah dipupuk sejak kecil.

Beliau menyelesaikan studi dari Sekolah Raja di Narumonda, Porsea, Tapanuli Utara, tahun 1906. Pada masa itu sekolah bagaikan hal yang sangat mustahil bagi kaum pribumi dikarenakan faktor ekonomi dan fasilitas yang pendidikan yang tidak memadai dan tidak banyak ingin orang yang mau mengeyam pendidikan pada waktu itu.

Tetapi Tuan Manullang membuktikan bahwa ia sungguh-sungguh dalam belajar sehingga ia menyelesaikan studinya dan tidak sampai disitu beliau ilmu yang sudah didapatkan beliau ketika masa pendidikannya dan pengetahuan tentang jurnalisme dan cetak-mencetak. Semua itu beliau aplikasikan untuk membentuk Koran Binsar Sinondang (BSB) bersama sahabatnya.

Ini sangat membanggakan dan menjadi acuan/motivasi untuk pemuda untuk pemuda bangsa pada masa ini dimana beliau mendirikan koran BSB ditengah beliau menamatkan srudinya pada usia 19 tahun.

Pendirian Koran berbahasa batak ini membuat banyak warga batak paradigma berpikirnya terbuka akan penindasan dan keserakahan pemerintah kolonial belanda dan membuat bangsa batak untuk memperjuangkan hak di tanahnya sendiri, dengan kritikan pada pemerintah kolonial Belanda melalui tulisan di dalam koran tersebut.

Tentu koran ini akan merugikan pihak Belanda dikarenakan membuat peluang warga batak untuk melakukan perlawanan terhadap pemerintah kolonial sehingga membuat pemerintah kolonial dan petinggi misi Zending mendesak serta memprovokasi warga batak untuk segera menghentikan penerbitan dari koran Binsar Sinondang Batak (BSB).

Karena kuatnya tekanan dari pihak Belanda membuat koran BSB ditutup. Tragedi inilah yang membuat cikal bakal beliau berlabuh ke negeri Singa (Singapura) untuk menuntut ilmu lebih banyak lagi di Senior Cambridge School pada tahun 1907.

Beliau disana selama tiga tahun dan kembali ke tanah air pada tahun 1910 dan pergi ke tanah jawa untuk memenuhi panggilan dari dalam jiwanya sehingga beliau sukarela untuk misi Methodist yang beraliran lutheran yang dinilainya lebih demokratis.

Beliau membawa serta merta keluarganya ke tanah jawa. Kehidupan sosial dari Tuan Manullang tidak hanya bergaul kemasyarakat yang notabane beragama yang sama dengan beliau yaitu Kristen Protestan saja tetapi juga bersosial dengan Masyarakat yang beragama Islam disana serta pemimpin-pemimpin syarikat Islam disana, H. Agus Salim, HOS Tjokroaminoto, dan Abdul Muis adalah teman beliau dalam berdiskusi dan berbagi ilmu serta pengalaman tersebutlah yang membuatnya semakin matang.

Beliau juga sempat membuka beberapa sekolah didaerah Jawa Barat dan di pinggiran Kota Jakarta. Pada waktu itu beliau diangkat menjadi guru. Pada kesempatan itu beliau menunjukkan sisi nilai kekristenan dan hukum kasih yang sudah diajarkan oleh Yesus, yaitu “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap akal budimu". Selanjutnya, sama dengan hal itu, ialah : "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Menarik memang kalau membicarakan konteks ini, tetapi disinilah Tuan Manullang menerapkan hukum kasih. Menjadi sukarelawan tenaga pendidik dan membuka beberapa sekolah beliau lakukan dengan sepenuh hati tanpa mementingkan status, suku, agama, ras, dan budaya yang berbeda. Dengan sebuah komitmen yang disertakan pada waktu itu, yaitu “Pendidikan untuk semua anak bangsa; semua anak pribumi harus dipintarkan ”.

Lewat perkataan beliau, ini menandakan bahwasannya masih banyak kesenjangan dan tidak adanya keadilan dalam hal pendidikan pada masa itu. Disini beliau menanamkan komitmen tersebut dengan semangat perjuangan supaya nantinya semua anak bangsa tanpa terhalang status, agama, suku, dan perbedaan lainnya bukan menjadi suatu tembok pemisah antara pendidikan dan anak bangsa itu sendiri.

Disinilah kita boleh melihat bahwa Tuan Manullang memegang teguh prinsip Oikumene dan tidak melupakan prinsip Nasionalisme tetapi keduanya berjalan secara seimbang dalam pergerakannya. Kehidupan di tanah Jawa yang beliau lalui yaitu kehidupan melayani, sosial bermasyarakat, serta berpolitik.

Pelayanan dan pengalaman selama di Jawa membuatnya semakin matang sehingga hasrat untuk kembali ke tanah Batak semakin kuat, mengingat bahwa tanah kelahirannya tersebut masih dalam tekanan, intimidasi, dan ketidakadilan dari pemerintah kolonial belanda. Pada tahun 1918 beliau meninggalkan sekolah Methodis dan bersama keluarga kembali ke Tarutung, Tapanuli utara dengan tujuan membuka pola fikir dari masyarakat batak untuk bisa bergerak melawan ketidakadilan dari pemerintah kolonial belanda.

Dalam memulai usahanya tersebut beliau memilih kota Balige sebagai awal perjuangannya. Untuk mencapai tujuan tersebut beliau pada tahun 1918 membentuk Hatopan Kristen Batak (HKB). Gagasan untuk membentuk HKB ini sendiri beliau dapat setelah bersosial dengan pemimpin syarikat-syarikat islam di Pulau Jawa.

Hatopan bisa diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai Perhimpunan. HKB mempunyai semangat dalam bahasa batak yaitu : “Hamajuon bangso Batak dan Panakkohon hakristenon“ yang dimana dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai “ Kemajuan Bangsa Batak dan Membangkitkan Kekristenan dengan semangat inilah HKB mempunyai banyak dukungan termasuk dari orang-orang yang berpengaruh pada masa, seperti Guru Polin Siahaan, Sutan Sumurung Lumbantobing, dan lain-lainnya. Atas dukungan inilah membuat HKB banyak dikenal dan bisa memberikan semangat kepada orang-orang batak yang ada disana untuk maju dan bergerak bersama menuntaskan ketidakadilan kehidupan sosial, ekonomi, politik dan agama dari pemerintah kolonial Belanda.

Ditengah perjuangan rakyat batak, Tuan Manullang dan HKB banyak menuai tekanan dari pihak kolonial Belanda yang merasa dirugikan akan sebuah gerakan tersebut ditambah lagi Tuan Manullang bersama dengan pemimpin gereja setempat mengadakan pertemuan, rapat-rapat besar, kongres untuk mendesak perbaikan kehidupan dan hubungan yang harmonis antar masyarakat setempat dengan pemerintah Belanda.

Ditengah semangat untuk mengharmoniskan hubungan antara rakyat batak dengan pihak Belanda, pihak Belanda yang melalui perantaraan kesultanan-kesultanan ciptaannya di daerah Sumatera Timur, membagi-bagi tanah pribumi kepada perkebunan besar tanpa menghiraukan hak rakyat.

Tanah dinyatakan milik “kesultanan” yang kemudian disewakan kepada Belanda. Pemerintah kolonial itu lalu memberikan konsesi kepada pemodal perkebunan untuk mengolahnya. Sehingga membuat rakyat semakin sengsara.

Tragedi inilah yang cikal bakal lahirnya surat kabar ‘Soera Batak’ sebagai bentuk perlawanan dan ketidaksetujuan terhadap pembagi-bagian tanah tersebut. Banyak tulisan yang sudah dimasukkan dalam Soera Batak yang membuat Belanda semakin geram terhadap Tuan Manullang. Selanjutnya lagi Tuan Manullang tidak sampai disitu tetapi tetap meneruskan tulisan selanjutnya, yaitu konsensi “Pansoer Batu“ yang membuka Paradigma dari pembacanya terutama bangsa Batak. “Pansoer Batu” adalah areal tanah seluas 1.020 bau yang hendak disewakan (erfacht) kepada pengusaha perkebunan Eropa. Namun masyarakat “Pansoer Batu” menolak menyewakan tanah mereka dan tetap menanami tanah tersebut.

Dalam demonstrasi petani yang diorganisir MH Manullang, 7 Juli 1919 terjadi insiden para demonstran perempuan ditempelengi oleh Asisten Residen Ypes. Dalam adat Batak jika perempuan dipukul dimuka umum maka hal itu adalah suatu penghinaan yang sangat besar terhadap bangsa Batak. Sehingga beliau harus harus mengahadapi pengadilan kolonial Belanda di Padang Sidimpuan dikarenakan tulisan-tulisannya dan gugatan terhadap pemukulan demonstran yang membuat ia harus divonis tiga tahun hukuman penjara di pembuangan nusa kambangan.

Tetapi semangat kebangsaan yang beliau kobarkan di depan pengadilan serta semangat anti kolonialisme membuat belaiu memprakarsai Persatuan Tapanuli (1921) dan Persatuan Sumatera (1922). Ini bertahun-tahun sebelum pelaksanaan Sumpah Pemuda tahun 1928. Rakyat memprotes keputusan itu dengan demo dimana-mana dan menulis surat kepada Ratu Helmina, alhasil Tuan Manullang mendapat remisi sebanyak 15 bulan di Cipinang, Jakarta.

Soeara Batak masih sempat terbit di bawah kepemimpinan Soetan Soemoeroeng, pengganti M H Manullang, yang juga dikenal memiliki sikap anti kolonialis Belanda lalu Soetan Soemoeroeng ditangkap lalu divonis penjara karena mengupas kembali kasus Pansoer Batu serta insiden pemukulan wanita batak.

Pada tahun 1924 kembali menerbitkan koran baru bernama Persamaan dan berubah namanya menjadi Pertjatoeran setekah beliau pindah ke daerah sibolga. Melihat penindasan yang semakin menjadi-jadi oleh pemerintah kolonial Belanda membuatnya semakin gigih dalam memperjuangkan apa yang menjadi hak dari bangsa batak.

Bersama saudara seperjuangan yang hatinya melihat penindasan dan ketidakadilan mereka melakukan kongres pada tanggal 17 Februari 1924 di Tarutung dengan nama kongres Persatuan Tapanuli. Kongres ini sendiri bertujuan untuk kembali menghidupkan semboyan dan filsafah dari bangsa batak yaitu Dalihan Natolu.

Dalam semangat ini mengingatkan bangsa batak bersatu dalam melawan dan mengusir penjajah. Dibawah kepemimpinan Tuan Manullang HKB (Hatopan Kristen Batak) terus berjuang dan alhasil HKB berhasil menyadarkan orang Batak, bahwa darah kemerdekaannya harus dipelihara dan diperjuangkan.

Mulai bergerak untuk itu dalam berbagai lini kehidupan termasuk lini kehidupan kegerajaan. Organisai HKB berubah haluan yang dulu masih termasuk organisasi politik tetapi karena cita-cita dari Tuan Manullang sendiri yang ingin supaya ada Gereja yang berdiri sendiri di Tanah Batak yang tidak terikat pada denominasi-denominasi dari gereja manapun termasuk dominasi Eropa.

Akhirnya pada tanggal 1 mei 1927, Tuan Manullang bersama rekan-rekan seperjuangannya mendirikan tiga gereja mandiri di Sumatera, yaitu gereja Huria Cristen Batak/Huria Kristen Batak, Punguan Kristen Batak, dan Mission Batak. Akan tetapi dalam pendeklarasian gereja mandiri tersebut beliau tidak ikut. Meskipun beliau tidak ikut tetapi semangat dan pergerakan ikut dideklarasikan oleh teman-teman seperjuangan yang ikut mendirikan gereja dalam proses pendeklarasian gereja tersebut.

Seiring berjalannya waktu Tuan Manullang pada usia 52 tahun pada tahun 1940 beliau ditabiskan menjadi seorang pendeta setelah mengikuti pendidikan kependetaan dan perannya didalam menuntun Gereja Huria Christen Batak (HChB) yang mampu berdiri atas kehendak Tuhan melalui Tuan Manullang dan rekan-rekan seperjuangannya.

Pada masa penta bisannya, beliau ditempatkan di Siaualompu Tarutung untuk tetap menjaga semangat perjuangan dari Tuan Manullang walaupun dimasa tuannya. Terbukti walaupun sudah tua dan status sudah menjadi pendeta tetapi masih tetap melakukan perlawanan dengan Jepang ketika ingin menduduki Indonesia pada tahun 1940 serta menolak untuk bekerja sama. Akibatnya, Tuan

Manullang dijatuhi hukuman penjara 1,5 tahun pada tahun 1942 sehingga beliau tidak melayani secara penuh di gereja tetapi masih bisa memberikan khotbah pada hari minggu di gereja HCbB dimana ia berada.

Dalam menarik simpatisan dari masyarakat batak ketika keadaan Jepang sangat kritis di Indonesi saat Nagasaki dan Hiroshima di Bom Atom oleh pihak sekutu sehingga beliau dilepaskan kemudian beliau diangkat menjadi Kepada Penerangan Tapanuli tetapi akhirnya Jepang kalah dan sampai proklamasi Kemerdekaan di proklamatorkan oleh Ir.Soekarno.

Beliau menjadi penopang pucuk pimpinan HChB yang dipimpin oleh Pdt. Thomas Josia Sitorus mulai pada tahun 1946 dalam menghadapi perkaranya dengan FP Soetan Maloe yang terus memimpin HChB yang tidak mengakui keputusan sinode HChB di Patane Porsea Seiring berjalannya waktu pada tahun 1950 Gereja HChB berubah menjadi Gereja Huria Kristen Indonesia.

Lalu pada waktu itu juga beliau pindah ke Kota Medan dan berdomisili disana untuk membatu pelayan Gereja HKI dan perkembangan jemaat-jemaat disana. Beliau juga bekerja sebagai patih (bupati) sampai pada umur 70 tahun dan pensiun tepatnya pada tanggal 31 Maret 1957. Walaupun berperan sebagai abdi negara di zaman kemerdekaan, Pdt.

Mangaradja Hezekiel Manullang terpilih juga menjadi anggota Pucuk Pimpinan HKI tahun 1955-1959 dan 1959-1960. Pada tahun 1967 beliau pindah dan menetap di Kota Jakarta dan mendaftarkan diri bersama keluarga di Gereja HKI Pulo Mas Jakarta. Gereja HKI Pulo Mas berdiri sejak tanggal 2 April 1967 dan menjadi Gereja HKI tertua di pulau Jawa.

Beliau juga ikut berperan dalam pelayan walaupun diusia yang senja sehingga ikut menggerakkan berdirinya Gereja HKI Cililitan yang berdiri tanggal 30 Agustus 1970. Pada tanggal 20 April 1979 sang Pahlawan dipanggil Tuhan yang Maha Kuasa setelah beliau menerima perjamuan kudus di rumah sakit PGI Cikini, Jakarta. Pada tanggal 7 Mei 1979 beliau dikebumikan.

Sebelumnya Warga Tapanuli terkhusus jemaat HKI dan Pendeta-pendeta HKI dari Sirura Lindung di Siualuompu datang dan memberi penghormatan atas semua jasa dan pengorbanan beliau dimana beliau sudah banyak berkorban dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai kekristenan dan nilai-nilai nasionalisme.

Dengan semangat dan perlawanan terhadap ketidakadilan dan penindasan melawan penguasa pemerintah kolonial Belanda dan Jepang sehingga tidak sering beliau masuk penjara dan banyak tekanan dari pihak tersebut. Sebelum beliau dikebumikan sesuai adat batak dan liturgis gereja HKI, pada tanggal 2 Oktober 1967 beliau dikukuhkan oleh Pemerintah RI sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan.

Sudah 38 tahun Pdt. Mangihut Mangaradja Hezekiel Manullang berpulang tetapi kasih, semangat juang dan pengabdian yang tinggi akan bangsa Indonesia masih terasa dengan nilai-nilai kekristenan dan nilai-nilai nasionalisme yang tinggi.

Kita sebagai generasi penerus bangsa Indonseia (Pemuda/Mahasiswa), semangat perjuangan inilah yang harus kita pupuk mulai dari sekarang pada diri kita masing-masing sehingga kita dapat mengaplikasikannya kepada sesama dan lingkungan yang nantinya bisa untuk menjaga keutuhan bangsa dan negara tercinta ini yang nantinya melalui semangat ini kita bisa melawan dan memberantas radikalisme, kebodohan, kemiskinan, kesenjangan sosial, dan lain sebagainya yang dapat merusak dan memecah keutuhan, kerukunan dan perjuangan bangsa ini. Kita harus bekerja keras, belajar keras, dan berdoa terus, dan tak lupa kita harus menerapkan hukum kasih terhadap sesama dan lingkungan yang akan nantinya membawa perdamaian di tanah air Indonesia.

Perdamaian inilah yang akan membawa kita pada persatuan Indoneisa dan Keadilan bagi seluuruh rakyat Indonesia. Jayalah Negeriku, Sejahteralah Bangsaku. Tuhan beserta kita. Semoga kita selalu dalam lindungan yang Kuasa, untuk meneruskan perjuangan para pahlawan bukan lagi melawan penjajah tetapi mewujudkan cita-cita Bangsa Indonesia, agar semua satu adanya. Merdeka...!! Merdeka..!!. Merderka..!!

Refrensi tulisan ini bersal dari beberapa karangan buku, diantaranya Castles, Lance. 1972, The Political Lite of A Sumatran Residency. Yale University : USA, dan Hutahuruk, J.R. 1992. Kemandirian Gereja. BPK Gunung Mulia : Jakarta.

Demikianlah tulisan mengenai Biografi Tuan Manullang Cerminan Melayani Setulus Hati. Yang ditulis dan disajikan oleh Yedijha Manullang. Semoga dengan adanya tulisan ini memberikan inspirasi dan teladan bagi segenap pembaca sekalian, trimakasih.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Biografi Tuan Manullang: Cerminan Melayani Setulus Hati"

Posting Komentar